Apa Sebenarnya Tujuan Akhir FPI dan Kaum Islamis Lainnya?



Mungkin saja, Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab adalah korban permainan
politik. Dengan ideologi puritannya terkadang bisa saja dia dan para
asistennya menjadi naif dan ekstra lugu. Kalau kita lebih jeli melihat
aksi-aksi politik FPI, tentu kita bisa menarik dari arah mana sumber
dukungan ke FPI ini berasal.
Kalau
saya tidak salah, FPI (dengan Laskar Pembela Islam nya) pertama kali
muncul dalam demo tanggal 17 Agustus 1998. Mereka menentang semua
elemen-elemen aksi yang menolak Habibie menjadi presiden. 
Pada
Bulan Agustus 1999, FPI/LPI melakukan demo ke MPR. Mereka mendukung
pemilihan kembali Habibie menjadi presiden, dan menolak Megawati
Soekarnoputri menjadi kandidat presiden dengan alasan "menurut Islam,
haram hukumnya kalau perempuan menjadi presiden. 
Pada kesempatan
lain FPI/LPI menyerang Komnas HAM yang sedang melakukan investigasi
beberapa jenderal (termasuk Menteri Pertahanan Wiranto, waktu itu) yang
diduga melakukan pelanggaran HAM berat di Timor Timur. Menurut FPI/LPI,
Komnas HAM tidak membela umat Islam (yaitu para jenderal yang muslim)
tapi membela orang Timor Timur yang Nasrani. 
Disini saya lebih
tertarik untuk melihat ke tataran ideologis yang menggerakkan FPI dan
para simpatisannya yang mayoritas berideologi Islamis dan
Neo-fundamentalis.

***

Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis
menyerukan rekonstruksi sosial dan moralitas dengan berdasarkan pada
seruan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis. Mereka ingin menemukan
kembali ajaran Islam tanpa ada deviasi historis, dan distorsi yang
berasal dari nalar, sambil menyingkirkan segala tradisi budaya juga
adat istiadat lokal yang menempel di ajaran Islam. Mereka ingin
memisahkan diri dari islam tradisional yang telah mewujudkan dirinya
selama 1400 tahun akumulasi tradisi pemikiran dalam kitab-kitab
khazanah klasik dan kultur tradisional masyarakat-masyarakat Muslim.
Akumulasi ilmu-ilmu islam ini dianggap sebagai penghambat jalan ke arah
pemurnian Islam, jalan kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis. 
Mereka
menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman dan pada
saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang dibayangkan murni,
masa lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda dari realitas
sejarahnya, masa lalu yang steril dari segala "tahyul, bid’ah dan
khurafat" yang tidak hanya berbentuk ziarah kubur waliyullah,
penghargaan adat-istiadat lokal, tetapi termasuk juga tradisi
fiqih-ushul fiqih madzhab, ilmu kalam, filsafat Islam, dan tentu saja
tasawuf-thariqat.


***

Ketua FPI, Muhammad Rizieq
Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, dan bukanlah penganjur Wahabi
tulen, tampaknya telah mengadopsi mentalitas Wahabisme Saudi dari
tempat ia belajar: LIPIA (sekarang ada di Warung Buncit, di depan
Kantor Harian Republika) dan Universitas Ibnu Su’ud di Riyadh. Jika
kolega-kolega Wahabinya mengambil bentuk permusuhan terhadap
musuh-musuh alamiah Wahabi, maka Rizieq Shihab menampilkan model Islam
konfrontatifnya terhadap apa yang ia pandang maksiat atau kesesatan.

FPI
(dan kelompok islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti HTI, MMI,
dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es
fundamentalisme Islam yang bagian terbesarnya di bawah air menjangkau
ke ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi di
Nejd pada abad ke 18, dan persilangannya dengan gerakan salafi modernis
Islam. Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) memutuskan untuk
memisahkan diri dari Kekhalifahan Turki Usmani dan mendirikan negara
sendiri di Arabia Tengah dan wilayah Teluk Persia. Kembali kepada
Al-Qur’an dan Hadis adalah kredonya, sekaligus membuang semua
fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad pertengahan. Ibn
Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani adalah kafir,
kerena mereka telah murtad dari Islam.

***

Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini melakukan aksinya 
dengan dua fokus kerja besar:

1.
Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam
tradisional ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid’ah, dan
khurafat. Ini terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah, kesenian
tradisional, praktik sufisme populis, adat istiadat lokal yang telah
membaur dengan ekspresi Islam populis seperti perayaan maulid, dsb.
2.
Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran kultur
Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam 4 pilar
tradisi intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih Madzhab,
Tasawuf-Thariqat, Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy’ariyah-Maturidiyah)

Wahabi
inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di seluruh dunia
setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo-fundamentalis
Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami convert atau
“pemurtadan”, dari Islam tradisional lalu dibrainwashed oleh
lembaga-lembaga Pendidikan Islam Wahabi di Saudi Arabia atau filialnya
(seperti LIPIA di Warung Buncit Jakarta) menjadi Wahabi yang kaffah
atau minimal memiliki mentalitas Wahabi.
Di antara pemula ormas
Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi yang beragenda Wahabisme
adalah DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), dari lembaga inilah pada
tahun 80-an kita mulai mendengar adanya kristenisasi di Indonesia,
bersamaan dengan eksploitasi permusuhan dan kebencian kepada kelompok
Nasrani di Indonesia. Dari Majalah Media Dakwah terbitan DDII inilah
semangat kebencian dan permusuhan kepada kelompok yang berbeda dengan
mereka mulai disemai dengan baik, dengan bantuan uang Saudi Wahabi. 

***

Gerakan
modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad
‘Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20 adalah satu
gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita baik, tetapi
pada akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas dalam Islam Sunni.
ini adalah efek samping dari gerakan reformis-modernis, penganjuran
ijtihad sebagai bentuk pembebasan diri dari madzhab-madzhab, dan
kembali ke Al-Qur’an dan Hadis. Gerakan Salafi tiga besar ulama
modernis ini akhirnya hanya membesar di sisi kanan, yang melahirkan
tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al-Banna, Abul A’la al-Maududi,
Quthub, Sa’id Hawwa, Mustafa As-Siba’i, lalu bercampur baur dengan
gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang seperti Osama bin
Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al-Banna dan Quthub,
gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam Ikhwanul
Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui
pengajian-pengajian Usrah kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi
partai politik PKS.

Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan
Muhammad ‘Abduh ini adalah gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut
saya adalah ahli waris paling absah dari gerakan pembaruan Islam dari
garis Muhammad 'Abduh) yang diwakili oleh almarhum Nurcholish Madjid,
Dawam Rahardjo, dan Dr. M. Syafi’i Anwar (salah satu korban insiden 1
juni 08 di Monas) di Indonesia. Sementara di Timur Tengah dan India
diwakili oleh Muhammad Khalafallah, Amin Al-Khuli, Sayyid Mahmud
Al-Qimny, Muhammad Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, Nashr Hamid
Abu Zaid, dan Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga dibombardir
dengan tuduhan sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan “saudara
kandung”nya di sisi kanan Salafi. 

***
Kalau kita mengikuti
alur berfikir kelompok islamis dan neo-fundamentalis yang memandang
Ahmadiyah sesat, maka dimana pola fikir penyesatan ini akan berakhir?
Ini akan berakhir dalam konflik horizontal ketika satu kelompok
mengklaim mereka adalah pengikut Qur’an-Sunnah yang sebenarnya (dalam
versi Wahabi-Salafi, karena dua kelompok inilah yang mengeksploitasi
pendekatan harfiyah terhadap Qur’an-Sunnah dan selalu berkata “di dalam
Islam..”, “menurut Islam....”, “Islam berkata...” sehingga siapa pun
yang berbeda pendapat dengan mereka menjadi otomatis berada di luar
Islam), sementara yang lainnya adalah kelompok sesat atau minimal
bid’ah. 

Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi
Arabia yang dikeluarkan pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh
al-Lajnah al-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’ dinyatakan
bahwa Syaikh Sayyid ‘Abdul Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah
yang diamalkan oleh banyak ulama Nahdlatul ‘Ulama dan juga ulama Islam
tradisionalis lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan) dan
Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama reformer di India) adalah kafir dan
musyrik. 

Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir
Al-Qur’an) yang juga dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn
Abdul Wahhab) sendiri antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat
606H/1210M), Abu Sa’id al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan
al-Gharnati (wafat 745H/1344M), al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad
al-Balkhi (wafat 830H/1426M), Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M),
Abu Sa’ud al-‘Imadi (w. 982H/1574M), dan masih banyak lagi. 

Dalam
logika berfikir penyesatan kelompok lain ini, maka pada akhirnya
kelompok sesat dan bid’ah ini tidak hanya Ahmadiyah (perlu diingat
bahwa ada tidaknya nabi yang tidak membawa risalah setelah Nabi
Muhammad adalah problem khilafiyah dalam filsafat Islam, dan Tasawuf
falsafi. Tidak lebih parah dari problem khilafiyah dalam filsafat Islam
tentang Tuhan hanya mengetahui yang partikular seperti dikatakan Ibnu
Rusyd, dan Tuhan mengetahui segala-galanya seperti yang dikatakan
Al-Ghazali, atau perkataan Ana al-Haqq oleh Al-Hallaj, dan para Wali
itu lebih utama dari pada para Nabi seperti yang dikatakan oleh Ibnu
‘Arabi), tetapi terentang mulai dari Islam Syi’ah; pengikut
thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan sholawat beraneka macam;
ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke kuburan waliyullah,
dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis Jaringan Islam Liberal;
pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan gagasan-gagasan rasional
filsafat barat ke dalam kajian Islam; ulama fiqih madzhab (dengan nalar
ushul fiqih tradisionalnya) yang mencoba mengkritik gagasan kaum
fundamentalis yang selalu berkata “menurut Islam..”; cendekiawan Islam
Sunni yang mengadopsi pemikiran Abdul Karim Soroush dan Mohsen Kadivar
yang Syi’i, aktivis religius sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi
dengan reiki, kundalini dan yoga; ...... saya yang menulis artikel ini
dan juga Anda yang menyetujui. 

***

Sebelum dikuasai
aliansi klan Sa’ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah adalah lokus intelektual
dan spiritual Islam paling kaya. Semua representasi Madzhab Fiqih ada
di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Syi’ah Jakfari,
Zhahiri dan cabang-cabang di bawahnya menyambut para jamaahnya
masing-masing di setiap musim haji. Seluruh Thariqat sufi juga memiliki
mursyidnya di Mekkah – Madinah. Qadiriyah, Rifa’iyyah, Naqsyabandiyah,
Syadziliyah, Syistiyyah, Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah
yang mu’tabarah hingga yang ghairu ma’tabarah. Sekarang ini semua
tinggal kenangan.

Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki
keterikatan dengan akumulasi khazanah tradisi pemikiran Islam
sebenarnya mirip dengan kaum intelektual Barat yang memiliki
keterikatan dengan tradisi pemikiran masa lalu Barat, keterikatan yang
malah lebih dalam, koheren, dan integral. Kita bisa melihat dalam
tradisi filsafat Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene Descartes,
David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf
eksistensialis, adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut.
Kitab-kitab filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah
teknis masih dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah
ditransformasikan. Hal ini tidak berbeda dengan para ulama fiqih
tradisionalis yang lebih dahulu membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj
karangan Ibnu Hajar al-Haitami, kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab
Ushul Fiqih Al-Mushtasfa karangan Al-Ghazali untuk menjawab masalah
kontemporer, ketimbang mencomot satu dua ayat Al-Qur’an, plus hadis,
lalu berkata “... menurut Islam, ....” dengan semangat kembali kepada
Al-Qur’an dan Hadis seperti yang kerap dilakukan kaum Neo-fundamentalis
dan Islamis.

Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz.
Sejak tahun 1925 para ulama Madzhab Syafi’i dilarang mengimami shalat
di Masjidil Haram di Makkah. Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki.
Seorang ulama besar Madzhab Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga
dilarang memberi khutbah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di
Madinah. Padahal lebih dari 1000 tahun secara turun temurun para ulama
madzhab Maliki menjadi identik dengan Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al
Maliki dituduh oleh Wahabi sebagai seorang sufi, sesat dan murtad.
Apalagi Madzhab Syi’ah, di bawah penguasa Wahabi Saudi mereka mengalami
penghancuran karakter secara sistematis. Thariqat-thariqat Shufi?
Mereka semua dianggap sesat, kafir, dan murtad. Yang berhak menyandang
nama Islam hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan Ibnu Taimiyah? Itu
boleh, sebatas masih terakomodasi dalam batas-batas akidah Wahabi.
Kitab Majmu’ Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah mengalami
penyuntingan agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab yang tidak
sesuai dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan kitab itu
di Saudi Arabia.

Pola inilah yang telah dan sedang diekspor oleh
Wahabi-Salafi (Neo Fundamentalis-Islamis) melalui agen-agennya ke
seluruh dunia. 

Masihkah kita berdiri menjadi makmum di
belakang kelompok ini sambil menuding Ahmadiyah sesat, lalu setelah itu
kelompok B, C, juga dituding sesat lalu kita sendiri juga dihadapkan
pada dua pilihan menjadi Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat...

Wallahu A’lam bishshawab.

Sayed Mahdi


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke