“Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya.”

(Ul 4:1.5-9; Mat 5:17-19)

 

"Janganlah kamu menyangka, bahwa
Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan
untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau
satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya
terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat 
sekalipun
yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan
menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang
melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan
menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17-19), demikian 
kutipan Warta Gembira hari
ini

 

Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· 
Entah sudah ada
berapa UU(Undang-Undang), PP(Peraturan Pemerintah),  Pedoman dan Petunjuk 
tertulis dst.. yang
telah diundangkan dan  diberlakukan di
masyarakat dalam hidup berbangsa, bernenegara maupun bermasyarakat. Namun jika
diperhatikan atau  dicermati rasanya
penghayatan atau pelaksanaan berbagai aturan tersebut masih jauh dari harapan
atau dambaan, hal itu nampak masih maraknya aneka macam bentuk korupsi dan
penyelewengan serta apa yang terjadi di jalanan. Pelanggaran marka-marka atau
rambu-rambu lalu lintas di jalanan rasanya merupakan cermin kwalitas hidup
bangsa. “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”, 
demikian sabda Yesus. Keunggulan hidup beriman atau
beragama hemat saya terletak pada penghayatan atau pelaksanaan aneka aturan di
dalam hidup bersama sehari-hari dimanapun dan kapanpun. Maka baiklah di masa
Prapaskah ini saya mengajak kita semua untuk mawas diri perihal penghayatan
hidup beriman atau beragama  dengan kata
lain sejauh mana kita berbudi pekerti luhur. “Sesungguhnya pengertian budi 
pekerti yang paling hakiki adalah
perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan
oleh perilaku. Sikap dan perilaku budi pekerti mengandung lima jangkauan
sebagai berikut: sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan (1) Tuhan, (2)
diri sendiri, (3) keluarga, (4) masyarakat dan bangsa, (5) alam sekitar” (lih
: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur - Balai
Pustaka, Jakarta 1997, hal 4-5). Maka baiklah di masa Prapaskah ini kita mawas
diri perihal sikap-sikap terhadap serta hubungan dengan Tuhan, diri sendiri,
anggota keluarga, warga masyarakat dan bangsa serta alam sekitar atau
lingkungan hidup. Ada aneka aturan atau tatanan yang terkait dengan ‘lima 
jangkauan’ tersebut, maka sejauh mana kita telah
menghayati atau melaksanakan aturan atau tatanan tersebut.     

·   “Ingatlah,
aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang
diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian
di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu
dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di
mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata:
Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi” (Ul 
4:5-6)., demikian perintah Tuhan kepada
bangsa/orang yang terpilih. Kita semua kiranya mendambakan sebagai ‘pribadi
yang bijaksana dan berakal budi’, dan untuk mengusahakannya kita diharapkan
menghayati aneka ketetapan dan peraturan yang terkait dengan hidup, panggilan
dan tugas pengutusan, fungsi, jabatan atau kedudukan kita masing-masing.
Rasanya dalam hal penghayatan ini perlu teladan dari mereka yang merasa diri
berpengaruh dalam kehidupan atau kerja bersama, seperti: orangtua,
pemimpin/atasan/kepala/ketua, pejabat, dst.. Sedangkan untuk mengajarkan
ketetapan atau peraturan hendaknya berpedoman pada motto bapak pendidikan kita,
Ki Hajar Dewantoro: “ing arso asung
tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” (= keteladanan,
pemberdayaan dan motivasi). Orang bijaksana dan berakal budi sangat
dibutuhkan dalam kehidupan bersama masa kini. Bijaksana dan berakal budi
rasanya mirip dengan bahasa Latin ‘caritas
benevolentiae’  yang berarti ‘cinta kasih yang tidak mencari keuntungan
sendiri’ . Semoga mereka yang berpengaruh di dalam kehidupan dan kerja
bersama tidak berupaya mencari keuntungan sendiri, melainkan mengusahakan
kepentingan atau kesejahteraan umum (‘bonum
commune’) , secara khusus kami mengajak mereka yang berada di poros ‘badan
public/negara’ atau ‘bisnis/masyarakat pasar’ untuk berpihak pada dan
bersama  ‘poros masyarakat warga’,
sebagaimana diserukan dalam Nota Pastoral KWI, November 2004. 

 

“Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem,
pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan
memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi;
dengan segera firman-Nya berlari.Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan
menghamburkan embun beku seperti abu”

 (Mzm
147:12-13.15-16) .



Jakarta, 18 Maret 2009

 




      Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard 
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke