Refleksi : It´s a mans world : http://www.youtube.com/watch?v=z8vZmWQPgwA

http://www.republika.co.id/berita/39138/Pemilu_2009_Tragedi_bagi_Perempuan

Pemilu 2009 Tragedi bagi Perempuan
By Republika Newsroom
Minggu, 22 Maret 2009 pukul 00:57:00 
JAKARTA--Pemilu 2009 dinilai sebagai tragedi bagi perempuan. Hasil survey 
Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) yang mengungkapkan bahwa hanya empat partai 
politik Indonesia yang berperspektif gender yakni PPP, PKB, PAN dan PDI-P.

Ini disampaikan Didik Supriyanto, Ketua Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi, Sabtu 
(21/3). Analisis dalam survey tersebut, menurutnya, juga mengungkapkan bahwa 
ditinjau dari implementasi affirmative action, unsur pendiri partai politik 
masih didominasi oleh laki-laki. "Hanya sedikit partai politik yang 
menyantumkan keberadaan perempuan sebagai tokoh pendiri partai," katanya. 

Masruchah, Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, juga mengungkap 
bahwa 80 persen ketua umum partai politik nasional peserta pemilu adalah 
laki-laki. "Jika ada penempatan perempuan dalam jajaran pimpinan masih 
dilekatkan pada posisi tradisional seperti bendahara," katanya.

Hasil analisis lainnya, menurut Masruchah, dari 38 prtai hanya ada lima partai 
politik yang ketua ummnya perempuan, yaki PDI-P, Partai Merdeka, PKPI, Partai 
Perjuanan Indonesia Baru, dan PNI Marhaenisme. Sayangnya, posisi mereka sebagai 
ketua hanya karena dilihat dari perspektif historis. "Di mana mereka memiliki 
orang tua yang merupakan founding father negara ini," katanya.

Dilihat dari visi dan misi,tambahnya, tidak ada partai politik nasional yang 
menjadikan perspektf gender dalam visinya. Meskipun, menurutnya, ada beberpa 
partai politik yang memiliki program kerja dengan mendorong penguatan hal 
perempuan. Namun hal ini masih bersifat temporerial.

"Artinya ke depan belum tentu partai terebut merealisasikannya dalam program 
kerja yang akan dilaksanakan," katanya."

Endang Sulastri, anggota KPU, mengatakan kebanyakan partai politik sekarang 
belum cukup mengangkat isu kesetaraan gender. "Masih isu keadilan secara umum," 
katanya. Untuk itu, tambahnya, perlu ada revisi terhadap AD/ART Partai. "Agar 
lebih eksplsit untuk memberi program yang lebih perspektif gender," katanya. 

Perempuan, kata Endang, memang harus bekerja keras dalam pemilu agar 
mendapatkan simpati. Hal ini, tambah Didik,
terjadi karena tiga faktor utama yakni kebanyakan perempuan tidak menguasai 
infrastruktur partai. Karena, katanya, biasanya perempuan tidak mendapatkan 
posisi penting dalam partai. Bahkan, 34 persen caleg perempuan, menurutnya, 
bukanlah kader partai melainkan aktivis yang ditarik karena kebanyakan partai 
tidak memiliki banyak kader perempuan.

Faktor lainnya adalah perempuan tidak mempunyai dukungan dana. "Karena biasanya 
seluruh harta atas nama suaminya," kata Didik.

Faktor terakhir yang juga menentukan adalah perempuan punya standar moral yang 
lebih tinggi. Pernyataan ini terkait dengan kebanyakan tindakan curang seperti 
menyewa preman atau pemerasan hanya dilakukan oleh lelaki. Berbagai pernyataan 
tersebut diungkapkan ketiga narasumber dalam rangkaian acara Kajian koalisi 
perempuan indonesia terhadap platform partai yang diadakan di media center KPU, 
Sabtu (21/3).

Sebagai penutup dalam acara tersebut, Koalisi Permpuan Indonesia 
merekomendasikan beberapa hal, yakni mengapresiasi partai politik yang telah 
memasukkan peraturan mengenai keterwakilan perempuan dalam AD/ART partai.

KPI juga mendesak seluruh partai politik untuk melakukan revisi terhadap 
platform partai dan memasukkan perspektf gender dalam indikator affirmative 
action keterwakilan perempuan serta arah progra kerja mendatang. "Kami juga 
merekomendasikan pemilih untuk cerdas dalam menentukan pilihannya dalam pemilu 
2009," katanya.

Dalam hal ini, menurutnya, pemilih sebaiknya hanya memberikan suara pada parpol 
yang diyakini memiliki komitmen pada pemberdayaan perempuan.c88/kem

Kirim email ke