Psikobiologi Orientasi Seksual, Fokus pada Homoseksual 






ORANG dengan orientasi seksual sesama jenis kelamin atau sering disebut 
homoseksual sering kali mendapatkan perlakuan yang tidak layak di masyarakat.



Mereka sering kali dianggap sebagai manusiamanusia dengan perilaku menyimpang 
dan harus dihindari. Banyak dari mereka mengalami perlakukan kasar karena 
orientasi yang berbeda dengan apa yang diminta masyarakat. Beberapa di 
antaranya sering mendapatkan perlakuan yang tidak sama dengan anggota 
masyarakat pada umumnya. Prevalensi homoseksual di dalam masyarakat yang telah 
diteliti adalah sekitar 3%-4% pada pria dan 1%-2% pada wanita. 

Banyak hal yang telah diungkapkan tentang penyebab dari keadaan ini. 
Faktorfaktor yang paling sering dipelajari adalah apakah ini merupakan 
keinginan sendiri, pengaruh lingkungan atau faktor genetik. Penelitian paling 
sering dijadikan rujukan tentang homoseksual adalah penelitian yang dilakukan 
Kinsey pada 1.000 homoseksual dan 500 heteroseksual. Hasil penelitian ini lebih 
banyak mengatakan kepada kita bahwa lingkungan tidak memengaruhi seseorang 
menjadi heteroseksual atau homoseksual. 

Penelitian ini menghasilkan skala Kinsey yang menempatkan seseorang dalam 
kisaran skala dari homoseksual sejati, biseksual, dan heteroseksual sejati. 
Banyak orang mengatakan bahwa pilihan homoseksual adalah pilihan pribadi. Hal 
ini menjadi sangat meragukan dengan “biaya”yang mahal dengan menjadi 
homoseksual. Bayangkan perlakuan masyarakat yang akan dihadapi..Rasanya pada 
dasarnya tidak semua orang yang akan mau mengambil risiko dibuang dari 
masyarakat dan dianggap tidak bermoral dengan memilih menjadi homoseksual.

 

Beberapa orang mengatakan bahwa homoseksual merupakan hasil produksi kebudayaan 
manusia dan bukan sesuatu yang natural.Pendapat ini dapat diperdebatkan karena 
banyak sekali kondisi homoseksual berlangsung alami pada spesies lain selain 
manusia.Kondisi ini pada spesies lain malah memberikan suatu keuntungan karena 
mereka menjadi mampu menghadapi lingkungan dengan baik. Contohnya adalah burung 
flaminggo yang membesarkan anaknya bukan dengan induk betina,namun dengan 
sesama kelamin jantan. 

Hipotesis neurohormonal mengatakan bahwa orientasi seksual ditentukan hormon 
yang bekerja di otak pada masa perkembangan prenatal.Kondisi neuroanatomi yang 
berbeda juga dapat diperlihatkan pada kondisi homoseksual dibandingkan dengan 
pada kondisi heteroseksual. Pada otak terdapat suatu daerah yang disebut 
interstitial nucleus of anterior hypothalamus ketiga yang jika lebih besar 
ketertarikan kepada perempuan. Sedangkan lebih kecil, maka keterikatan kepada 
laki-laki lebih besar. 

Penelitian mengatakan bahwa heteroseksual mempunyai daerah ini sampai 2- 3 kali 
lebih besar dibandingkan homoseksual. Kesimpulannya adalah tidak ada bukti sama 
sekali yang mengatakan homoseksual adalah suatu pilihan pribadi dan dapat 
dipengaruhi lingkungan.Lain daripada itu malahan bukti bahwa hal ini 
berhubungan dengan kondisi prenatal dan anatomi otak semakin dapat dibuktikan 
keterkaitannya. (*) 

dr Andri SpKJ 
Psikiater, Divisi Kesehatan Jiwa FK Ukrida,Anggota The Academy of Psychosomatic 
Medicine. 
 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/223078/


 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
http://groups.google.com/group/suara-indonesia?hl=id
 
salam
Abdul Rohim


      

Kirim email ke