Friends, berikut percakapan antara seorang rekan (R) dan saya (L) di facebook, 
semoga bermanfaat!

 

+

 

R = Bung Leo,

 

Saya kebetulan membaca catatan "kritis" Bung tentang "Tuhan" dan
"Agama". Menurut Bung, "Tuhan" cuma ada di kepala saja. Sekadar konsep
ato kesadaran tertinggi. Begitu juga Agama. Inti argumentasi Bung:
Semua Agama hanya imajinasi pikiran ato "proyeksi diri manusia" &
Tuhan tidak eksis.

 

Saya hormati kebebasan berpikir & kesimpulan Bung tsb. Buat saya,
argumen ini sungguh menarik sekaligus merangsang pikiran. Meski saya
tahu ia bukan "barang" baru dalam dunia ide, melainkan sudah amat
klasik bahkan "antik". Ia sudah jadi "problem filsafat" sejak dulu,
kendati polemik & relevansinya tak pernah habis ditelan zaman.

 

Saya sendiri ada yg setuju & tidak dengan argumentasi Bung tsb.
Mungkin ide-ide ini perlu dihadapkan pada "test-test" ato "ujian" agar
layak diterima logika. Dalam kaitan ini, saya ingin mengajukan beberapa
pertanyaan, sekaligus menunjukkan posisi intelektual saya. Siapa saja
boleh memeriksa logika yg dipakai, lalu menyimpulkan apakah ia cukup
layak diterima ato sebaliknya.

 

Namun, saya sadar ruangan ini terlalu sempit. Sukar berdiskusi secara
dalam. Oleh karena itu, kita barangkali harus puas dengan "garis
besarnya" saja.

 

Begini:

 

Bung menyimpulkan Tuhan "tak ada" kecuali "kesadaran" belaka. Tapi,
dari mana datangnya kesadaran itu? Mengapa ada kesadaran? Siapa yg
menanamnya ke dalam manusia? Mengapa hanya manusia yg memilikinya &
binatang tidak? 

 

L = Saya tidak pernah bilang Tuhan tidak ada; yg saya bilang bahwa
Tuhan, baik disebut sebagai Allah, Buddha, ataupun berbagai istilah
lainnya merupakan bagian dari kesadaran kita sendiri.

 

Saya bilang: kesadaran itu selalu satu, dan ada jenis kesadaran tinggi
yg bisa kita rasakan ketika gelombang otak kita turun ke level samadhi
atau tidur lelap. Ketika kita samadhi, kita cuma merasakan bahwa kita
sadar. Kita sadar bahwa kita sadar, aware of being aware. 

 

Tuhan atau Allah itu cuma istilah untuk merujuk kesadaran kita sendiri.
Karena kita sadar bahwa kita sadar, maka kita bilang bahwa Tuhan itu
ada. Siapa yg menanamnya ke dalam manusia tentu saja tidak ada
seorangpun yg akan bisa menjawabnya. 



Dari dahulu sampai sekarang tidak ada yg pernah bisa menjawab
pertanyaan: siapa yg menaruh kesadaran itu di dalam diri kita manusia.

 

Kita bisa juga ambil contoh pengalaman pribadi dari kesaksian mereka yg
hidup dalam budaya semitik (Yahudi, Nasrani, Islam) di dalam
kitab-kitab yg disucikan oleh ketiga agama itu. Kitab tertua adalah
Genesis yg ditulis oleh Nabi Musa. Di situ Musa menceritakan kisah
Abraham (atau Nabi Ibrahim menurut Islam). Abraham bertemu dengan Allah
ketika dia hendak menyembelih anaknya Ishak (atau Ismail menurut
Islam). 

 

Tetapi, bagaimanakah caranya Abraham bisa mendengar suara Allah kalau
bukan dari kesadarannya sendiri. Jadi, kesadaran di diri Abraham itu
bilang, jangan sembelih anak itu karena aku bukan Allah yg haus darah
manusia, melainkan haus darah kambing. Ada kambing di situ yg bisa
menggantikan anakmu sebagai korban sembelihan bagiku. 

 

Itulah pengalaman Abraham seperti tertulis di kitab Genesis. 



Saya tidak ambil dari Al Quran karena Al Quran kebanyakan isinya cuma
pengulangan dari kisah para nabi Yahudi yg aslinya ada di dalam Alkitab
(Bible) walaupun, saya juga tahu, banyak kalangan Islam mensohorkan
banyak salah cetak dan sebagainya di dalam Alkitab yg mungkin saja
benar, mengingat buku itu merupakan kumpulan puluhan buku dan sudah
berusia ribuan tahun, sudah diedit berkali-kali. 



Tetapi, yg jelas, narasi tentang Abraham itu benar menceritakan
bagaimana Allah itu sebenarnya cuma bagian dari kesadaran Abraham
sendiri.

 

Musa sendiri bertemu dengan Allah yg berbicara dari dalam semak
belukar. Semak belukar kok bisa bicara? Tentu saja tidak. Yg berbicara
itu adalah kesadaran di dalam diri Musa sendiri. Bisa kita katakan
bahwa itu kesadaran tinggi yg ada di dirinya. Allah yg muncul dari
dalam semak belukar itu akhirnya memerintahkan Musa untuk membawa
bangsa Israel untuk keluar dari Mesir dan masuk ke Kanaan.

 

Kalau kita ambil contoh dari kisah para nabi Yahudi lainnya, semua
mengakui panggilan dari Allah itu datangnya dari dalam kesadaran mereka
sendiri. 

 

"Samuel ! Samuel !" Dan Samuel kecil kebingungan karena ada suara yg
memanggilnya tanpa ada orangnya. Dan itulah awal panggilan Allah
terhadap Nabi Samuel yg nanti akan menobatkan Saul, raja pertama orang
Yahudi, dan Daud, raja Yahudi terbesar sepanjang masa sampai saat ini;
yg sangat beriman dan sangat manusiawi juga. Raja Israel terbesar
secara spiritual bukanlah Sulaiman seperti sering di-salah kaprahkan di
dunia Islam, melainkan Daud.

 

Daud ini kemudian dikenal menulis kitab Zabur. Zabur itu Kitab Mazmur
yg ada di dalam Alkitab. Isinya apa? Tidak lain dan tidak bukan
merupakan kumpulan syair lagu semata. Daud itu seorang penyair. Nubuat
dari Daud bentuknya bait-bait lagu.

 

Berikut petikan dari Mazmur 23, yg ditulis oleh Raja Daud, dan menurut saya 
merupakan inti dari iman semitik:



“ TUHAN adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku. 

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau... 

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, 

aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku... ” 

 

Simbolik sekali bukan? Daud berbicara tentang Allah yg adanya di dalam 
kesadaran dirinya sendiri, dan bukan dimana-mana.



R = Begitu pula Agama. Kalau asalnya dari "dalam" diri manusia, siapa
yg menaruhnya? Sedangkan kalau dari "luar", mengapa hanya manusia yg
bereaksi terhadap agama sedangkan binatang tidak, pedahal keduanya
memiliki lingkungan yg sama?



L = Agama-agama itu semuanya buatan manusia. Siapa yg menaruh agama di
dalam kesadaran manusia? Nobody, of course. Agama itu diciptakan oleh
kesadaran manusia sendiri, as simple as that. Berdasarkan kontemplasi
dari Daud tentang Tuhan sebagai gembala manusia, contohnya, maka mereka
yg memiliki kecenderungan naturalis bisa saja membuat agama yg
menyembah alam, Tuhan sebagai alam. Itu bisa saja dilakukan, why not?



R = Ada yg menyindir "fase sejarah" (Teologi, Metafisik, Positivis)
Auguste Comte (1798-1857). Comte bilang: zaman kuno orang tak punya
jawaban sehingga harus menciptakan "tuhan'. Tapi kaum Materialisme
bilang: manusia mahluk intelektual & binatang mahluk bodoh.
Bukankah ini berarti yg pandai jadi bodoh & yg bodoh jadi lebih
pandai?

 

L = Saya tidak pernah mempertentangkan berbagai aliran filsafat itu. Yg
saya tahu bahwa setiap manusia memiliki kesadaran yg, kalau
di-kultivasi, akan memunculkan kesadaran tinggi. Kesadaran tinggi itu
dirasakan oleh manusianya sendiri. 



Daud itu bergelut dengan Tuhan dari hari ke hari selama puluhan tahun
hidupnya. Bisa juga dikatakan bahwa Daud bergelut dengan kesadaran
tinggi yg ada di dirinya sendiri. Dari pergelutan manusia dengan
kesadaran tinggi di dalam dirinya, maka lahirlah berbagai macam hasil
perenungan, hasil kontemplasi. 



Bagi Daud, hasil kontemplasinya adalah bait-bait lagu itu yg diabadikan
menjadi bagian dari kitab yg disucikan oleh kaum Yahudi dan Nasrani
sampai saat ini.



Tuhannya itu ada dimana? Tuhannya itu tetap saja, adanya di dalam
kesadaran manusia. Di dalam kesadaran Daud, dan di dalam kesadaran
mereka yg membaca hasil kontemplasi dari Daud. 



R = Bagaimana Bung "tahu" Tuhan tak ada? Manusia belum pernah
menjelajah sampai ke ujung jagad raya? Manusia mahluk terbatas dengan
pengetahuan terbatas. Bukankah berlebihan bila manusia mengklaim
"mengetahui" Tuhan "tak ada"?



L = Saya tidak pernah bilang bahwa Tuhan tidak ada. Yg saya bilang,
Tuhan adalah bagian dari kesadaran di diri manusia. Anggaplah sebagai
kesadaran tinggi.



Saya sadar bahwa saya sadar. Saya sadar bahwa saya ada. Karena saya
ada, maka Tuhan ada. Kalau saya tidak ada, maka Tuhan tidak ada. 



Rene Descartes bilang: Cogito ergo sum. I think, therefore I am. Saya
berpikir maka saya ada. Kalau saya tidak berpikir, maka saya tidak ada.
Kalau saya tidak ada namanya kosong. Umat Buddhist mungkin akan merujuk
hal kosong itu sebagai nibbana. Kosong, nothing. 



Sio, kesadaran kita itu antara ada dan tiada. Kalau kita berpikir, maka
kita ada. Kalau kita tidak berpikir, maka kita tidak ada.



Malahan, di dalam tradisi India yg notebene non semitik, keadaan kosong
atau tiada itu adalah puncak tertinggi dari eksistensi manusia. Kosong,
nothing, nibbana.



R = Dalam sejarah filsafat, tak satu pun filsuf berani menyimpulkan
dirinya "tahu" Tuhan tak ada. Itulah sebabnya lahir aliran
"agnostisisme". Tapi, Bung Leo sekarang berani menyimpulkan sebaliknya,
apakah Bung Leo sedang "meninggikan diri" melebihi manusia biasa
lainnya?



L = Saya tidak pernah berpikir saya meninggikan atau merendahkan diri
saya. Yg saya tahu, saya berbicara dan menulis apa adanya saja. 



Dari apa yg saya pelajari dan alami sendiri tentang spiritualitas
manusia, saya mencapai kesimpulan bahwa kita ada karena kita ada, dan
segala macam spekulasi tentang adanya Tuhan atau tidak adanya Tuhan itu
tidak ada gunanya.



Kita cuma tahu bahwa kita ada karena kita ada, kita sadar bahwa kita
sadar. We are aware of being aware. Dan awareness itu bisa menghasilkan
berbagai macam kontemplasi, baik bersifat keagamaan maupun tidak. Dan
semuanya itu termasuk dalam spiritualitas manusia di mana manusianya
akan berusaha untuk menjadi dirinya sendiri, semakin lama semakin
menjadi dirinya sendiri. 



Dengan jatuh bangun, dengan kemenangan dan kekalahan. Dan apakah kisah
jatuh bangun yg sangat manusiawi itu kalau bukan yg telah dialami juga
oleh mereka yg saat ini digelari sebagai nabi-nabi?



Sidharta Gautama yg digelari sebagai Buddha Sakyamuni mengalaminya.



Isa bin Maryam yg digelari sebagai Yesus Kristus atau Isa al Masih juga 
mengalaminya.



Konghucu mengalaminya.



Madame Guyon yg didzolimi oleh Gereja Katolik di masa lalu mengalaminya.



Orang-orang Sufi mengalaminya. 



Murid-murid Yesus dari Nazareth yg penuh dengan Roh Kudus juga mengalaminya. 



Roh Kudus itu apa kalau bukan kesadaran yg terbuka di diri manusianya
sendiri, by the way? Kalau mereka telah 40 hari dan 40 malam berpuasa
dan berdoa dengan khusyuk, tentu saja Roh Kudus akan datang dan mereka
akan bisa berbicara apa adanya saja, tanpa takut. 



Dan itu kesadaran di diri mereka, nothing else. 



R = Saya melihat justru argumentasi "teisme" lebih rasional. Menurut
teisme, meski Tuhan tak dapat dilihat, eksistensinya bisa disadari
melalui observasi & induksi. Sama seperti kita mencoba menyadari
benda-benda yg tak terlihat. Tuhan itu eksis dengan mengamati "efeknya".



Hukum Gravitasi, misalnya. Kita mustahil mengamatinya langsung. Kita
hanya bisa mengamati efeknya. Dari efek inilah kita bisa membuat acuan
rasional tentang keberadaan suatu sebab. Begitu juga dengan pikiran
manusia. Kita tahu hanya dari efeknya.



Sebuah buku, misalnya, adalah efek yg dihasilkan oleh penulis di
belakangnya (preexisting intelligence). Kita bisa yakin bahwa buku itu
ditulis oleh seseorang, tanpa kita harus melihatnya. Sebab menurut
pengalaman kita, tak ada binatang, badai, hujan atau kekuatan alam
lainnya sanggup memproduksi buku.



L = Argumentasi "teisme" adalah argumentasi tentang eksistensi Tuhan.
Ada orang yg percaya kepada Tuhan karena percaya kepada argumentasi
"teisme". So what, apanya yg salah? 



R = Selanjutnya, saya ingin beralih ke ide lain, yaitu Tuhan sebagai
"proyeksi diri manusia". Ide ini sebetulnya berasal dari Feuerbach.
Dialah orang pertama yg mencoba memberi dasar "ilmiah" kepada ateisme.
Argumentasinya menjadi pola kritik agama paling berpengaruh hingga saat
ini. Bahkan idenya diikuti oleh Nietzsche, Freud, Marx, dll. Sekarang
oleh Bung Leo Rimba.



L = Terima kasih telah menjejerkan saya dengan Nietzsche, Freud, dan Marx.

 

R = Namun, ada unsur yg tak bisa dijelaskan oleh Feuerbach dengan teori
proyeksi-nya. Jika benar Tuhan hanya proyeksi manusia, mengapa Tuhan
selalu dimaknai "tak terhingga" ("Maha"). Manusia tak hanya menyebut
Tuhan itu baik, bijaksana ato berkuasa. Namun, lebih dari itu,
Maha-baik, Maha-bijaksana dan Maha-kuasa. 

 

Padahal, pengalaman manusia, termasuk pengalaman diri kita sendiri, tak
ada yg "tak terhingga" ("Maha"). Jadi, tak mungkin unsur "tak
terhingga" ("Maha") ini merupakan proyeksi hakekat manusia. Sebab,
dalam hakekat manusia unsur "ketakterhinggaan" ini tak ada secara
empiris!



L = Karena "maha" itu tak ada secara empiris, maka dijadikanlah sebagai
atribut dari Tuhan. Bisa juga dikatakan bahwa atribut maha ini dan maha
itu merupakan sesuatu yg POTENSIAL di diri kita manusia. 



Tuhan maha pengasih dan maha penyayang merupakan suatu atribut. Kenapa
kita bilang Tuhan sebagai maha pengasih dan maha penyayang? Karena kita
tahu bahwa bagi kita manusia sangat susah untuk menjadi pengasih dan
penyayang tanpa diskriminasi. Lalu kita proyeksikanlah ide itu kepada
sesuatu yg kita sebut sebagai Tuhan, in this case yg namanya Allah.



Dengan memproyeksikan ide itu kepada sesuatu yg kita sebut Allah,
akhirnya kita akan belajar juga untuk menjadi pengasih dan penyayang,
tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, Golongan, Usia, Jenis Kelamin, dan
Orientasi Seksual. 



R = Kendati demikian, saya setuju separuh dgn Feuerbach bahwa manusia
bisa menciptakan "tuhan". Namun, "tuhan" ciptaan ini tak mungkin Tuhan
sejati. Artinya, manusia memang potensial menciptakan "tuhan" palsu.
Entah dengan imajinasi, prasangka ato emosi. Tapi sungguh keliru kalau
memakai titik tolak ini untuk memahami Tuhan yg sejati.



L = Iyalah, segalanya itu proses. Agama-agama itu apa kalau bukan Tuhan
yg palsu? Ideologi Fascisme seperti dipraktekkan oleh Adolf Hitler
adalah Tuhan yg palsu, namanya Nazisme. Ideologi Fascisme berkedok
agama adalah Tuhan yg palsu juga. Tetapi kita bisa mudah membedakannya
bukan? 



Sangat mudah membedakan Tuhan yg lebih bersifat ketuhanan dan Tuhan yg
kurang bersifat ketuhanan. Amrozi Cs itu menyembah Tuhan yg SANGAT
kurang bersifat ketuhanan. FPI itu menyembah Tuhan yg kurang bersifat
ketuhanan. Orang-orang fanatik beragama itu menyembah Tuhan yg kurang
bersifat ketuhanan. Semakin fanatik agamanya, semakin berkurang sifat
ketuhanannya.



R = Jadi, teori proyeksi memiliki kelemahan-kelemahan yg serius. Teori
ini gagal menjelaskan hal yg paling hakiki dari pengalaman agama. Teori
ini juga tak bisa membuktikan bahwa "semua" ciri yg dimiliki Tuhan
adalah proyeksi diri manusia.



L = Saya cuma bisa bilang bahwa proyeksi itu benar. Kita memproyeksikan
apa yg kita rasa tidak ada di diri kita kepada sesuatu yg kita sebut
sebagai Tuhan dan juga Setan. Kalau kita anggap baik, maka kita sebut
itu atribut Tuhan. Kalau kita anggap jelek, maka kita sebut atribut
Setan. 



Pedahal Tuhan dan Setan itu merupakan istilah saja, dan atribut-atribut
itu merupakan proyeksi dari sifat-sifat yg ada di diri kita juga,
walaupun mungkin sedikit dibesar-besarkan. Tuhan dan Setan adalah
kreasi manusia belaka.



R = Namun, sbg "kritik agama", teori proyeksi memberikan sumbangan
penting. Ia menyadarkan kita bahwa manusia kerap menciptakan
"ilah-ilah" palsu. Fenomena hidup sehari-hari banyak mengkonfirmasikan
fakta ini. Orang menyembah sesuatu yg ia ciptakan sendiri. Tapi, sekali
lagi, ini adalah perkara lain, ketika kita bicara Tuhan yg sejati. Di
sini, kita perlu hati-hati dan kritis untuk bisa membedakannya.



L = Tuihan yg sejati adalah yg tidak bisa dibicarakan. Lao Tze dari
Cina sudah bilang hal itu 2,500 tahun yg lalu. Dia bilang: Tao yg bisa
dibicarakan bukanlah Tao. Tuhan yg bisa dibicarakan bukanlah Tuhan. 



R = Banyak teori tentang timbulnya agama telah dituis sepanjang
sejarah. Beragam penulis memberi kontribusinya. Ada pemikir seperti
John Lubbock, Edward Taylor, Max Muller. Ada juga tokoh-tokoh
kebudayaan modern, seperti Immanuel Kant, Thomas Henry Huxley, Charles
Kingsley, Albert Ritschl, dll. Namun, hemat saya, tak ada satu pun
interpretasi yg benar-benar akurat dan meyakinkan tentang kosmos,
kecuali sekadar kita apresiasi sebagai spekulasi pikiran. Apalagi
mereka yg menulis, tidak hidup di zaman agama yg dianalisanya itu.



L = Teori tentang kosmos atau alam semesta secara fisik merupakan
bidang lain lagi. Itu fisika. Kalau membicarakan tentang Tuhan dan
agama-agama, namanya itu bukan fisika melainkan metafisika di mana kita
akan selalu harus memperhitungkan kesadaran yg ada di diri manusia yg
menciptakan segala macam simbol-simbol yg hakekat atau essensinya
berada di luar dari simbol-simbol itu sendiri.



Makna dari simbol selalu berada di luar dari simbol itu sendiri. Makna
dari Tuhan sebagai simbol selalu berada di luar Tuhan. Kalau kita
anggap di luar Tuhan, maka di mana lagi kalau bukan di diri kita
sendiri. Arti dari Tuhan ditemukan di dalam diri kita, dan arti dari
diri kita ditemukan di dalam Tuhan.



Tapi, tentu saja, yg kita sebut Tuhan dan kita di situ hanyalah
kesadaran yg satu itu, yg adanya di tiap orang dari kita. Kita bermain
dengan kesadaran kita sendiri saja. God playing with Himself or
Herself. 



R = Saya sendiri menghormat Feuerbach, karena teorinya bisa dipakai utk 
"membongkar" kemunafikan para agamawan.

 

Buat saya, Feuerbach berhasil membangun kritik sekaligus "tantangan" yg
perlu diperhatikan para agamawan. Dari teori Feuerbach, kita tahu
banyak kaum agamawan sebenarnya "menipu diri" dengan mengatakan ia
mencari Tuhan, padahal yg dia cari "hanya" dirinya sendiri. 



L = Of course, dan saya sudah bilang tidak usah mencari kesana kemari,
karena adanya di dalam kesadaran kita sendiri saja. God is part of our
consciousness. 



R = Sama halnya dengan anggapan "hedonisme". Menurut hedonisme manusia
selalu mencari nikmatnya sendiri saja. Kalaupun seseorang berkorban
untuk orang lain atau mengejar cita-cita luhur, ia "sebenarnya" hanya
mencari kenikmatan sendiri saja.



L = Tentu saja, apakah harus mencari kenikmatan yg dialami orang lain? 



R = Bagi saya, kritik agama tetap penting dan relevan. Tapi, bukan
untuk menyangkali Tuhan, apalagi menganggapnya sekedar "ilusi". Kritik
agama berguna sekadar membantu kita menyadari fakta sekaligus
membongkar kemunafikan dan kebusukan praktek agama, yang telah merusak
kehidupan.

Yang membuat orang makin membenci agama.



L = Kritik agama selalu berguna. Agama cuma merupakan kreasi manusia
belaka, dan kemampuan kita untuk mengkritik agama membuktikan bahwa
agama memang ciptaan manusia. Kalau agama bukan ciptaan manusia, maka
apapun yg kita lakukan tidak akan bisa mengubah agama. 



Tetapi ternyata kita bisa merubah agama. 



Kita bisa membongkar agama lama dan menciptakan agama baru. Sejarah
membuktikannya. Bahkan klaim agama yg "terakhir dan sempurna"
membuktikan thesis bahwa agama itu diciptakan oleh manusia. 



Ada manusia yg meninggalkan agama lama dan menciptakan agama baru yg
disebutnya "terakhir dan sempurna". Ada yg ditinggalkan, dan ada yg
diciptakan. 



So, semua agama itu memang ciptaan manusia. Feurbach benar.



+



Leo

@ Komunitas Spiritual Indonesia 
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.



Lukisan Mazmur 23 oleh artis Irv Davis.


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke