Di negara lain toko pakaian dalam wanita dijaga oleh kaum pria pasti menjadi
satu hal yang sangat aneh.

Tetapi di Arab Saudi - negara yang sangat konservatif dimana wanita dan pria
yang belum menikah, dan tidak ada hubungan darah, dilarang berada di satu
ruangan yang sama - penjualan pakaian dalam wanita benar-benar aneh.

Kaum wanita, yang harus menawar barang yang paling rahasia dengan pria
asing, menyebut situasi itu menyedihkan dan menuntut agar sistem itu diubah.

"Penjualan pakaian dalam di Arab Saudi sangat tidak bisa diterima oleh
penduduk negara modern di manapun," ujar Reem Asaad, dosen keuangan di
Universitas wanita Dar al-Hikma, Jeddah, yang memeimpin kampanye agar kaum
wanita dipekerjakan di toko pakaian dalam untuk mengganti kaum pria.

"Ini menyangkut bagian tubuh wanita yang sensitif," tambah Assad. "Kami
harus bertanya soal ukuran, warna dan pilihan yang menarik. Dan anda tentu
tidak membicarakan hal itu dengan orang yang tidak kenal, apalagi lelaki
tidak dikenal. Saya sendiri pun tidak membicarakan hal ini dengan teman
saya."

Secara teori, sangat mudah membuat kaum wanita bekerja di toko pakaian
dalam, tetapi sebagian masyarakat Arab Saudi masih sangat tradisional dan
tidak menyukai ide kaum wanita bekerja - bahkan untuk menjual pakaian dalam
ke sesama kaumnya.

Rana Jad adalah murid Reem Asaad dan pendukung kampanye itu.

"Para gadis tidak merasa nyaman karena kaum pria menjual pakaian dalam
kepada mereka, memberi tahu ukuran yang cocok dan berkata 'ini terlalu kecil
untuk anda, atau ini terlalu besar'," ujarnya.

"Penjual itu sebenarnya memperhatikan tubuh kita dengan berlebihan. Itu
tidak benar, terutama di sini dalam kebudayaan kami."

Pengalaman memalukan

Nura, seorang pegawai adminstrasi di universitas yang sama, mengatakan tidak
pernah membeli pakaian dalam di Arab Saudi lagi.

"Ini sangat memalukan. Mereka bahkan mengatakan -'ini mungkin lebih cocok
untuk kamu dibanding yang itu' - benar-benar tidak etis."

Sebenarnya bagi kebanyakan penjaga toko pakaian dalam pria itu, pekerjaan
itu sama memalukannya bagi mereka.

Asaad mengatakan para pegawai toko pakaian dalam terpecah antara melakukan
pekerjaan sebagai penjaja dan tidak berperilaku yang mungkin tidak sopan dan
bisa menimbulkan perkara bagi mereka.

"Karena kita tidak ada pilihan mengganti penjual pria dengan penjual wanita.
Saya tidak melihat alasan situasi ini terus terjadi."

Di Arab Saudi, berdasarkan undang-undang pemisahan yang ketat bersentuhan
secara fisik antara pria dan wanita tidak menikah dilarang, sehingga kaum
wanita tidak bisa mendapat ukuran yang pas untuk pakaian dalam mereka.

Lebih buruk lagi, polisi keagamaan Arab Saudi melarang toko pakaian dalam
memiliki kamar pas.

Jadi jika pembeli ingin mencoba pakaian dalam pilihan mereka, satu-satunya
jalan adalah membelinya dan pergi ke wc umum untuk mencoba ukurannya cocok
atau tidak.

Jika tidak pas, dia bisa mengembalikannya, namun kebanyakan kaum wanita
memandang praktek itu sangat memalukan sehingga mereka membeli pakaian itu
untuk dicoba di rumah yang jika tidak cocok tidak bisa dikembalikan.

Frustasi

Kampanye Asaad ini dimulai di situs jaringan sosial Facebook dan secara
bertaham pun meluas.

Bahkan media Arab Saudi yang didominasi kaum pria mulai memperhatikan dengan
penerbitan artikel soal kampanye ini di sejumlah koran.

Yang lebih membuat membuat frustasi adalah sebenarnya karena undang-undang
yang mengatur hal tersebut sudah diterapkan.

Tahun 2006, pemerintah Arab Saudi meloloskan hukum yang mengatur bahwa kaum
wanita bisa bekerja di toko yang menjual barang untuk perempuan, mulai dari
pakaian, aksesoris sampai pakaian dalam.

Namun hukum itu belum diterapkan secara benar.

Tidak ada penjelasan resmi soal ini, namun salah satu penyebab adalah jika
kaum wanita dipekerjakan, akan banyak kaum pria yang kehilangan pekerjaan -
langkah yang tidak popular di negara yang 13 persen kaum prianya menganggur.

Kami sebagai konsumen adalah penentu akhir dalam transaksi ini

Dan juga ada para ulama Arab Saudi yang harus disenangkan hatinya.

Mereka memiliki kekuasaan yan gbesar di negara itu dan masih percaya
lingkungan alami kaum wanita adalah di rumah.

Akibatnya adalah situasi tegang antara mereka yang ingin Arab Saudi menjadi
modern dan lawannya yang ingin mempertahankan tradisi konservatif - dan saat
ini kaum tradisionalislah yang berada di atas angin.

Kini, Asaad dan kampanye itu harus memutuskan untuk melangkahi pemerintah
dan badan-badan ulama dengan langsung menekan toko-toko.

Para pegiat menghimbau aksi boykot terhadap toko pakaian dalam yang
mempekerjakan kaum pria.

"Kami sebagai konsumen adalah pengambil keputusan akhir," ujar Asaad.
"Kamilah yang memutuskan membeli atau tidak memebli, dan ini yang akan
berdampak pada kantung."

Para pegiat kampanye ini menekankan masih menginginkan anggota keluarga pria
bisa masuk ke toko pakaian dalam, tetapi penjualnya harus wanita.

"Konsep itu tidak ada cacatnya," ujar Asaad. "Konsep wanita menjual pakaian
dalam wanita kepada sesama wanita adalah alami dan pilihan lain menjadi
tidak sah."

Kirim email ke