HR  ST YOSEF, SUAMI SP MARIA: 2Sam
7:4-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

“Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya”

 

Para
pimpinan pada umumnya memiliki tanggungjawab besar, apalagi ia seorang kepala
Negara atau presiden. Memang dalam melaksanakan tugasnya ia tidak sendirian,
tetapi senantiasa bekerjasama dengan dan mendengarkan masukan-masukan dari para
pembantu-pembantunya. Maka sering diadakan pertemuan rutin untuk dengar
pendapat perihal apa yang harus dikerjakan. Ada
seorang pemimpin, selain mendengarkan masukan dari para pembantunya juga atau
lebih mendengarkan ‘guru spiritual’ nya atau seseorang yang mahir dalam hal
kebatinan. ‘Guru spiritual’ sering dinilai dapat melihat apa yang akan terjadi,
sehingga nasihat-nasihat atau saran-sarannya lebih diikuti. Ada
‘wangsit’ atau bisikan ilahi yang menggema dalam hati sanubarinya, dan suara 
atau
kehendaknya harus  dilaksanakan; orang
akan melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh ‘wangsit’ atau bisikan ilahi
tersebut.

 

“Sesudah
bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan
itu kepadanya” (Mat 1:24)  

 

Yusuf adalah “seorang yang tulus hati dan tidak mau
mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan 
diam-diam”.
Dari kutipan ini kiranya dapat dimengerti bahwa Yusuf mengetahui Maria,
tunangannya, telah mengandung seorang anak bukan karena hubungan seksual
dengannya, dan kiranya dalam hati ada kecurigaan bahwa Maria telah menyeleweng.
Tentu saja sebagai orang yang tulus hati alias suci Yusuf tidak merasa enak
memiliki isteri yang telah mengandung bukan karena hubungan seksual dengannya,
maka ia berusaha menceraikannya diam-diam. Namun ketika di dalam mimpi ia
memperoleh penampakan atau bisikan ilahi:
"Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai
isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan
melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah
yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”(Mat 1:20-21) , maka “Yusuf 
berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.
Ia mengambil Maria sebagai isterinya”  

 

Kisah ini kiranya baik menjadi
bahan mawas diri bagi kita semua, dan mungkin terutama bagi rekan laki-laki
atau para bapak: “tidak mencemarkan nama
isterinya atau orang lain di muka umum”.  Ada
kesan umum bahwa kita mudah untuk ngrumpi atau ngrasani pasangan hidupnya jika
yang bersangkutan dirasa kurang memberi pelayanan yang membahagiakan. Hal ini
kiranya sering terjadi di kalangan para ‘manajer’ laki-laki yang kurang puas
atas pelayanan isterinya dan kemudian di kantor atau tempat kerja dengan mudah
menceriterakan pada teman-tamannya atau sekretaris pribadinya yang cantik serta
penuh pelayanan di kantor. Maka tidak heran mereka ini lalu menyeleweng,
berselingkuh atau memiliki ‘WIL’. 

 

“Dengan tulus hati tidak mencemarkan nama isterinya atau orang lain di
muka umum”  berarti tidak
menceriterkan kelemahan, kekurangan dan kerapuhan orang lain kepada siapapun
dan dimanapun. Jika memang ada yang kurang pas atau enak pelayanan dari
pasangan atau rekan hidup dan kerjanya, hendaknya pertama-tama dibicarakan
‘empat mata’ dengan yang bersangkutan dengan semangat atau motto ini: “Setiap 
orang kristiani yang baik tentu lebih
membenarkan pernyataan sesamanya daripada 
mempersalahkannya. Jika tak dapat dimengerti, yang menyatakan  hendaknya 
ditanya apakah yang dimaksudkan;
dan  jika dia salah, hendaklah dibetulkan
dengan cintakasih; dan jika itu belum cukup 
hendaklah digunakan segala upaya yang sesuai, supaya  sampai 
pada pemahaman yang benar, dan dengan demikian dijauhkan dari kesalahan”
(St. Ignatius Loyola, LR no 22). Dengan kata lain hendaklah , jika ada
sesuatu pelayanan atau sikap dari pasangan atau sesama  yang kurang enak, 
langsung menghadap Tuhan
alias berdoa, membuka diri atas bisikan ilahi dan biarkan kemudian kita
memperoleh bisikan ilahi seperti Yusuf, meneladan Yusuf yang “berbuat seperti 
yang diperintahkan Tuhan
kepadanya” 

 

“Bukan
karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya,
bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.”
(Rm 4:13)  

 

Anak adalah anugerah Tuhan yang
diterima oleh pasangan suami-isteri yang saling mempersembahkan diri seutuhnya
alias saling mengimani, bukan semata-mata karena hukum kodrat, kesuburan benih
suami maupun isteri. Masing-masing dari kita pernah menjadi anak, maka
masing-masing dari kita adalah anugerah Tuhan, yang mau tidak mau, jika
mendambakan hidup damai sejahtera, bahagia dan selamat, harus beriman
kepadaNya, hidup dan bertindak dijiwai oleh iman, berdasarkan iman. Karena
masing-masing dari kita adalah anugerah Tuhan, maka segala sesuatu yang
menyertai, kita miliki dan kuasai sampai kini juga anegerah Tuhan, yang harus
kita hayati dan fungsikan sesuai dengan kehendakNya, berdasarkan iman
kepadaNya. 

 

Di dalam akte pendirian suatu
‘LSM’ (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang berbendera Kristiani, dalam salah satu
pasal antara lain dikatakan “Dalam iman
Kristiani Lembaga hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”. Dengan
dicantumkannya kata-kata itu diharapkan sepak terjang dan pelayanan mereka yang
berpartisipasi dalam gerakan Lembaga terkait dijiwai oleh iman Kristiani alias
meneladan cara bertindak Yesus, menjadi sahabat-sahabat Yesus. Cara bertindak
Yesus kiranya dapat dilihat dan ditemukan di dalam Kitab Suci. 

 

Yesus bertindak untuk mengasihi
dan menyelamatkan antara lain dengan “memberi
makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan, memberi pakaian yang
telajang, memberi tumpangan orang asing yang kesulitan memperoleh tempat,
mengujungi mereka yang berada di penjara, menyembuhkan mereka yang sakit” (lih
Mat 25:31-46). Karena semuanya adalah anugerah Allah, harta benda dan uang yang
kita miliki dan kuasai, kesehatan dan ketrampilan dst adalah anugerah Allah,
maka selayaknya dengan tulus hati kita berusaha untuk tidak membuat malu dan
menderita saudara-saudari kita, lebih-lebih dan terutama mereka yang lapar,
haus, telanjang, dipenjara, terasing atau sakit. Marilah kita hayati dan 
fungsikan
semua anugerah yang kita miliki dan kuasai untuk membantu mereka ini agar
mereka tidak merasa malu dan diccmarkan namanya di muka umum. 

 

Kita semua adalah keturunan Abraham
yang hidup dan bertindak berdasarkan iman, bapa Abraham adalah teladan hidup
beriman. Selayaknya sebagai keturunan Abraham kita hidup bersaudara dan
bersahabat satu sama lain, sehingga terjadilah kehidupan bersama yang
membahagiakan dan menyelamatkan, memikat dan mempesonakan. Memang salah satu
cara untuk itu antara lain kita dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan
senantiasa berusaha untuk hidup tulus hati atau suci serta tidak saling
mencemarkan nama saudara-saudarinya. Hendaklah jika ada saudara-saudari kita
ada yang tercemar segera diselamatkan atau diperbaiki, jangan dibiarkan semakin
tercemar atau rusak. 

 

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak
memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu
dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah
berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah
bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak
cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun."  (Mzm 89:2-5)

 

Jakarta, 19 Maret 2009




      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke