“Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat”

(Mi 7:14-15.18-20;
Luk 15:1-3.11-32)

 

“Para pemungut
cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan
Dia.Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya:
"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan
mereka."Lalu Ia mengatakan
perumpamaan ini kepada mereka:…..Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau
masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab
ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor
anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.Tetapi baru saja datang
anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan
pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.Kata
ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala
kepunyaanku adalah kepunyaanmu.Kita patut bersukacita dan bergembira karena
adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat
kembali” (Luk 15:1-3.28-32), demikian
kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·  
Dalam perumpamaan
yang disampaikan oleh Yesus dalam Warta Gembira hari ini ada tiga tokoh, yaitu
bapa yang baik, anak sulung(yang mengakui diri baik)  dan anak bungsu (yang 
berdosa), yang tidak
lain menggambarkan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, orang-orang
Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sombong dan manusia pendosa yang bertobat.
Maka kiranya kita dapat menempatkan diri sebagai orang Farisi atau ahli Taurat
yang bersungut-sungut dan sombong atau pendosa yang bertobat. Rasanya cukup
banyak di antara kita, seperti orang Farisi atau ahli Taurat , yang
bersungut-sungut atau menggerutu ketika ada orang yang berbuat baik kepada
sesamanya, yang memang sungguh membutuhkan bantuan atau belas kasih. Kita
sering cenderung memandang diri kita sebagai yang terbaik serta dengan mudah
melecehkan orang lain. Atau mungkinkah kita seperti ‘anak bungsu’, pendosa yang
telah berfoya-foya antara lain berjudi dan pergi ke tempat pelacuran, sehingga
kita tidak memiliki apa-apa lagi, menderita dalam berbagai hal. Jika kita
memang sungguh berdosa marilah dengan rendah hati mohon kasih pengampunan
sebagaimana telah dilakukan oleh ‘si bungsu’ : “Bapa, aku telah berdosa 
terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak
layak lagi disebutkan anak bapa” . Tuhan Allah adalah Bapa yang Maha
Pengasih dan Pengampun, maka hendaknya jangan takut untuk mohon kasih
pengampunan sekiranya kita berdosa. 
Tentu saja selain mohon pengampunan Tuhan kita juga harus mohon
pengampunan kepada mereka yang telah kita kecewakan dan sakiti karena dosa-dosa
kita. Dengan kata lain jika kita semua berdosa, marilah kita saling mengampuni,
sebagaimana sering kita doakan ketika mendoakan ‘Bapa Kami” : “Ampunilah kami 
seperti kamipun mengampuni
mereka yang bersalah kepada kami”

·  
“Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa,
dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak
bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih
setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan
kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (Mi 7:18-19).
Kutipan ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita dalam mawas diri di masa
Prapaskah ini. Tuhan Allah senantiasa akan memaafkan atau mengampuni dosa-dosa
kita jika kita dengan rendah hati menghadapNya untuk mengaku dosa, dan dalam
tradisi Gereja Katolik hal ini dapat kita lakukan dengan menerima Sakramen
Pengampunan di kamar pengakuan  dan di
hadapan seorang imam. Tentu saja setelah kita diampuni kemudian dipanggil untuk
meneruskan kasih pengampunan tersebut kepada sesama dan saudara-saudari kita,
tidak mengingat-ingat kesalahan dan dosa-dosa saudara-saudari kita. Orang yang
suka mengingat-ingat dosa dan kesalahan saudara-saudarinya berarti isi hati dan
isi otaknya adalah dosa dan kesalahan dan dengan demikian rasanya ia juga akan
cenderung untuk berbuat dosa atau melakukan kesalahan dimana ada kemungkinan
dan kesempatan. Sebaliknya jika kita tidak mengingat-ingat dosa dan kesalahan
saudara-saudari kita kiranya isi hati dan isi otak kita adalah apa yang baik
dan dengan demikian akan senantiasa cenderung untuk berbuat baik kepada
siiapapun dan dimanapun sesuai dengan kemungkinan dan kesempatan yang ada. Kita
semua dipanggil untuk meneladan bapa yang baik yang “berkata kepada 
hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang
terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan
sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan
marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi
hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:22-24)         

 

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah
nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan
janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu,
yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang
kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,” (Mzm 103:1-4)

Jakarta, 14 Maret 2009

 




      Pemanasan global? Apa sih itu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke