Syech Pujiono Adalah Korban Pelanggaran Hukum Oleh Pemerintah RI
                              
Haji Syeh Pujiono adalah satu saja contoh korban dari pelaksanaan hukum yang 
tidak konsistent, hukum yang ambiquity, hukum yang double standard.

Masih ada jutaan korban2 lainnya, tapi mungkin hanya Haji Syeh Pujiono ini saja 
yang menjadi korban pemerasan paling dahsyat karena dia adalah milyarder Jawa 
dimasa kini.  Dimasa ekonomi yang susah begini mana ada polisi atau anggauta2 
MUI yang tidak kelaparan melihat korban seperti haji Syeh Pujiono yang tebal 
sekali dompetnya.

Kita semua seharusnya menyadari, bahwa kita sendiri pada suatu saat menjadi 
korban seperti ini dengan cara2 yang lain.  Hukum bisa di-bolak balik sehingga 
tanpa pelanggaran pun anda bisa dipenjara dengan tuduhan melanggar.

Seharusnya dinegara ini hanya satu saja hukum yang berlaku, tapi kenyataannya 
ada double standard, hukum Syariah Islam diakui dan juga hukum Pancasila sama2 
diakui dimana kedua hukum ini dipraktekkan secara sama2 dominant-nya.

Syariah Islam tidak melarang cara2 pernikahan Syech Pujiono, tapi hukum 
Pancasila malah melarangnya.  Dilain kesempatan ajaran Syariah Islam diajarkan 
disemua sekolah2 diseluruh Indonesia sementara hukum Pancasila tidak diajarkan 
dengan seksama.  Lebih konyol lagi, pernikahan Syech Pujiono ini disyahkan oleh 
Dept. Agama, padahal kalo memang dianggap melanggar, maka Dept. Agama tidak 
seharusnya mengesyahkan pernikahan ini.

> "Sunny" <am...@...> wrote:
> Refleksi: Aduh ! Alangkah  berat penderitaan
> Syekh Puji. Sudah linglung ditambah tidak
> bisa tidur. Barangkali obat mujarabya untuk
> penderitaan Syekh Puji ialah bantal guling.
> Kalau pihak penjara izinkan untuk diperoleh
> obat bantal guling, mungkin sekali derita
> jasmaniah dan rochaniah Syekh Puji bisa teratasi
> dengan sempurna.
> Jawa Pos
> [ Jum'at, 20 Maret 2009 ] 
> Meringkuk di Sel Tahanan, Syekh Puji
> Linglung dan Tak Bisa Tidur 
> SEMARANG - Empat hari menjalani pemeriksaan
> maraton dan meringkuk di sel tahanan
> Mapolwiltabes sejak Rabu (18/3) malam
> mengakibatkan kondisi Pujiono Cahyo Widianto
> alias Syekh Puji drop. Selain menjadi lebih
> pendiam, dia mulai tampak linglung.
> 

Seharusnya yang dituntut dan dipenjarakan itu bukanlah Syech Pujiono tetapi 
aparat2 dari Dept.Agama yang ditangkap karena mengesyahkan pernikahan ini.

Apalah daya Syech Pujiono dalam pernikahan seperti ini yang lazim berlangsung 
sejak lebih dari seribu tahun yang lalu.  Apalagi semua pelajaran tentang hukum 
dari SD hingga tammat SMA hanyalah dicekoki hukum2 Syariah Islam yang 
sebenarnya melanggar HAM dan UUD Pancasila.

Pemerintah seharusnya berani menyatakan dengan tegas bahwa Syariah Islam 
dilarang dan tidak berlaku di Indonesia karena UUD dan Pancasila menegakkan HAM 
bukan Syariah Islam.  Pemerintah juga seharusnya berani menyatakan bahwa 
Syariah Islam melanggar HAM dan tidak boleh dipraktekkan di Indonesia.

Sebaliknya katimbang melarang, malah pemerintah melalui Dept.Agamanya dan MUI 
memutar balik kenyataan, mereka mendakwahkan bahwa Syariah Islam lebih mulia 
daripada HAM, daripada mengajarkan HAM lebih baik mengajarkan Syariah Islam.

Lalu dimana letak kesalahan Syeh Pujiono secara hukum kalo kenyataannya Syariah 
Islam diakui pemerintah untuk ditegakkan dan diajarkan diseluruh Indonesia ini 
?????

Kita tidak bisa mentertawakan Syeh Pujiono karena dia hanyalah korban dari 
pelanggaran2 yang dilakukan pemerintah dalam mengimplementasikan hukum negara 
secara tunggal dan tegas.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke