Judul tulisan Sdr. Koentyo Soekadar yang saya yakin orang Indonesia, bukan 
sesuatu yang luar biasa karena di antara anak bangsa ini banyak yang senang 
mencaci-maki pemimpin atau bekas pemimpin bangsanya sendiri. 
 
Kebiasaan itu tidak kita temukan di bangsa yang besar, bangsa yang beradab 
karena rakyatnya sudah beradab atau memiliki pandangan hidup yang baik. Orang 
Jerman menceritakan Hitler apa adanya tanpa caci maki dan tanpa pembelaan, 
Hitler sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa Jerman sehingga perlu diajarkan 
di sekolah-sekolah tanpa mencaci-maki atau menghinanya. Bill Clinton yang 
pernah dihebohkan karena aktivitas seksualnya, hingga sekarang tetap dihormati 
oleh orang Amerika bahkan istrinya sekarang menjabat sebagai Menlu.
 
Bangsa yang besar menempatkan orang yang telah bejasa bagi kelangsungan hidup 
bangsanya dengan hormat. Apa pun yang pernah dilakukan bekas sang pemimpin 
keberadaannya dalam sejarah bangsa itu tidak bisa dihapus dan karena kepada 
anak cucu tentang harus diajarkan perjalanan sejarah bangsanya maka mau tidak 
mau apa yang dilakukan bekas pemimpin itu juga harus diajarakan dan untuk 
membangkitkan rasa bangga pada anak cucu orang cenderung menceritakan yang 
baik-baik bukan menutupi yang buruk tetapi lebih menonjolkan jasanya.
 
Demikian juga anak yang baik tidak akan membeberkan apa yang dilakukan ayahnya 
walaupun banyak hal buruk yang dilakukan ayahnya, karena dia tahu jika ayah 
sendiri dijelek-jelekan di muka umum dia sendiri yang akan menanggung malu, 
orang akan mengatakan anak tidak akan jauh dari bapaknya. Saya rasa tidak ada 
orang waras yang berpikir akan menghapus keberadaan ayahnya dalam sejarah 
hidupnya karena hal itu tidak mungkin dilakukan. Dan anak juga tidak bisa 
mengatakan kalau saja saya jadi anak SBY maka nasib saya akan lebih bahagia. 
Biar dia anak pemulung ya harus menerima dan harus tetap menghormati orang 
tuanya, itulah ajaran yang benar.
 
Menempatkan bekas pemimpin dengan terhormat adalah perbuatan yang wajar tetapi 
ada bangsa yang malah berlebihan, berupaya mengangkat harkat bangsanya di mata 
dunia dengan cara mencari cerita pembenaran atas tindakan buruk yang dilakukan 
tokoh bangsanya, memanipulasi sejarah agar tokoh bangsanya tampak menjadi lebih 
baik.
 
Lenin adalah salah satu contoh di mana cerita kehebatannya ditulis lebih dari 
keadaan sebenarnya bukan hanya agar diidolakan oleh orang Rusia tetapi juga 
agar dikagumi di seluruh dunia demi keuntungan bangsa Rusia. Muhammad adalah 
contoh yang lebih ekstrim. Perampokan terhadap orang sebangsanya diceritakan 
oleh bangsa Arab sebagai perintah Awloh memerangi orang kafir, mengawini banyak 
perempuan hingga 11 orang diceritakan sebagai perbuatan baik menampung janda 
perang. Cerita Kabah yang dibangun semasa Arab Kuno tidak ada lagi dalam 
sejarah Saudi Arabia karena jika ditulis dengan benar akan bertentangan dengan 
isi al-Quran yang menurut Muhammad berisi kata-kata Awloh dan di dalam al-Quran 
Muhammad menyebutkan Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim, tokoh Yahudi yang hidup 
sekitar 2000 tahun sebelum Masehi di mana waktu itu belum ada orang yang hidup 
di Padang Pasir Arabia. Dengan sengaja bangsa Arab menulis sejarah Kabah 
disesuaikan dengan al-Quran demi
 kepentingan bangsa Arab tentunya.
 
Anehnya kebanyakan orang Indonesia yang senang mencaci-maki Sukarno atau 
Suharto, mengagumi Muhammad melebihi kenyataan yang ada, bahkan menyembahnya 
sebagai Nabi. Dan tampaknya kebiasaan menjelek-jelekan Sukarno atau Suharto 
tidak banyak dilakukan oleh orang yang tidak menyembah Muhammad sebagai nabi 
karena mungkin mereka diajarkan untuk memaafkan sesama manusia apa lagi orang 
yang sudah meninggal.
 
Jadi kalau kita mau menjadi bangsa yang besar yang harus dilakukan sangat 
jelas, STOP MENGHUJAT PEMIMPIN SENDIRI APALAGI YANG SUDAH MENINGGAL. Bagaimana 
kita mengharapkan menjadi bangsa yang dihormati bangsa lain kalau di dalam 
tubuh bangsa kita sendiri ada atau banyak yang tidak mau menghormati bangsa 
sendri. Kita tidak perlu meniru apa yang dilakukan Muhammad yang menghina 
bangsanya sendiri, leluhurnya sendiri, yaitu suku Quraisy sebagai penyembah 
berhala.
 
Salam Damai
 
 
--- In nasional-l...@yahoogroups.com, koentyo soekadar <koen...@...> wrote:
> 
> 
> Hari ini, tanggal 11 Maret, hari yang diresmikan oleh Soeharto sebagai hari 
> peresmian coup d'etat oleh Soeharto terhadap Pemerintahan Resmi Soekarno 
> melalui apa yang dikenal dengan nama surat supersemar. Dengan surat yang 
> tidak pernah jelas keberadaannya ini, yang jelas-jelas rekayasa dari Soeharto 
> untuk melegalisasi coup d'etat-nya, mulailah jaman kelam sejarah Indonesia 
> secara resmi.
> 
> Oleh karena itu marilah kita bersama-sama mengheningkan cipta untuk 
> saudara-saudara kita yang telah menjadi korban rezim dikmilfas Soeharto, yang 
> secara langsung, yaitu 3 juta korban pembunuhan rezim tersebut, ditambah 
> dengan seluruh Rakyat Indonesia dikurangi dengan beberapa gelintir manusia 
> antek-antek dan kroni Soeharto.
> 
> Apakah jaman kelam ini akan kita tolerir kelanjutannya?
> 
>  
> 
> MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA .......... !!!!!
> 
>  
> 
> KS
 


      

Kirim email ke