Refleksi: Rugi atau laba adalah pilihan  mereka.  Dua sejoli ini bebas 
bergandengan jalan bersama.  Belum ada aturan seperti di Timur Tengah dimana 
larang  berjalan dengan bergandengan atau perpengang tangan di depan umum bila 
bukan suami isteri.  Jadi silahkan mereka bergandengan dan berpeluk-pelukan.

Bila berbicara tentang kerugian, tentu  yang rugi ialah ialah mereka keliru 
meilih. Selain itu pemilihan umum di NKRI masih didominasi dengan tujuan  
pemakaian hak demokrasi guna memlih wakil-wakil perebutan rejeki. 

http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=62919


Golkar rugi besar bila gandeng PKS

      Tanggal :  27 Feb 2009 
      Sumber :  Harian Terbit 



JAKARTA - Kendati banyak pihak menilai peluang Jusuf Kalla berpasangan dengan 
Hidayat Nurwahid pada ajang pemilihan presiden tahun ini sangat mungkin dan 
memiliki kans sangat besar untuk menang, pengamat politik UI Boni Hargen 
menyatakan sebaliknya. Bagi analis dari Universitas Indonesia itu, jika Partai 
Beringin berkoalisi dengan PKS, yang rugi adalah Golkar sendiri.

Menurut Boni yang dihubungi Harian Terbit di Jakarta, Jumat (27/2), tak mungkin 
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berkoalisi dengan Partai Golkar atau PDI 
Perjuangan pada pemilihan presiden 2009. Soalnya, ungkap Boni, walau kubu PKS 
sudah menyatakan diri sebagai partai terbuka kenyataannya kesan sebagai partai 
berbasiskan Islam militan belum dapat ditinggalkan. 

"Bila PKS berkoalisi dengan Partai Golkar malah kerugian besar buat Partai 
berlambang Pohon Beringin tersebut. Pendukung mengambang Partai Golkar bakal 
lari. Bisa saja mereka menjadi golput atau memilih partai lain yang visi 
misinya hampir bersamaan dengan Partai Golkar seperti Partai Demokrat," tutur 
Boni.

Boni dimintai pendapat sehubungan kedatangan Jusuf Kalla memenuhi undangan PKS, 
Kamis malam. Bahkan ada suara-suara yang menyebut bahwa PKS terang-terangan 
mendukung Kalla sebagai Capres dari Partai Golkar, yang kemudian memunculkan 
wacana duet JK dengan Hidayat Nurwahid (Ketua MPR/ mantan Presiden PKS) 
merupakan pasangan yang bisa memenangkan Pilpres 2009 mengalahkan SBY dan 
Megawati dengan pasangan masing-masing.

Kendati demikian, banyak pihak menilai kedatangan Kalla ke kantor PKS hanya 
sekadar silaturrahmi biasa.

Lalu, pertanyaan yang sa-ngat mengusik kemudian adalah, siapa pasangan capres 
terkuat pada pilpres 2009 mendatang? 

Direktur Eksekutif Lembaga Survay Indo-Barometer, M Qodari, menyatakan sampai 
saat ini masih sulit melakukan perkiraan karena kondisinya masih sangat cair. 
Tapi dilihat dari manuver politik Partai Golkar belakangan ini, partai 
berlambang pohon beringin itu akan mengusung kader sendiri sebagai calon 
presiden. Karena itu sangat mungkin Golkar berkoalisi dengan PKS untuk 
menyandingkan Hidayat Nurwahid dengan Jusuf Kalla.

Dalam mencari koalsi, katanya, Partai Golkar tentu akan mencari partai dengan 
perolehan suara cukup besar dan memiliki mesin politik kuat hingga ke bawah. 

Kehadiran JK memenuhi undangan PKS semalam dapat dipandang sebagai langkah awal 
JK untuk maju sebagai capres pada Pemilu 2009 mendatang. 

Menurut perhitungan Boni Hargen, PKS tak mungkin berkoalisi dengan Golkar, 
apalagi dengan PDI Perjuangan. Bahkan bila memungkinkan, PKS justru cenderung 
akan memunculkan capres dari kadernya sendiri.

Dengan PDI Perjuangan, misalnya, tak mungkin PKS berkoalisi. Sebab, menurut 
Boni, ideologi kedua partai ini berseberangan. "Malah bila itu dilakukan, ini 
namanya 'perkawinan haram'. Baik PKS maupun PDI Perjuangan akan rugi," jelas 
dia. 

Kalau mau berkoalisi dan bisa mendapat suara signifikan, PKS harus memilih 
partai berbasiskan Islam yang sejenis atau paling tidak yang mendekati seperti 
PPP, PBR dan PBB. Kalau partai-partai ini disatukan, perolehan suara akan 
besar. Tapi, yang menjadi persoalan, siapa presiden yang bakal mereka usung. 
Mereka miskin tokoh yang dapat dimajukan sebagai capres, kecuali Hidayat 
Nurwahid atau Yusril Ihza Mahendra.

Bila itu terjadi, kata dia, yang menjadi persoalan sekarang adalah tingkat 
keterpilihan (elektabilitas) bila Hidayat Nurwahid atau Yusril yang menjadi 
capres. "Populeritas keduanya masih jauh di bawah kandidat lainnya. Yang paling 
aman buat PKS adalah mempertahankan atau memperpanjang koalisi yang telah ada 
(dengan SBY/Demokrat-red)," demikian Boni. 

Dari perkembangan hingga kini, menjadi menarik menganalisis, pasangan 
capres-cawapres mana yang akan lebih unggul dalam Pilpres mendatang. Bagaimana 
jika PKS berkoalisi dengan Hanura dengan menyandingkan Hidayat dengan Wiranto? 

Menurut Qodari, memprediksinya masih sulit karena perolehan suara Partai Hanura 
masih sulit diperkirakan. Banyak pihak memprediksi perolehan suara Partai 
Hanura pada pemilu legislatif nanti di bawah perolehan suara Partai Gerindra. 

Lalu, bagaimana peluang pasangan Prabowo-Hidayat? Menurut Qodari bisa saja 
kalau perolehan suara kedua partai memenuhi persyaratan untuk mengajukan capres.

Dari sekian banyak tokoh balon capres ini, Megawati sebagai penantang terkuat 
SBY berpasangan dengan siapa saja yang ingin berkompetisi 'melawan' SBY bisa 
menjadi pasangan kuat, asalkan pasangannya mau pada posisi cawapres. 

Dari analisa tersebut pasangan JK-Hidayat mau pun Mega -Hidayat menjadi 
pasangan sama-sama kuat untuk menantang incumbent SBY pada pilpres mendatang. 
(art/lam

Kirim email ke