Zaman Sukarno Adalah Realitas Indonesia Sebenarnya
                                          
Meskipun sekarang ini keadaan ekonomi Indonesia dan rakyatnya sangat compang 
camping, namun masih belum menunjukkan keadaan sebenarnya negara ini.

Banyak diantara kita sebenarnya buta seperti apa realitas Indonesia sebenarnya. 
 Kita tidak bisa beranggapan bahwa keadaan carut marut ekonomi Indonesia 
sekarang itu sudahlah parah, padahal kalo saja anda tahu bahwa keadaan yang 
parah sekarang inipun sebenarnya jauh lebih baik dari keadaaan sebenarnya.

Cobalah anda bayangkan, dizaman Sukarno oleh pemerintah dilakukan kebijaksanaan 
politik yang namanya berdikari yaitu singatan yang artinya "berdiri diatas kaki 
sendiri".  Bung Karno tidak mengingini Indonesia jadi tergantung luar negeri.  
Semua import secara bertahap dihentikan, semua perusahaan2 asing langsung di 
Nasionalisasi.

Namun dizaman Bung Karno yang katanya berdikari itu pun sebenarnya belum benar2 
berdikari karena Indonesia masih mengimport beras bantuan dari China, dari 
Korea Utara, dari Jepang, dan juga dari India.  Bantuan mesin2, bensin, 
tekstil, dan uang terutama datang dari Jepang.  Jadi kalo anda bandingkan zaman 
Sukarno sewaktu menjalankan politik berdikari dengan keadaan Indonesia yang 
lihat sekarang ini jelas jauh bedanya, meskipun keadaan sekarang anda anggap 
susah, maka dizaman Sukarno dulu lebih maut susahnya.  Mengeritik pemerintah 
sedikit saja pasti langsung hilang ditangkap tentara.  Menyetel radio luar 
negeri seperti Malaysia, Australia, ataupun BBC, langsung anda diciduk tanpa 
diadili untuk menghadapi sakratul maut dan tidak diketahui dimana dikuburnya.

Dizaman Bung Karno tidak ada textil yang aneka warna, semua baju dijahit dari 
textil pabrik pemerintah yang namanya "Ratatex", mungkin artinya textil rakyat 
yang merata.  Untuk mendapatkan textil inipun tidak gampang, harus pakai kartu 
keluarga dan menjadi anggauta koperasi di-masing2 keluarahan.  Untuk membelinya 
diharuskan ngantri seharian.  Setiap orang hanya mendapatkan jatah untuk satu 
potong baju saja.  Sama halnya dengan Beras, Minyak Goreng, Minyak Tanah, Gula, 
Tepung Terigu, dan lain2nya tidak dijual dipasaran bebas, dan kalopun ada 
selain kondisinya sangat buruk juga dijualnya sembunyi2 karena kalo ketahuan 
polisi atau tentara akan digerebek, ditangkap penjualnya disita gudangnya 
karena dituduh menimbun bahan makanan sebagai kaki tangan kapitalisme.

Dizaman Sukarno, bensin hanya bisa dibeli oleh pegawai2 pemerintah yang 
mendapatkan jatahnya dari kantor.  Juga pedagang2 tertentu yang bekerja untuk 
pemerintah bisa membelinya, diluar itu tidak ada yang bisa beli bensin.

Belakangan pemerintah, yaitu Bung Karno mengumumkan bahwa BERAS ADALAH MAKANAN 
KAPITALIS, dan rakyat dianjutkan mengganti menunya dengan BULGUR karena bulgur 
ini lebih bergizi dan harganya lebih murah.  Hal ini disebabkan pemerintah 
sudah tidak mampu lagi membeli beras dari luar negeri dan panenan dalam neger 
tidak mencukupi dan hanya diberikan untuk pegawai2 negeri saja.  Pemerintah 
tidak bisa memberi pupuk kepada petani sehingga semua hasil pertanian banyak 
yang gagal termasuk dilalap oleh wabah wereng.

Telor ayam, telor bebek, dan semua daging2 harganya benar2 selangit dan hanya 
orang2 kaya saja yang bisa menikmatinya.

Air ledeng PAM tidak ada yang keluar airnya, air harus membelinya dari tukang 
air yang lewat didepan rumah dengan gerobaknya.  Pasokan air ada tempatnya 
sendiri.

Dizaman Sukarno, bisa melewati hidup sehari saja sudah untung, kesusahan yang 
melanda rakyat Indonesia juga mempengaruhi jiwanya atau psikologisnya.  
Masyarakat sangat sensitive, maling yang tertangkap tidak ampun jarang yang 
hidup setelah digebuki.  Polisi dan tentara main gebuk dan main tembak dan 
urusannya gampang anda dituduh mata2 Malaysia yang menyusup kenegara ini.

Serombongan pemuda2 yang membawa poster2 "Ganyang Malaysia" bisa masuk ke 
kampung2 untuk kemudian merampoki rakyat di-kampung2.  Mereka dikatakan pemuda 
militant, pemuda revolusioner.

Belum lagi ada rombongan2 dewasa yang dipencar disebuah kelurahan untuk menjual 
paksa kalender yang ada gambanr Bung Karno pemimpin besar Revolusi Panglima 
Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Singkatnya kehidupan dizaman Bung Karno betul2 mengerikan, saya cuma 
menyampaikan pesan kepada generasi sekarang untuk mencegah tidak terulangnya 
zaman seperti itu.

Terlepas dari segala pandangan politik anda, disini saya menggambarkan 
Indonesia yang sesungguhnya apabila terlepas dari segala ikatannya dengan dunia 
luar !!!  Bencana dan malapetaka bagi bangsa ini akan lebih parah dari 
kehidupan zaman Bung Karno, karena dizaman Bung Karno pun belum 100% tapi hanya 
kira2 40% saja melepaskan diri dari dunia luar karena negara seperti China 
masih membantu dengan beras, Jepang masih membantu dengan obat2an dan semua 
kebutuhan teknis seperti textil dll.  Lalu apa jadinya kalo nantinya akibat 
meningkatnya aktivitas terrorisme terjadi embargo total dari luar negeri ???  
Tentu tak terbayangkan bagaimana hebatnya penderitaan rakyat kita ini.

Nasib bangsa memang sekarang dalam keadaan kritis, menjelang pemilu ini akan 
menentukan kemana nasib bangsa ini akan dibawa.  Capres seperti Prabowo 
merencanakan menasionalisasi semua perusahaan asing dan swasta, sedangkan 
Nurwahid merencanakan Syaria Islam menyeluruh ditegakkan dibumi Nusantara.

Gus Dur yng menjadi tokoh Islam terbesar di Indonesia sudah menyatakan 
dukungannya kepada Prabowo.  Hingga detik ini belum ada tokoh yang 
pengalamannya melebihi Gus Dur yang telah membawa kesuksesan lahirnya orde baru 
yang mendukung Suharto menjadi presiden melalui pemotongan kepala para anggauta 
PKI oleh barisan serba guna Ansor yang berada dibawah Gus Dur.  Pengalaman Gus 
Dur bukan cuma menggalang massa, tapi juga menghimpun suara, dan menyingkirkan 
kekuatan mayoritas seperti PKI dizaman Bung Karno.  Ditambah Nurwahid agen Arab 
ini ikut memodali Prabowo untuk menguasai Indonesia.  Menyelundupkan senjata 
dari luar negeri untuk perjuangan Syariah sudah tidak ada hambatan lagi.

Didukung atau ditolak rakyat Indonesia, Prabowo tetap harus menang, semua 
organisasi preman sudah berada dibawah garis komandonya.  Bagi Prabowo sendiri, 
untuk memenangkan suara dengan memaksakan bukanlah hal yang sukar, jauh lebih 
mudah daripada memimpin sekompi pasukan untuk membantai gerombolan Fretilin.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke