Refleksi: Kapan ada surevey anak SMP pergi sekolah tanpa makan pagi? Kalau 
mengenai  wanita tidak perawan lantas mau dibikin perwan lagi bisa saja, 
kememajuan ilmu kedokteran telah menungkinkan hal tsb diciptakan!

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/02/sh05.html

62,7 Persen Remaja SMP Tak Perawan   

Oleh
Web Warouw



Jakarta-Otak merupakan organ yang mengolah informasi, apa saja yang bisa 
dilihat dan didengar dari lingkungan. Pornografi yang diterima oleh otak pada 
anak akan merusak otak sehingga menyebabkan gangguan inteligensia. 

Kerusakan otak tersebut dapat dibuktikan dengan kerusakan fisik dan radiologis, 
serta dapat dalam bentuk manifestasi gangguan perilaku.  "Jika gangguan ini 
meluas dalam masyarakat, akan memperburuk kesehatan fisik, mental, sosial, dan 
menghancurkan sendi tatanan masyarakat disertai penurunan kemampuan 
intelegensia secara umum," kata Kepala Pusat Intelegensia Departemen Kesehatan 
Dr Jopisal Janes di Jakarta, Senin (2/3). Menurutnya, pornografi mengubah pola 
perilaku seseorang, apalagi jika disertai dengan kerusakan sel-sel otak akibat 
narkoba. "Informasi pornografi direkam dan diatur oleh otak. Sel-sel otak 
menyimpannya di dalam neurotransmiter dan keluar sebagai intuisi pada 
perilaku," jelasnya.


Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Peningkatan Pemeliharaan Kemampuan 
Intelegensia Kesehatan Dr Adremaeza menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada 
data dan penelitian tentang seberapa banyak anak yang sudah terpapar dan 
terpengaruh oleh pornografi. Yang pasti, seksualitas pada anak akan memengaruhi 
kepolosan otak dan memacu zat-zat tertentu yang akan merangsang intuisi anak 
pada perilaku.


Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan Dr Ratna Rosita juga 
menegaskan bahwa kondisi pendidikan seks pada anak akan ikut memengaruhi anak 
dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menurutnya, pendidikan 
seks di tingkat SMP dan SMA saat ini sudah cukup terbuka, namun perlu 
ditingkatkan lagi, karena industri pornografi lebih canggih daripada pendidikan 
yang didapat di sekolah.Yayasan Kita dan Buah Hati menemukan data pada 1.625 
siswa kelas 4-6 SD di Jabodetabek, sepanjang tahun 2008, bahwa 66 persen dari 
jumlah tersebut menyaksikan pornografi lewat media, yaitu 24 persen komik, 18 
persen melalui games, 16 persen situs porno, 14 persen film, 10 persen VCD dan 
DVD, 8 persen lewat handphone, serta 4,6 persen lewat majalah dan koran. Dari 
jumlah itu, 27 persen melihat karena iseng, 10 persen terbawa oleh teman, 4 
persen takut dibilang kuper (kurang pergaulan).


Ternyata anak-anak ini melihat pornografi sebanyak 36 persen di rumah dan kamar 
pribadi, 12 persen di rumah teman, 18 persen di warnet, 3 persen di rental. 
Ketika ditanya apa perasaan mereka saat melihat materi porno, sebanyak 43 
persen mengaku merasa jijik dan 27 persen mengatakan biasa-biasa saja. Reaksi 
anak-anak sebanyak 7 persen mau muntah, 5 persen takut, dan 4 persen terangsang.


Survei Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di 
Indonesia tahun 2007 menunjukkan, 97 persen pernah menonton film porno, 93,7 
persen pernah berciuman, petting dan oral seks, 62,7 persen remaja SMP tidak 
perawan, dan 21,2 persen remaja SMU pernah aborsi. 
Sementara itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa setiap 
tahunnya, 15 juta remaja mengalami kehamilan dan 60 persen berusaha 
mengakhirinya. "Hal ini wajar karena mereka sudah terpapar pornografi sejak 
balita," ungkap Elly Risman, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati. n

Kirim email ke