Apakah tidak terlalu hebat keliru?

  ----- Original Message ----- 
  From: Haryo Penangsang 
  To: zamanku@yahoogroups.com ; islamkris...@yahoogroups.com ; 
prole...@yahoogroups.com ; debat_islam-kris...@yahoogroups.com 
  Sent: Friday, March 20, 2009 11:20 PM
  Subject: [zamanku] Bisa menjadi Mualaf Yahudi itu gak gampang lo






          Michael: Kebenaran Itu Hanya Ditemukan Dalam Islam

          Cetak |  Kirim |  RSS Selasa, 17/02/2009 18:57 WIB 

          Michael DavidShapiro adalah seorang Yahudi Rusia. Dulu, ia tidak 
terlalu yakin dengan adanya Tuhan. Cita-citanya menjadi seorang bintang penyayi 
rock, tapi sekarang ia bekerja sebagai sekretaris dan tinggal di sebuah 
apartemen.

          Pencarian jati dirinya dimulai ketika ia berusia 19 tahun. Suatu 
malam, berniat ke dapur dan bertemu dengan rekannya seorang kulit hitam. Ia 
bertanya pada rekannya itu,"Bolehkah saya menyimpan vodka di kulkas malam 
ini?". Tak diduga, pertemuan itulah yang mengubah hidup Michael secara drastis.

          Teman kulit hitam yang dijumpainya di dapur adalah seorang Muslim dan 
dia adalah Muslim pertama yang pernah Michael jumpai. Dengan rasa ingin tahu 
yang tinggi, Michael mengajak lelaki kulit hitam itu berbincang-bincang tentang 
agama Islam. Tentang semua hal yang pernah Michael dengar seperti salat lima 
waktu, jihad dan sosok Nabi Muhammad saw.

          Kemudian, teman mereka bernama Wade, seorang Kristiani bergabung 
dalam perbincangan itu. Jadilah mereka bertiga malam itu berdialog dengan 
Yahudi, Kristiani dan Muslim. "Ternyata kami menemukan banyak perbedaan dan 
banyak persamaan antara ketiga agama itu," kata Michael.

          Setelah perbincangan itu, minat Michael yang selama ini hanya 
berkutat pada sex, narkoba dan pesta-pesta jadi berubah total. Ia mulai 
berminat untuk mencari kebenaran, mencari Tuhan, mencari bagaimana cara menjadi 
pengikutNya.

          Ketika itu, kata Michael, ia memulai dengan mengajukan 
pertanyaan-pertanya an sederhana pada dirinya sendiri seperti 'berapa 
sebenarnya jumlah Tuhan?'. Michael berpikir bahwa jumlah Tuhan pasti cuma satu. 
Tuhan akan lebih kuat jika cuma satu. Karena jika Tuhan dua, kalau ada salah 
satunya yang berbeda pendapat maka akan terjadi pertentangan dan pertikaian. 
"Maka saya berpikir bahwa Tuhan itu satu," kata Michael.

          Ia juga memikirkan tentang eksistensi Tuhan dan menganalisa keyakinan 
atheist dan keyakinan theist-theist lainnya. Saya teringat akan kata bijak 
"Setiap disain pasti ada disainernya". Bertolak dari kata bijak itu, mata saya 
terbuka bahwa Tuhan itu ada. "Saya tidak bisa menjelaskannya mengapa, saya 
hanya bisa merasakannya," ujar Michael.

          Hal-hal baru yang ditemukannya, membuat Michael berpikir bahwa ia 
harus bertanggungjawab untuk mematuhi Sang Pencipta dan itu artinya ia harus 
memeluk satu agama. Pertanyaan lain pun menyusul, 'darimana ia akan memulai? 
karena secara harfiah jumlah agama bisa ribuan dan ia perlu memperkecil jumlah 
itu. Langkah pertama yang Michael lakukan adalah mengelompokan agama-agama 
monoteis dan itu sejalan dengan keyakinannya bahwa Tuhan itu satu. Ia mencoret 
Budha dan Hindu dari daftarnya dan melingkari tiga agama monoteis yaitu Islam, 
Kristen dan Yudaisme.

          Karena ia seorang Yahudi. Michael mulai mempelajari Yudaisme terlebih 
dulu, mulai dari konsep Tuhan, nabi-nabi, 10 larangan Tuhan, Taurat dan tentang 
'roh keyahudian', satu hal yang menarik perhatian dan membuat Michael ragu. Ia 
berpikir, ide tentang 'roh keyahudian' tidak universal karena 'jika seseorang 
dilahirkan sebagai Yahudi, maka orang itu punya jiwa Yahudi dan harus menjadi 
pengikut Yudaisme. Bagi Michael, ide semacam itu diskriminatif. Ia berpendapat 
bahwa semua manusia diciptakan sama. "Mengapa seseorang yang dilahirkan dalam 
agama tertentu harus tetap memeluk agama itu meski jika seseorang itu menemukan 
bahwa keyakinan yang dianutnya salah?" itulah pertanyaan yang muncul di benak 
Michael dan ia tidak sejalan dengan konsep tersebut.

          Hal lainnya yang membuat Michael ragu dengan Yudaisme, tidak ada 
konsep yang jelas tentang neraka dalam Yudaisme. Jika konsep itu tidak ada, 
kenapa seseorang harus berbuat baik atau melakukan dosa? "Jika saya tidak takut 
akan hukuman yang berat, jadi kenapa saya harus bermoral," pikir Michael.

          Michael akhirnya meninggalkan Yudaisme dan beralih belajar 
kekristenan. Agama ini juga membuat Michael mundur karena konsep trinitas dalam 
kristen yaitu bapak, putera dan roh kudus. Ia berpendapat, bagaimana bisa 
Kristen mengklaik percaya hanya pada satu Tuhan, jika menganut konsep trinitas.

          Michael juga menganggap sejarah Yesus dalam Kristen aneh dan tak 
masuk akal. Dalam doktrin Kristen, Yesus adalah anak Tuhan yang harus dibunuh 
untuk menyelamatkan manusia dari "dosa asal" yang dilakukan Nabi Adam. Dalam 
Kristen, Yesus mati untuk menebus dosa-dosa manusia.

          Doktrin itu membuat Michael berpikir bahwa dalam agama Kristen 
seluruh umat manusia itu dilahirkan sebagai pendosa, yang melakukan perbuatan 
yang salah. Itu artinya, seorang bayi yang baru dilahirkan sudah berdosa karena 
melakukan hal-hal yang salah. "Doktrin yang aneh. Karena dosa satu orang, maka 
semua manusia harus menderita. Pesan moral apa yang disampaikan oleh doktrin 
semacam itu? Pemikiran seperti ini tidak masuk logika saya," ujar Michael.

          Michael lalu mempelajari Islam. Ia menemukan bahwa Islam berarti 
patuh dan berserah diri. Prinsip dalam Islam adalah Tuhan yang Esa, salat lima 
waktu sebagai wujud ketaatan pada Tuhan, menunaikan zakat, puasa di bulan 
Ramadhan dan pergi haji jika mampu secara finansial. Konsep yang buat Michael 
tidak terlalu sulit untuk dipahami.

          Apa yang Michael pelajari tentang Islam tidak ada yang bertentangan 
dengan logikanya, termasuk kitab suci al-Quran dengan keajaiban-keajaiban yang 
mengagumkan dan ajaran-ajaran yang tak lekang oleh waktu. Michael menemukan 
fakta-fakta ilmiah yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Quran sejak 1400 
tahun yang lalu.

          Dari sekian banyak hal yang Michael pelajari tentang Islam lewat 
buku-buku dan riset. Satu hal yang paling membuatnya tertarik adalah kata 
"Islam" yang dijadikan nama agama Islam disebut beberapa kali dalam al-Quran.

          "Dari studi-studi yang sudah saya lakukan sebelumnya, saya tidak 
menemukan satu kalipun kata 'Yudaisme' ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama 
atau kata 'Kekristenan' dalam Kitab Perjanjian Baru. Saya heran mengapa saya 
tidak menemukan dua kata itu dalam dua kitab tersebut!" tukas Michael.

          Ia lalu berpikir lebih dalam menemukan jawabannya. Kata Judaism bisa 
dipisah menjadi "Juda-ism". Begitu juga dengan Christianity bisa dipenggal 
menjadi "Chris-ianity". Siapakah Juda? Juda adalah salah satu pemimpin suku 
Yahudi. Jadi nama agama Judaisme diambil dari nama orang. Hal yang sama buat 
Kekristenan yang diambil dari kata Christ nama untuk Yesus.

          Michael akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Christianity dan 
Judaism tidak disebut-sebut dalam kitab suci karena kedua nama itu datangnya 
dari manusia dan bukan dari Tuhan. Sedangkan Islam adalah nama agama yang 
datangnya dari Tuhan.

          "Oleh sebab itu ajaran Kristen dan Yudaisme tidak kredibel. 
Setidaknya dari perspektif saya, kedua ajaran tersebut tidak murni, tidak logis 
dan tidak lengkap," kata Michael.

          Ia melanjutkan,"Islam adalah satu-satunya nama agama yang 
disebut-sebut dalam al-Quran. Ini punya arti yang besar buat saya."

          "Saya sadar, bahwa saya harus mengikuti ajaran Islam. Kemudian saya 
memilih menjadi seorang Muslim. Saya telah menemukan kebenaran. Saya sudah 
keluar dari kegelapan dan menemukan cahaya ... cahaya Islam," tandas Michael. 
(ln/readingislam/ iol)

          Shalom,

          Tawangalun. 




       

<<image002.jpg>>

Kirim email ke