Pilihlah Capres Yang Cinta Budaya Indonesia Bukan Arab !!!
                                              
Makin sedikit tersedia capres2 yang nama2nya berasal dan nama2 aseli Indonesia 
seperti Suharto, Sukarno, Sukarni, Dwipa Nusantara, Diponegoro, Muladi, ataupun 
Hamengkubuwono.

Capres2 yang sekarang meskipun aseli orang Indonesia tapi lebih bangga 
menggunakan budaya Arab, mereka berasal dari keluarga aseli Indonesia tetapi 
mencintai budaya Arab padahal lahirnya juga di Indonesia.  Setelah lahir mereka 
memberi nama kepada bayi2 mereka untuk kemudian jadi capres yang terkenal 
dengan nama2 Arab seperti, Abdulrahman Wahid, Muhammad Nurhalid, Jusuf Kala, 
Akbar Tanjung, Taufik Kiemas, Muhammad Habibie, dll.

Budaya itu mencakup banyak hal seperti: agama, bahasa, tari2an, perayaan2, 
pendidikan, makanan/masakan, cara berpakaian, cara berbicara, memberi selamat, 
memberi nama, korupsi bahkan cara2 berpikirpun merupakan budaya.

Demikianlah budaya bangsa Indonesia yang gotong royong sekarang diganti menjadi 
budaya Syariah berupa "Jihad".

Budaya berpakaian kebaya sekarang menjadi pakaian jilbab, abaya, thawb, burqa.  
Budaya korupsi berkembang pesat dengan nama zakat.

Korupsi perdefinisinya adalah penyelewengan dalam accounting, misalnya, dana 
untuk gaji pegawai digunakan untuk menunjang hidupnya pengangguran.  
Demikianlah budaya hidup gotong royong diganti dengan budaya zakat.  Dalam 
zakat dana dikumpulkan dengan wajib (paksa) dan digunakan untuk menunjang 
pengangguran yang disebutnya sebagai orang miskin.

Akibatnya, zakat menciptakan pengangguran dan merusak budaya gotong royong.  
Padahal gotong royong artinya menciptakan lapangan pekerjaan yang bisa 
dikerjakan rame2 untuk mendapatkan nafkah bagi semuanya.

Sebaliknya zakat adalah mengumpulkan dana secara wajib untuk menunjang para 
orang miskin yang tidak punya pekerjaan sehingga menjadi pengangguran yang 
berhak menerima tunjangan tanpa perlu bekerja.  Celakanya, dalam agama Islam 
dan budaya Arab tidak ada ajaran bagaimana caranya membuka lapangan pekerjaan 
dan tidak pernah ada pekerjaan spesifik seperti dalam budaya Indonesia yang 
kerja spesifiknya adalah bertani.

Tapi dalam semua pemilu2 sebelumnya, rakyat Indonesia tidak bersimpati kepada 
budaya Arab, capres yang menonjolkan budaya bangsa Indonesia selalu lebih 
terpilih katimbang capres yang membanggakan budaya Arab.

Namun dengan berbagai akal2an politik bukanlah tidak mungkin para capres yang 
mencintai budaya Arab berhasil mengendalikan pemerintahan ini untuk lebih 
mengakarkan budaya Arab kepada bangsa yang bukan Arab.

Ya....  kita hanya punya dua pilihan, menolak budaya Arab atau mengadopsi 
budaya Arab meskipun tidak mungkin jadi orang Arab.  Pilihan kedua menyebabkan 
kita kehilangan identitas, dan kita kembali korupsi sehingga identitas juga 
dikorupsi sehingga nama "Toto Kumel" menjadi "Taufik Kiemas".

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke