> Hannah Hennaby <hannah_henn...@...> wrote:
> Skenario seperti Bu Mus utarakan sulit untuk
> bisa di praktek kan di Singapura.
> Mau sewa pembunuh bayaran ? Bah, kayak nya
> sulit tuh ? Kalo di Indonesia yakin itu bisa
> dengan mudah di laksanakan. Di kota Singa tsb,
> orang tak terbiasa berpikiran kriminal seperti
> yg bu Mus perkirakan. OK.
> 


Bisa jadi anda benar, tapi kemungkinan tetap harus dibuat untuk menyingkirkan 
hal2 yang dicurigai terutama pihak keluarganya.

Memang, skenario yang saya tulis itu saya susun dari keluhan keluarga seperti 
tidak ada luka iris di lengannya, si David tidak mungkin bunuh diri, sang 
Professor tidak terluka dll.

Naaah....  susahnya, berita2 seperti itu saya baca dari berita2 di Indonesia 
yang berbahasa Indonesia yang kelihatannya memang tidak puas dengan berita2 
yang direlease diluar negeri.  Bahkan polisi RI maupun Kedubes RI juga menambah 
dorongan kepada keluarga David untuk mencurigai kejadian ini yang katanya tidak 
ada saksinya.

Namun memang kalo baca dari berita2 pihak NTU, apa yang diberitakan di 
Indonesia jadi sama sekali terbalik.  Secara netral saya merasa berita2 dari 
NTU lebih realistis apa adanya.

Misalnya, berita2 teman dan keluarga David itu menyatakan tidak ada saksi 
kejadian ini selain si Professor itu sendiri.  Tetapi kalo kita baca berita 
dari NTU, ternyata ada dua orang saksi yang menyaksikan sewaktu si David lari 
keluar dari ruangan professor menuju ke jembatan penghubung gedung ke 
Departement lainnya.  Ternyata si David tidak melompat melainkan duduk di roof 
atau atap gedung sambil termenung dengan muka kosong.  Kebetulan ada plumber 
atau tukang perbaiki pipa2 saluran air yang melihat si David duduk anteng di 
atap itu.  Si plumber ini mengerti bahwa duduk diatap itu berbahaya karena si 
David bisa jatuh.  Oleh si Plumber, si David dipanggil agar turun karena bahaya 
duduk disana.  Si David cuma menengok dengan muka kosong tanpa expressi.  Si 
Plumber berusaha membujuk, tetapi si David diam saja acuh tak acuh.  Barulah 
belakangan ada seorang gadis yang kenal si David, kemudian si gadis ini 
memanggil David, ditanyakan sedang ngapain duduk disana?  Katimbang 
menjawabnya, katanya si David malah melompat dan mati, gadis itu shock karena 
ngeri mengingat kejadian ini.

Persoalan tentunya jadi berubah karena ada dua saksi yang meyakinkan yang tidak 
mungkin direkayasa, apalagi kedua saksi ini sama sekali tidak mengenal 
Professor yang ditemui oleh si David.

Jadi kalo mau menimbang berita resmi dari NTU ini, maka saya bisa meyakini 
bahwa si David itu mengalami gangguan mental, dan gangguan mental ini belum 
tentu disebabkan angka2nya yang jatuh.  Justru angka2 yang jatuh inilah 
pertanda si David mengalami gangguan mental yang serius yang tidak terdeteksi 
sebelumnya.

Ada beberapa kawan David yang bilang si David adalah extrovert.  Penderita 
Depressi maupun penderita hallucinasi umumnya introvert bukan extrovert.

Namun ternyata mahasiswa2 Indonesia yang tinggal disebelah kamar si David tidak 
ada yang mengenal dan pernah ngobrol dengan si David meskipun sudah tinggal 
disana selama 3 tahun....  ini artinya kepribadian si David bisa dipastikan 
adalah introvert yang cocok dengan kepribadian yang rapun yang mudah depressi.

Kalopun masih mau mencurigai kejadian ini, maka hasil periksa darah si David 
haruslah bisa menyisihkan adanya penggunaan obat2 halucinogen oleh si David.  
Gejala2 si David mengalami depressi dan kemunginan hallucination juga bisa 
dilihat bahwa dia sering semalaman tidak tidur, bergadang sendirian, dan 
jangan2 juga sering ngomong sendirian.

Sedangkan adanya Zhou yang gantung diri, kemungkinannya bisa tak ada kaitannya 
karena ternyata si David sama sekali tidak kenal Zhou.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke