Runtuhnya Dunia Atribut.


Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan mencampakkan
pakaian lamanya yang usang, begitu pula sang jiwa menerima badan-badan
jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan usang yang tidak
berguna itu.



Para Pemulung Atribut.



Dalam kehidupan duniawi, apa yang kita lakukan adalah 'memulung
atribut'. Berbagai atribut kita pulung, mulai dari profesi, pangkat,
jabatan, bahkan hingga atribut-atribut sosio-kultural-religius. Itu
adalah atribut yang kita pulung, kita koleksi, kita kenakan dan lekatkan
lapis demi lapis pada diri ini. Belum lagi atribut yang kita bawa sejak
lahir, sebagai efek langsung dari kelahiran kita, seperti wangsa, marga,
suku, ras dan bangsa dan sebagainya. Nah...jadilah kita sesosok makhluk
yang tebal, sarat dan ringkih dengan berbagai atribut.



Baik atribut-atribut yang terbawa sejak lahir maupun yang dilekatkan
kemudian, mengkondisikan eksistensi kita di masyarakat, di antara
manusia lainnya. Masyarakat melihat kita dengan cara seperti itu;
belajar daripadanya, maka kitapun percaya bahwa demikianlah seharusnya
melihat seseorang. Lambat-laun, berjalan bersama waktu, tanpa disadari
kitapun malah ikut menyangka diri kita sebagai atribut-atribut itu. Al
hasil, kita mengidentifikasikan diri sebagai atribut-atribut itu.
Nah...dari sinilah muncul ungkapan-ungkapan seperti: 'Saya orang Bali.',
'Saya orang Batak', `'Saya orang Jawa', 'Saya orang Indonesia',
'Saya dokter', 'Saya insinyur', 'Saya Gubernur', 'Saya Dosen', ,
dsb...dsb.



Sebagai para pemulung atribut, kita berdedikasi terhadapnya. Kita siap
sedia mengerahkan tenaga, memporsikan waktu, memeras otak dan keringat
bahkan --bilamana dipandang perlu-- mempertaruhkan jiwa-raga untuk
memperolehnya.



Dunia-dunia Atribut.



Sebagai konsekwensi dari penyandangan atribut-atribut itu, kitapun
merasa punya kewajiban-kewajiban melekat, yang tak terpisahkan dari
atribut tersebut. Kita juga merasa pantas ataupun tak pantas melakukan
sesuatu sehubungan dengannya. Lalu kita merasa perlu untuk membentuk
sebuah lingkungan, sebuah dunia tersendiri, dunia yang eksklusif, dunia
yang berbeda dengan dunia-dunia lainnya. Para penduduk dunia kita itu
tiada lain adalah para penyandang atribut sejenis, dimana kita merasa
cocok berada di dalamnya, merasa diterima di dalamnya, oleh karenanya
kitapun merasa 'aman dan nyaman' berada di dalamnya.



Disinilah sesungguhnya setiap orang hidup; di dunia atribut yang
dibangunnya sendiri berdasarkan atribut yang disandang atau disandangkan
pada mereka, berdasarkan minat dan bakatnya masing-masing. Apa yang
mereka pikirkan, yang mereka bicarakan dan yang mereka perbuat
menjadikan mereka semakin eksklusif dan terpisah dunia-dunia lainnya.
Mereka berkarier disana, mereka mengambil posisi yang dianggap layak dan
terposisikan sesuai kiprahnya, mereka merasa 'terlindung' di dalamnya.



Di dunia atribut ini, ada tatakramanya, ada sistem nilai dan
penjenjangannya, ada aturan-aturan main yang harus dipatuhi. Sebagai
konsekwensinya, perlu diadakan pula penghargaan-penghargaan dan
sangsi-sangsi atau denda. Oleh karenanya, di dalamnya juga ada
persaingan, ada perselisihan, dan sebagainya yang serupa dengan dunia
luar yang umumnya kita kenal. Mereka juga punya para pemimpin, para
tetua, para sesepuh dan melengkapi diri dengan struktur hierarki.





Dengan Sadar melepas sendiri.



Mungkin saja kehidupan di atas terlalu didramatisir, akan tetapi,
fakta-fakta yang kurang lebih serupa dengan mudah dapat kita saksikan di
sekeliling kita setiap waktu, bila kita mau sedikit peduli.



