Refleksi : Mungkin karena tak pernah  diberikan Tuhan dan oleh sebab itu pemilu 
di NKRI  membuat orang keliru memilih wakil.

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=72829&Itemid=44


      Pemilu; Tuhan tak pernah beriklan      
      Friday, 13 March 2009 06:05 WIB  
      WASPADA ONLINE

      Oleh :
      Yon Inf.HOTMAN & MEUTYA NAULY


      Setiap waktu engkau tersenyum sudut matamu memancarkan rasa 
      Keresahan yang terbenam kerinduan yang tertahan
      Duka dalam yang tersembunyi jauh di lubuk hati
      Kata-katamu riuh mengalir bagai gerimis 

      Seperti angin  tak pernah diam selalu beranjak setiap saat
      Menebarkan jala asmara menaburkan aroma luka
      Benih  kebencian kau tanam bakar ladang gersang
      Entah sampai kapan berhenti menipu diri ..

      Kupu-kupu kertas yang terbang kian ke mari..
      Aneka rupa dan warna dibias lampu temaram

      Bait syair lagu Ebiet G.Ade ini, menggetar pilu menyongsong kembalinya 
Kupu-kupu Kertas Pemilu yang efeknya langsung  memilukan. Ketika hasil hitungan 
cepat secepat rakyat terlupakan. Ketika radio televisi dan koran jadi pedoman. 
Ketika sembako merubah pendirian.

      So, akankah rakyat pemilih menjadi keledai yang tersungkur ke dalam 
jebakan lubang yang sama 2 kali? Bisa yes bisa no ! Jika teliti dahulu sebelum 
memilih, tentu jawabannya No gitu lho.! karena tak akan lagi  terpedaya gombal 
janji puisi. Namun jika karena 'subsidi sesaat' para kandidat presiden via 
aktivis partainya pun akibat hargaharga melambung tinggi, tentu, apa boleh 
buat,Yes aja deh!

      Di tengah berondong tak kunjung henti,'Saya dan kami kecap nomor satu!', 
sungguh amat sulit membeda mana yang asli mana yang palsu. Pun tak mudah 
menebak gambar iklan pak haji atau tapal gigi. Demi cinta kaup nestapa or harta 
dan kuasa ? Demi kita atau kami saja?.Jika karena niatan inil para ABG Anak 
Baru Gede pemilih pemula akan tetap bilang,'EGP Emang Gua Pikirin'

      Tiba saatnya rakyat tersadar dan kembali jadi manusia cerdas 
sejati.Kritis membeda iklan gombal puisi plus  nyanyi-nyanyi sambil 
instruksi.Pun mampu menduga kandidat presiden yang tak berutang pada cukong 
elite koalisi agar rakyat tak terbebani harga-harga melonjak tinggi. Demokrasi 
baru presiden baru, cerdas, tegas berani teruji. Pastikan sudah tiba yang 
orisinil oke.

      Demi  ekonomi tak berbiaya tinggi dan negeri jadi terpuji bukan 
tercaci.Demi rakyat butuh nasi ketimbang dengar pidato-pidato  reformasi sambil 
makan nasi aking tiap hari. Demi pendidikan dan kesehatan murah ketimbang orasi 
doktor koalisi koruptor. Demi harga BBM turun pasti ketimbang politisi wirawiri 
poles citra diri tebar pesona korupsi.
      Soal keadilan yang semata wajib giliran pemenang mayoritas suara 20 
persen parlemen dan 25 persen pemilih, perlu menghayati ucapan FD Roosevelt, 
'Jika harus memilih keadilan atau kebenaran saya memilih kebenaran.' So, bisa 
saja partai kecil peraih minimal treshold 2,5% namun kandidat presidennya 
benar-benar tegas teruji dan terbukti, dipilih dalam koalisi.

      President  maker
      Dengan begitu, agar terhindar dari salah pilih, para juru dakwah, 
jurnalis, akademisi perguruan tinggi pun guru SMU, pegiat LSM, serta para 
aktivitis, bisa membantu mensyiarkan info aktual dan faktual. Perkaranya jadi 
mengenaskan ketika mereka terlanjur partisan. Jauh dari mendidik, karena mereka 
justru akan merayu, menggoda bahkan 'memperkosa' calon pemilih agar hanya 
memilih mereka dan partainya saja.

      Jika berada dalam situasi floating, mengambang seperti itu, abadilah 
wasiat nabi yang menyeru agar 'serahkan pekerjaan hanya kepada ahlinya atau 
tunggu kehancuran'. So, dalam konteks demokrasi baru pemimpin baru, muncullah 
keniscayaan profesi baru : konsultan kampanye. Kaum profesional di ranah inilah 
tempat pertama mengadu tentang siapa yang layak dipilih jadi presiden baru.

      Ironi jika mengingkari keniscayaan hadirnya para konsultan kampanye yang 
menyertai model demokrasi baru. Meski tak total 100% bisa kita copy begitu 
saja. Ada sejumlah varian local response kreatif. Contoh, jika di Amerika 
Serikat, negeri asal kita impor model pemilihan langsung ini, orang menghadiri 
kampanye karena mereka ingin menghadirinya. Di kita, jika tanpa Markos, makan 
rokok ongkos,'cape dech!'.So, atur-aturlah yang proporsional dalam batas 
kesanggupan. 

      Di sana cuma dikenal 2 (dua) elemen kunci yang menjadi partner sang 
kandidat: Konsultan dan Relawan (Volunteers) yang di kita disebut Tim Sukses.
      Saat pertama terniat jadi kandidat, yang pertama dihubungi konsultan 
kampanye. Dan Triple Big Questions, tiga besar pertanyaan segera meluncur dari 
sang konsultan;1.Kenapa anda harus maju? 2.Bikin apa jika kalah dan ngapain 
kalau menang? 3,Mengapa rakyat harus memilih anda?

      Jika dalam tempo 9 menit pertanyaan ini tak terjawab cerdas, konsultan 
akan mengatakan,'Selamat semoga anda sukses dan sampai jumpa di lain 
kesempatan!'. Artinya, konsultan tak dalam posisi bisa membantu karena yang 
punya hajatan pun tak paham spirit, eksistensi dan konsekuensi kandidasinya.

      Sebaliknya jika menurut konsultan kampanye  jawaban tepat sasaran, yang 
terjadi: 1.Membentuk komite penjajakan (explaratory committe), 2.Menyewa 
pollster, jasa jajak pendapat yang independen non partisan, 3.Menghitung 
kemampuan belanja kampanye serta potensi ragam sumber pendanaan melalui program 
fundrising, pengumpulan dana 4.Pemetaan kelompok pendukung dan penantang 
terkuat, contenders mapping. Atas dasar analisis objektif, valid meski pahit 
inilah lalu kemudian diputuskan terus maju atau mengurung niat jadi sang 
kandidat.

      Di kita, hanya atas dasar bisik-bisik tetangga yang manis-manis seperti 
gula plus jeprat-jepret  ragam media, langsung aksi bikin Tim Sukses. Dan 
paradoksnya, yang sukses justru timnya sementara si calon kandidat, pingsan 2 
kali. Pingsan pertama raib materi plus utang sana-sini dan pingsan ke2, hilang 
harga diri. So What gitu lho.!

      Mari patuhi anjuran nabi, jemput ahlinya agar tak tersesat dalam pekat 
gulita. Ahlinya mestilah konsultan kampanye profesional independen non 
partisan. Bukan Tim Sukses KKO-Kan Kiri Oke. Pun dianjurkan bukan konsultan 
kampanye yang merangkap pejajak pendapat meski masing-masing punya ukuran 
pembenaran. Logikanya, pejajak pendapat independen lebih merdeka mengungkap 
hasil jajak pendapatnya karena mereka patuh pada nabi, 'kata-kan yang benar 
adalah benar meski pahit sekalipun!'.So, mari jangan biarkan goda 'agama' baru 
karena desakan mulut, perut pun bawah perut bahwa di negeri ini yang haram pun, 
payah kali bah!

      Pilih konsultan kampanye dengan kreativitas tingkat tinggi  karena mereka 
manusia merdeka. Tak terbelenggu oleh ambisi kursi. Dalam spirit ini relevan 
pesan Iqbal,'Individu dan bangsa akan mati tapi anak-anak mereka, yaitu ide, 
tak akan pernah mati.Bangsa-bangsa lahir di hati penyair; tumbuh dan mati di 
tangan politikus'. Nabi boleh pergi tapi Maulid message abadi. Barang bagus 
bagus di tangan penjual bulus diobral pun tak laku kecuali disulap ketok magic.

      Selamat kembali jadi rakyat cerdas menyongsong presiden baru tegas 
pemberani bukan pintar pun ragu berbukti. Selamat datang tanah cintaku, selamat 
datang air negeriku. Pilih presiden bukan karena gombal iklan tapi karena suara 
Tuhan, vox populi vox dei. Karena Tuhan  tak pernah beriklan.

      Penulis adalah Founder m...@der Inc.www.mcleader.com & Dosen 
Fak.Psikologi USU, Penggagas Tioren:The Insitute of Renaissance, Demi Perempuan 
Sang Ibu Kandung Peradaban. 

<<printButton.png>>

<<emailButton.png>>

Kirim email ke