mohon maaf untuk yang satu ini.......

Krisis
Keuangan yang dipicu kolapsnya beberapa perusahaan keuangan global yang 
bermarkas di Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa telah menyeret
perekonomian dunia kedalam krisis ekonomi. Di seluruh dunia terjadi perlambatan
laju pertumbuhan ekonomi hingga ancaman resesi dan depresi ekonomi
berkepanjangan. Dalam sekejab indeks bursa saham di berbagai negara meluncur
turun dengan cepat, perusahaan-perusahaan bangkrut dan terancam kebangkrutan,
pengangguran meluas, hingga ledakan obral/jual murah asset-aset perusahaan dan
perorangan. 


Bagi
negara-negara berkembang yang sangat tergantung pertumbuhan ekonominya
pada komoditi ekspor ke negara-negara maju (seperti Amerika Serikat,
Eropa dll) akan
paling merasakan dampak krisis ini. Pertumbuhan ekonomi yang melambat
(resesi)
di negara-negara utama tujuan ekspor ini secara drastis akan 
melemahkan
daya beli atau menurunkan permintaan akan produk-produk ekspor ini. 


Seorang
ekonom menyebutkan beruntung Indonesia walaupun terus menggenjot
ekspor, porsi
ekspor belumlah terlalu dominan sebagai sumber pendapatan negara
sehingga dampak mematikan dari krisis ini tidak terjadi di Indonesia.


Ditengah
kelesuan ekonomi dunia dan Indonesia pada khususnya setahun terakhir
ini ada fenomena menarik di dunia bisnis. Tumbuh dan berkembang dengan luar
biasa satu
sekto  bisnis yang sangat menggiurkan. Dengan kecepatan yang luar biasa 
perusahaan-perusahaan di bisnis ini mampu memperluas dan mempertahankan
jaringan bisnis dan pemasarannya atau cabang-cabangnya hingga seluruh
Indonesia. Tidak hanya di ibukota propinsi, mereka pun telah merambah
hingga
kota-kota kabupaten, kecamatan hingga pedesaan.
 

Tidak
hanya itu bisnis ini nampak menggiurkan karena dengan cepat mengambil
pangsa pasar besar di dunia promosi dan periklanan. Kita bisa melihat iklan
jor-joran
mereka di media massa dari TV, Radio, Surat Kabar, hingga media online
seperti
website, blog, hingga facebook. Juga media iklan kakilima pun mereka
rambah, seperti marka-marka jalan, antena pemancar telpon selular,
pohon-pohon,
jembatan penyeberangan, kios-kios rokok hingga kendaraan pribadi dan
angkot. Demikian pula mereka giat berpromosi melalui
berbagai event seperti dari pertandingan sepakbola, lomba lukis, dan
sekedar
bagi-bagi souvenir di ruang-ruang publik (pstttt, jangan lupa huebatnya
gelontoran dana untuk memenangkan komperisi di pasar gelap)
 






Pertumbuhan
yang luar biasa ini barangkali pula dipicu oleh pendekatan
‘franchising’ dan MLM (Multi Level Marketing) dalam operasi bisnis dan
pemasarannya. Tetapi
yang terutama adalah karena bisnis ini berorientasi kepada pasar dalam
negeri.Geliat
bisnis  partikelir ini pada akhirnya juga mendapat dukungan anggaran
negara/
anggaran pemerintah yang cukup besar. 


Patut
diingat pula bahwa bisnis menggiurkan yang meledak dalam jangka waktu
singkat juga adalah bisnis yang sangat keras dan beresiko. Bisa jadi
dalam waktu yang
tidak lam  lagi banyak perusahaan di bisnis ini yang akan tumbang dan
bangkrut,
juga investor-investor dan pengusaha kecil yang berada dalam jaringan franchise
dan MLMnya.


Partai
Politik = Perseroan, Caleg = Komoditi?


Seribu
maaf, bisnis menggiurkan ini adalah politik dan pemilu 2009. Unit usahanya
adalah KPU (cc Pemerintah) dan Perseroan Partai Politik, komoditi sekaligus
jaringan Franchise dan MLMnya adalah perseroan itu sendiri para caleg dan
capres. 


Jelas
bisnis ini berorientasinya pasar dalam negeri dimana jaringan bisnis
perusahaan-perusahaannya tersebar ke seluruh Indonesia dengan jaringan
operasi
hingga desa-desa. Tidak mengherankan karena SIUPnya (Surat Ijin Usaha
Partai)
baru bisa dikeluarkan apabila partai memiliki jaringan usaha di 2/3
propinsi
dengan kantor hingga tingkat desa.


Tercatat
dukungan Anggaran Pemerintah untuk bisnis ini nilainya mencapai Rp. 13.5
triliun  rupiah.


Lantas
bagaimanakah saya harus mengakhiri cerita ini? Saya putuskan tidak akan
menanyakan pada pakar kelirumologi (jaya suprana) atau ‘diva’ pelawak
kita (mas
tukul). Saya akan menemui seorang pakar business administration,
seorang
bergelar MBA sekaligus kandidat doktor ekonomi moneter dari perguruan tinggi
ternama di negeri Euforia Obama itu (kalau tidak salah namanya barkeley, hehe
jadi ingat mafia berkeley. berkeley, berkely atau ….., o iya ingat universitas
brekele) .


Kalau
memang mereka benar-benar pengusaha dan pedagang (tentunya yang tamak)
maka
perseroan partai dan caleg-caleg yang menang akan berpikir tentang ROI.
ROI adalah return on investment. Ya logis toh pengusaha dan pedagang
berpikir
tentang keuntungan sebesar-besarnya paling minim balik modal. 

Beberapa cara bisa dilakukan,
pertama dengan melakukan tindakan tidak terpuji yang akan makin memusingkan KPK
dan ICW. Ini namanya KORUPSI. Kedua, obral kekayaan alam/sumberdaya alam,
memuluskan kebijakan yang di sponsori lembaga-lembaga keuangan neo-liberal,
investor asing maupun kompradornya di dalam negeri. Yang berikutnya ya surat
sakti dan akses seluas-luasnya untuk mengerjakan proyek-proyek pemerintah dan
kredit usaha, investasi atau dana likuiditas.





Lalu
bagaimana perseroan partai yang terjungkal dari persaingan? Entah ya,
mungkin mereka akan merger dengan perseroan partai besar, atau
barangkali minta bailout
atau dana talangan pemerintah. Seperti para eksekutif dan perusahaan
Amerika
brengsek yang bikin ekonomi dunia porak-poranda atau seperti pengusaha
kita
dulu yang ngebon dana BLBI. Namanya juga ngebon. Umumnya preman ekonomi
tidak
balikin utangnya


Nah
itu semua memang hanya berandai-andai.  Seandainya benar umumnya mereka punya 
mental 'pengusaha' dan 'pedagang' yang tamak, culas  memang celaka. Dimana
‘Ketamakan adalah
Kebajikan Utama’ . Ketamakanlah sebagai nilai-nilai atau
prinsip-prinsip atau agama utamanya. Maka akan segera tergenapilah
peribahasa  ‘segelintir orang mendulang untung, mayoritas rakyat mendulang
buntung’. 


Elit Untung, Rakyat Buntung


Untuk artikel yang lebih serius silah kunjung

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/03/bisnis-menggiurkan-di-tengah-krisis.html


      

Kirim email ke