Menyaksikan dan menyadari bahwa kita semua adalah para pemulung atribut,
yang hidup di dunia-dunia atribut, serta mengetahui dan menyaksikan
betapa akan menyakitkannya bila suatu ketika dunia atribut itu runtuh,
bila suatu ketika kita dipaksa oleh 'keadaan' menanggalkan atribut demi
atribut itu, kita tentu tidak berkeberatan untuk mempersiapkan diri.





Bila diibaratkan kita ini sebagai manusia yang telah terlanjur
mengenakan sedemikian banyak baju-baju dan sweater-sweater di musim
dingin. Ketika musim panas datang, kita kegerahan, merasa sumpek dan
ingin melepaskannya satu persatu. Nah...dalam konteks ini penyederhanaan
yang kita maksudkan terfokus pada pelepasan, atau mungkin lebih tepat
disebut penyangkalan, terhadap atribut terluar. Demikian seterusnya
secara susul-menyusul hingga hanya pakian dalam yang tersisa. Yang
teramat penting disini adalah, semua itu kita lakukan dengan penuh
kesadaran, rasa tanggung-jawab dan tanpa paksaan atau desakan dari luar
samasekali. Dalam sikap batin seperti itulah kita melakoninya.



Dengan melepas satu per satu atribut-atribut tersebut dengan suka-rela
tidaklah menyakitkan, dan kitapun tak perlu berprilaku ekstrim di mata
umum karenanya. Dengan cara itu, kegerahanpun sirna secara
berangsur-angsur, sementara cukup waktu bagi kita untuk beradaptasi.
Waktu adaptatif, betapapun amat penting bagi kita untuk mengurangi
kejutan-kejutan yang tak perlu, tidak kondusif dan mengganggu.





If the day is done,

if birds sing no more,

if the wind has flagged tired,

then draw the veil of darkness thick upon me,

even as thou hast wrapt the earth with the coverlet of sleep

and tenderly closed the petals of the drooping lotus at dusk.

>From the traveller, whose sack of provisions is empty before the voyage
is ended,

whose garment is torn and dustladen,

whose strength is exhausted,

remove shame and poverty,

and renew his life like a flower under the cover of thy kindly night.

[Rabindranath Tagore]





Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS. Lukman : 19)

("Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu")



Dan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap
kepadanya. Maka, berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.(QS.
Al-Baqarah: 148)


Dan, Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa
derajat.(QS. Al-An'am: 165)


Sungguh, tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya
(masing-masing).(QS. Al-Baqarah: 60)


Setiap manusia memiliki kelebihan, potensi dan bakat masing-masing. Dan,
jika kita mencontoh salah satu keagungan Rasulullah adalah kemampuannya
untuk menempatkan setiap sahabatnya sesuai dengan kemampuan, bakat, dan
kesiapan mereka masing-masing.



Ali misalnya, ditempatkan pada posisi kehakiman, Mu'adz dalam
masalah keilmuan, Ubay yang menyangkut al- Qur'an, Zaid dalam
masalah Faraidh, Hassan dalam masalah syair, dan Qais ibn Tsabit dalam
orasi.


Menempatkan parfum di tempat pedang tentu sangat berbahaya sebagaimana
pedang kala ditempatkan di tempat parfum.


Larut dalam kepribadian orang lain pada hakikatnya adalah bunuh diri.
Memakai baju kepribadian orang lain adalah sebuah pembunuhan yang
direncanakan. Salah satu tanda kebesaran Allah adalah perbedaan sifat
yang ada pada manusia dan karakter yang mereka miliki, serta perbedaan
bahasa dan warna kulit mereka. Abu Bakar dengan kelembutan dan wataknya
yang pengasih telah memberikan manfaat bagi umat dan agama. Umar dengan
sikapnya yang keras dan keteguhannya telah membangkitkan Islam dan
pemeluknya. Artinya, menerima dengan penuh kerelaan pemberian yang ada
pada diri Anda, merupakan karunia. Oleh sebab itu, kembangkanlah,
tumbuhkanlah, dan dapatkanlah manfaat darinya.



Allah, tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya.(QS. Al-Baqarah: 286)


Taklid buta dan terlalu mudah melebur ke dalam kepribadian orang lain
merupakan penguburan hidup-hidup terhadap bakat yang Allah berikan,
pembunuhan terhadap kemauan, dan penghancuran sistem terhadap karakter
penciptaan manusia itu sendiri. Wallahu A'lam.



Note : Dari berbagai sumber

Kirim email ke