Mg  Prapaskah V : Yer 31:31-34; Ibr 5:7-9; Yoh
12:20-33

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati,
ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”

 

Ketika ada anak/manusia baru
dilahirkan pada umumnya hanya orang-orang tertentu yang datang memberi ucapan
selamat, sebaliknya ketika ada orang dipanggil Tuhan atau meninggal dunia pada
umumnya tanpa diundang mereka yang kenal akan datang berbondong-bondong untuk
melayat, apalagi jika yang meninggal dunia adalah tokoh penting dan baik.
Ketika sang tokoh dalam keadaan sakit keras, alias hampir dipanggil Tuhan atau
menyerahkan diri seutuhnya pada Tuhan juga banyak orang yang berkunjung atau
mendoakannya. Sebagai contoh, lepas dari benar atau tidak benar, ketika
pimpinan FPI ditangkap oleh yang berwajib dan diancam hukuman, maka ribuan
anggota FPI muncul dan demo, demikian juga ketika tiga tertuduh bom Bali I atau
provokator kerusuhan Poso akan dieksekusi. Dari antara para pendemo antara lain
muncul sesumbar :”Mati satu tumbuh
seribu”. Dan memang ketika ada korban kebenaran yang mati sebagai pembawa
kebenaran maka muncullah pembawa-pembawa kebenaran baru; ia bagaikan biji
gandum yang jatuh ke tanah dan mati, serta kemudian menghasilkan pohon gandum
yang subur serta menghasilkan banyak biji-biji gandum  

 

“Sesungguhnya
jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji
saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24) 

 

"Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap
satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa
tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang
kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada,
di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati
Bapa” (Yoh 12:23-26), demikian
sabda Yesus kepada mereka yang mengikutiNya. Yesus telah menyerahkan
‘nyawaNya’, hidup dan cara bertindakNya bagi kebahagiaan dan keselamatan
seluruh umat manusia di dunia, dan Ia akan segera memperembahkan secara konkret
dengan menderita dan wafat di kayu salib, serta dibangkitkan dari mati ‘untuk 
hidup yang kekal’. Maka marilah
kita yang beriman kepadaNya meneladan cara hidup dan cara bertindakNya serta
melaksanakan sabda-sabdaNya. 

 

“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi
barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk
hidup yang kekal”: sabda inilah yang kiranya baik kita renungkan atau
refleksikan. Nyawa antara lain berarti gairah hidup, semangat, cita-cita,
dambaan atau harapan, maka menyerahkan nyawa di dunia.ini berarti mengarahkan
dan mempersembahkan  gairah hidup,
semangat, cita-cita, dambaan atau harapan bagi keselamatan dan kebahagiaan umum
atau orang lain, dan dengan demikian kita sendiri akan selamat dan bahagia.
Dengan kata lain hendaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan aturan atau
tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, setia
pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan. 

 

Para suami
dan isteri yang pernah saling berikrar atau berjanji untuk saling mengasihi
baik dalam untung dan malang, sehat
maupun sakit sampai mati, hemat saya dapat menjadi teladan bagi anak-anak
maupun sesama di lingkungan hidupnya. Pengalaman akan kesetiaan dalam saling
mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap
tenaga/tubuh yang terjadi di dalam keluarga antar suami-isteri akan menjadi
bekal yang mendalam dan membekas dalam diri anak-anak, yang telah lahir melalui
kasih suami-isteri. Bukankah ‘saju biji/sel telur satu ditembus satu sel sperma’
dalam tindakan saling menyerahkan diri tumbuhlah buah baru, seorang anak
manusia, yang menggembirakan dan membahagiakan? Dengan kata lain para
suami-isteri memiliki pengalaman khusus dalam menghayati sabda Yesus untuk
tidak mencintai nyawanya di dunia ini, melainkan menyerahkan seutuhnya kepada
orang lain. Pengamatan dan pengalaman saya menunjukkan bahwa orang-orang atau
pribadi-pribadi yang sungguh mempersembahkan hidupnya dalam tugas, panggilan
atau pengutusan, jabatan, kedudukan atau fungsi bagi sesamanya pada umumnya
berasal dari keluarga-keluarga yang taat-setia, suami-isteri yang taat-setia
pada janji-janjinya. 

 

“Dalam
hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan
ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut,
dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan “ (Ibr 5:7) 

 

Saleh rasanya dekat dengan kata
Jawa “sumeleh”. “’Sumeleh’ bukan berarti
berdiam diri atau mengharapkan pemberian saja. Tetapi harus berusaha untuk
selalu melakukan yang terbaik, meski apa yang dilakukannya belum tentu dianggap
benar menurut orang lain. Yang terpenting adalah komitmen untuk tetap semangat
dan melakukan yang terbaik” (http://gemari.or.id) .Kiranya kita semua
dipanggil untuk meneladan Dia yang “telah
mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada
Tuhan”  yang dijiwai oleh kesalehan.
Dalam masa Prapaskah ini marilah kita tingkatkan dan perdalam hidup doa kita,
entah berdoa bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Kita juga dipanggil
untuk senantiasa melakukan yang terbaik dalam hidup, tugas pekerjaan dan
pengutusan kita. 

 

Yang terbaik hemat saya adalah
keselamatan jiwa manusia, entah jiwa kita sendiri maupun orang lain atau sesama
kita. Maka dimana ada kemungkinan lebih banyak jiwa diselamatkan, kesitulah
kita dipanggil; dengan kata lain marilah kita cari dan datangi tempat-tempat,
apa-apa atau siapa-siapa saja yang tidak atau belum selamat serta membutuhkan
keselamatan, lebih-lebih keselamatan 
jiwa. Keselamatan jiwa hendaknya menjadi tolok ukur atau barometer
keberhasilan atau kesuksesan cara hidup dan cara bertindak kita. “Ciptaan lain 
di atas permukaan bumi
diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan
(yaitu keselamatan jiwa). Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu
menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus 
melepaskan diri dari barang-barang tersebut sejauh itu merintangi
dirinya” (St.Ignatius Loyola, LR no 23).

 

Marilah dengan teliti, cermat,
tekun dan rendah hati kita lihat ‘barang-barang apa saja’ yang menolong atau
merintangi kita untuk mengejar dan mengusahakaan keselamatan jiwa.
Barang-barang yang menolong kita untuk mengejar keselamatan jiwa hendaknya
dengan segala upaya dipergunakan sebaik mungkin, sebaliknya yang merintangi
segera kita lepaskan atau singkirkan/buang. Sebagai contoh adalah aneka macam
jenis sarana-prasarana modern dan canggih, misalnya HP, internet, kendaraan,
dst.. Dalam kenyataan dapat dilihat bahwa cukup banyak orang lebih dikuasai
oleh sarana-prasarana tersebut daripada menguasai. Kita dipanggil dalam
kesalehan mempergunakan sarana-prasarana tersebut demi keselamatan jiwa kita
sendiri dan sesama kita. :”Aku akan
menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka
Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”(Yer 31:33),
demikian  janji Tuhan kepada bangsa
terpilih, kepada kita semua orang beriman. Diharapkan isi batin dan hati kita
adalah Taurat Tuhan atau kehendak Tuhan, sehingga kita senantiasa mengusahakan
dan melakukan apa yang terbaik demi keselamatan jiwa kita dan sesama kita.

 

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan
roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil
roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena
selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku
akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya
orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (Mzm 51:12-15)



Jakarta, 29
Maret 2009

     

 




      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/

Kirim email ke