HR KABAR  SUKACITA: Yes 7:10-14; 8:10;
Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut
perkataanmu itu."

 

“KehendakKu ialah menaklukkan seluruh dunia serta semua musuh, dan
dengan demikian masuk ke dalam kemuliaan BapaKu. Barangsiapa mau ikut Aku dalam
usaha ini, harus bersusah-payah bersama Aku, supaya karena ikut Aku dalam
penderitaan, kelak  dapat ikut pula dalam
kemuliaan” (St.Ignatius Loyola, LR no 95). Kutipan ini adalah bagian dari
bahan perihal kontemplasi “Panggilan Raja” di dalam Latihan Rohani St.Ignatius
Loyola. Bahan ini sebagai renungan bagi retretan yang mulai tergerak hatinya
untuk lebih mengenal Penyelamat Dunia, Yesus Kristus, yang dijanjikan oleh
Allah, yang juga mendambakan keselamatan. Suasana hati retretan dalam
kontemplasi ‘Panggilan Raja’ rasanya mirip dengan suasana hati Maria dan orang
sezamannya yang mendambakan pemenuhan janji Allah tentang Penyelamat Dunia. 
Dalam
dambaan suci tiba-tiba memperoleh ‘pencerahan sekaligus tantangan’ itulah yang
dialami Maria ketika menerima kedatangan malaikat yang berkata:”Salam, hai 
engkau yang dikaruniai, Tuhan
menyertai engkau."…"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh
kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan
melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia
akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah
akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan
menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya
tidak akan berkesudahan."(Luk 1:29-33). Sebagai seorang gadis
mengandung tanpa suami jelas akan menjadi bahan gunjingan yang berat, namun
ketika diberitahu bahwa ia mengandung karena Roh Kudus, maka Maria menjawab: 
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan;
jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38)



"Sesungguhnya
aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
(Luk 1:38)

 

Bunda Maria adalah teladan umat
beriman, maka sebagai orang beriman kita dipanggil untuk meneladannya, antara
lain dengan menyatakan dan menghayati sebagaimana dinyatakan oleh Bunda Maria
:”Sesungguhnya aku ini adalah hamba
Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Seorang hamba atau pelayan
memiliki tugas utama ‘melayani’ orang lain. “Melayani” dalam bahasa Latin 
“servire/servio”  antara lain dapat berarti mengabdi, baik untuk/berguna, 
menolong, menurut kehendak orang,
mengusahakan, membaktikan diri kepada, memusatkan pikirannya, mengerahkan
kekuatan untuk, mengindahkan, menghiraukan (lih Drs.K.Prent CM, Drs
J.Adisubrata, WJS Poerwadarminta: Kamus Latin-Indonesia,  Kanisius 1969 ,  hal 
787). Maka menjadi hamba atau pelayan yang
memiliki tugas utama melayani berarti cara hidup dan cara bertindaknya seperti
arti dari ‘servio’ di atas dimanapun dan kapanpun.

 

Cara hidup dan cara bertindak
seorang hamba atau pelayan senantiasa membahagiakan atau menyelamatkan orang
lain dan lingkungan hidupnya, ia setia dan taat pada apa yang dikatakan atau
diperintahkan oleh tuan-tuannya. Sebagai hamba Tuhan berarti senantiasa dengan
penuh kesetiaan dan ketaatan melaksanakan perintah-perintah atau sabda-sabda
Tuhan,  yang antara lain tertulis di
dalam Kitab Suci serta ‘diterjemahkan’ ke dalam aneka macam bentuk konstitusi,
pedoman hidup, anggaran dasar hidup bersama. Jiwa atau semangat melayani ini
hemat saya pertama-tama dan terutama harus dihayati oleh mereka yang
berpengaruh dalam hidup bersama, para pemimpin atau atasan, sehingga cara hidup
dan cara bertindak pemimpin atau atasan dapat menjadi teladan bagi para anggota
atau bawahannya. Marilah kita mendukung dan meneladan para gembala Gereja yang
senantiasa menyatakan dan mengusahakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’
dalam menggembalakan atau melayani umat. 

 

Hamba atau pelayan yang baik pada
umumnya bekerja keras dan tidak pernah menggeluh atau menggerutu, juga ketika
harus menerima perlakuan yang tidak enak atau tidak baik dari yang dilayani.
Hamba atau pelayan senantiasa bersusah payah membahagiakan mereka yang harus
dilayani, tidak pernah bermalas-malas atau bekerja seenaknya, menurut selera
pribadi. Hamba atau pelayan yang baik senantiasa juga mengenali dengan baik
mereka yang harus dilayani, sehingga pelayanannya diterima dengan senang hati
dan gembira. Hamba atau pelayan berusaha menggembirakan mereka yang dilayani,
maka panggilan  bagi kita untuk melayani
yang lain berarti cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun
senantiasa menggembirakan yang lain. Kita adalah pewarta-pewarta kabar gembira,
apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. 

 

“Di
atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban
penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya"
-- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat --.Dan kemudian kata-Nya:
"Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia
hapuskan, supaya menegakkan yang kedua” (Ibr 10:8-9).    

 

“Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa”  pada 
umumnya bersifat liturgis atau formal
atau bahkan ‘sandiwara’. Yang menjadi korban adalah orang atau yang lain. Hal
ini sering terjadi tidak hanya dalam upacara liturgis atau keagamaan saja,
tetapi juga terjadi di dalam hidup sehari-hari, dimana orang cenderung
menampilkan ‘bungkus’ atau apa yang kelihatan, bukan ‘isi’ atau tindakan
konkret sehari-hari. Kita semua sebagai orang beriman dipanggil untuk bersikap
: “Sungguh, aku datang untuk melakukan
kehendakMu/kehendak Tuhan”, dengan kata lain menjadi pelaksana-pelaksana
kehendak Tuhan dalam hidup, tugas pengutusan, pekerjaan, jabatan atau fungsi
sehari-hari. Kita dipanggil untuk berbudi pekerti luhur, dengan pemahaman 
“Sesungguhnya, pengertan budi pekerti yang
paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula
sikap yang dicerminkan oleh perilaku” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman
Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 4). 

 

"Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu
melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?Sebab itu Tuhan
sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang
perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia
akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:13-14),
demikian kata nabi Yesaya kepada keluarga Daud. Kata nabi Yesaya ini kiranya
dapat menjadi permenungan atau refleksi kita: dari cara hidup dan cara
bertindak kita diharapkan ‘lahir Imanuel’
, dihasilkan buah-buah yang mendorong dan memotivasi siapapun yang kena dampak
hidup dan bertindak kita untuk senantiasa mengimani penyertaan atau
pendampingan Tuhan dalam dirinya yang lemah dan rapuh. Tentu saja dari diri
kita sendiri senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, karena kita adalah
pelaksana-pelaksana kehendak Tuhan. Marilah meneladan Imanuel “yang walaupun 
dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib” (Fil 2:6-8) 

    

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian,
tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa
tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam
gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya
Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam
jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya
TUHAN. Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan
keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan
kepada jemaah yang besar.”  (Mzm
40:7-11)



Jakarta, 25
Maret 2009




      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke