Refleksi: Kalau  di Jawa Barat (Jabar)  dimana terdapat pusat kekuasaan NKRI 
yang penuh kekayaan dan kemegahan jumlah rakyat miskin bertambah, maka 
pertanyaannya bagaimana dengan di tempat-tempat lain nan jauh dari pusat 
kekuasaan dan kemegahan tsb, apakah jumlah angka rakyat miskin menurun?

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/28/kesra05.html

Jumlah Rakyat Miskin di Jabar Bertambah 



Bandung - Jumlah masyarakat miskin di Jawa Barat (Jabar) semakin bertambah, ini 
dibuktikan dengan bertambahnya rumah tangga sasaran (RTS) beras untuk 
masyarakat miskin (raskin) tahun 2009 menjadi 2.931.396 kepala keluarga (KK). 
Padahal, berdasarkan pendataan program perlindungan sosial 2008, jumlah RTS 
yang berhak menerima raskin pada tahun 2009 hanya 2.703.903 KK. 


Data dari Pemprov Jabar, menunjukkan, pada 2008 jumlah RTS yang menerima raskin 
sebanyak 2.905.079 KK. Menanggapi hal ini Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, usai 
memimpin rapat koordinasi dengan Bulog dan jajaran Sekda se-Jabar di Gedung 
Pakuan, Bandung, Jumat (27/2) menjelaskan kepada SH, penambahan alokasi RTS 
raskin ditujukan untuk mengantisipasi terjadinya krisis global di pertengahan 
2009. Dia juga mengakui, dalam menghadapi krisis global, jumlah rakyat miskin 
di Jabar bertambah. 


Untuk itu, jelas Heryawan, alokasi RTS yang ditentukan pemerintah pusat lebih 
besar dari ajuan Pemprov Jabar. Pihaknya berharap, tidak ada penambahan jumlah 
KK miskin di tahun 2009. Heryawan mengakui, distribusi raskin tahun ini sedikit 
terlambat. Keterlambatan itu disebabkan proses teknis pendataan gakin. "Yang 
pasti, bulan depan sudah bisa direalisasikan," tambah dia. 


Menurut Heryawan, distribusi raskin harus dikawal secara ketat. Pihaknya 
mengimbau bupati dan wali kota untuk aktif mengawasi proses distribusi raskin. 
Sementara itu, Kabulog Divre Jabar, Agustin Faried, menjelaskan, masing-masing 
RTS akan mendapat 15 kilogram. Harga raskin yang diberlakukan kepada RTS itu, 
sebut dia, sebesar Rp 1.600 per kilogram. "Distribusi raskin akan dilakukan 
secara ketat," tambah dia.
(saufat endrawan)

Kirim email ke