Kembara 1

 

Sepintas Jumpa Centhini (Kekasih Yang Tersembunyi) dan
Balthasar’s Odyessey (Nama Tuhan Yang Keseratus)

 

“Istambul! Istambul! Bagi mereka yang bermata akan sulit
mengatakan betapa dunia ini tak memiliki apa pun yang bisa dipertontonkan.
Meski hal itu benar adanya, percayalah padaku. Jika kau ingin mengetahui dunia
ini, yang kaubutuhkan hanyalah mendengarkan. Yang dilihat orang ketika mereka
bepergian tak lebih dari sebuah ilusi. Bayangan mengejar bayangan lain.
Jalan-jalan dan negeri-negeri tak mengajarkan apa pun yang tak kita ketahui
sebelumnya, tiada yang tak bisa kita dengar dalam diri kita sendiri di kedamaian
malam.”



pesan Abdel-Bassit, lelaki saleh yang buta sejak lahir kepada Balthasar ketika
telah memutuskan untuk memulai kembaranya ke Istambul untuk menemukan kembali
kitab Nama Tuhan Yang Keseratus (Serambi 2006)



Melihat, mendengar, mengecap, mencium, merasa...... sight, hearing, taste,
smell, touch 



Lelaki saleh ini, berbicara tentang mendengar dan melihat…. Apakah soal ini
bisa diperbandingkan, karena lelaki ini bicara tentang melihat keluar dan
mendengar kedalam . Dua soal dengan jurusan yang tidak sama. Selain itu
mendengar yang dimaksudkan lelaki saleh ini agaknya simbolis, dan melihat
adalah gejala fisik sekaligus psikis. Tapi bukan itu soalnya…..



Selanjutnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/03/kembara-1.html

 

 

Kembara 2

 

Sepintas Menyusuri Perjalanan Spiritual (MAW Brouwer) dan Lorong-lorong
Dunia (Sigit Susanto)

 

Kubaca di pengantar yang ditulis st sularto, dalam kenangan myra, brouwer ini 
adalah
sosok yang problematis. Kata-kata kunci filsuf jerman martin heidegger yang
dikaguminya selain tokoh fenomemenologi lainnya Marleau Ponti ‘kematian sebagai
tujuan hidup’ seolah-olah menghantuinya, begitu disebutkan. Kepada
sahabat-sahabatnya ia sering mengatakan : “saya paling takut dengan kematian”.
Aku kutip lagi dari st sularto ‘ternyata brouwer tidak mampu sendirian
mengatasi persoalan dengan badannya yang didera sakit sejak kecil (asma) sampai
akhir hidupnya. Pada beberapa tahun sebelum kematiannya, dia merasa
dikejar-kejar oleh sakitnya, dia merasa ditinggalkan banyak orang.”

 

Tentang ini saya teringat Pram pada Novelnya Bukan Pasar
Malam

 

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir
di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang.... seperti dunia dalam pasar
malam...Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi" 





selanjutnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/03/kembara-2.html




      

Kirim email ke