http://gatra.com/artikel.php?id=123540

Jakarta, 28 Pebruari 2009 08:58
Aktor senior Deddy Mizwar bersama Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi menyatakan
kesiapannya memimpin bangsa Indonesia ke depan.

Kesiapan keduanya untuk maju ke kancah pemilihan presiden dan wakil presiden
itu disampaikan dalam acara "Refleksi Politik Jenderal Naga Bonar" di Galeri
Cipta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jum`at (27/2). "Selama ini saya tidak
pernah bicara politik. Kalau sekarang saya bicara politik, tentu ada sesuatu
yang mendorong saya. Kenapa? Karena ada yang salah `mengatur` negeri ini,"
ujar Deddy.

Dalam pidatonya yang kerap diwarnai guyon dan celetukan segar itu, Deddy
mengatakan, pemerintahan demi pemerintahan telah berlalu, bahkan masa
reformasi telah sepuluh tahun berjalan, namun masih menyisakan sekitar 40
juta orang yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Pemerintah, lanjutnya, tidak banyak bertindak melayani rakyat dan rakyat
seringkali pasrah menerima keadaan. "Ini pertanda penurunan kualitas budaya
bangsa. Pembangunan tidak menyentuh hal-hal yang fundamental," katanya.

Deddy pun mengkritik ketentuan perundangan yang tidak memberi peluang bagi
calon presiden independen, serta ketentuan parliamentary threshold yang
dikatakannya bakal menghilangkan banyak suara rakyat yang memilih
partai-partai kecil. "Ketentuan mengenai pengajuan capres hanya oleh parpol
atau gabungan itu telah merampok kedaulatan rakyat. Kenapa menghalangi
munculnya pemimpin baru yang memberi harapan kepada rakyat. `Apa kata
dunia?`," katanya.

Meski demikian, Deddy yakin masih ada partai-partai pejuang yang akan
mengusung capres yang memenuhi sejumlah persyaratan, seperti mempunyai
solusi untuk menghentikan keterpurukan, punya paradigma baru tentang sistem
kenegaraan, punya keberanian, punya integritas dan tidak bermasalah. "Kalau
pemimpin bermasalah, jangankan memikirkan rakyat, menyelamatkan diri sendiri
saja repot. Karena itu, Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi dan saya, `Jenderal
Naga Bonar` siap mengembalikan kedaulatan rakyat dengan mengutamakan
rakyat," katanya.

Sementara, dalam pidatonya, Saurip menyebut sistem kenegaraan yang semrawut
karena mencampuradukkan sistem presidensial dengan sistem parlementer.
Saurip juga berpendapat, dalam negara demokrasi seharusnya ada pemisahan
antara negara dan pemerintah. "Ke depan, kita harus meninggalkan sistem yang
semrawut ini. Kita harus menyusun sistem baru berdasarkan ciri bangsa, akal
sehat dan budi luhur," kata penulis buku mengutamakan rakyat itu.

Untuk itu, Saurip mengajak seluruh komponen bangsa untuk duduk bersama
melakukan rekonsiliasi atau islah.

Dalam acara tersebut, tampak hadir pula sejumlah pimpinan partai politik
seperti Partai Buruh, Partai Pemuda Indonesia, dan PPNUI (Partai Persatuan
Nahdlatul Ummah Indonesia).

Sebelumnya, DPP Partai Kebangkitan Bangsa pimpinan Muhaimin Iskandar juga
telah menyebut sejumlah nama yang dianggap layak dicalonkan menjadi
presiden, dan salah satunya adalah Deddy. [EL, Ant]

Kirim email ke