http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=25870

      Selasa, 31 Mar 2009, | 9 

      Kenaifan  
     
      ''Tsunami kecil'' Jumat dini hari lalu (27/30) di Tangerang Selatan 
adalah musibah alam. Maka, kalau hingga Minggu sore (29/3) sudah 94 orang yang 
ditemukan tewas dan 105 orang masih hilang, itu adalah takdir. 
      Ajal mereka sudah digariskan Yang Di Atas bahwa mereka ditakdirkan 
meninggal karena terseret air bah bercampur lumpur hasil murka tanggul jebol 
Situ Gintung. 

      Karena sudah takdir dan banjir besar yang dimuntahkan Situ Gintung itu 
bencana alam, tak banyak pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban hukum. 
Bakal tidak ada pihak yang salah. Bakal tidak ada orang yang dengan 
kewenangannya harus berurusan dengan hukum. Kalau benar demikian -musibah itu 
karena bencana alam yang tidak terduga alias tiba-tiba-, mengapa negeri ini 
begitu gampang terkena musibah? Mengapa Tuhan itu tidak adil dengan memberikan 
banyak musibah alam kepada negeri dan bangsa Indonesia? 

      Sebelum tanggul Situ Gintung jebol, sejak Desember 2008 hingga Maret ini 
(empat bulan) lebih dari 200 orang tewas akibat banjir dan longsor. Kalau 200 
lebih warga Indonesia yang tewas akibat banjir, longsor, dan tanggul jebol itu 
semua akibat bencana alam yang tidak terkirakan, itu kian menambah keengganan 
kita introspeksi.

      Dengan kata lain, ke depan terhadap ancaman banjir, longsor, atau tanggul 
jebol tidak bakal ada sikap untuk memperbaiki diri. Tidak bakal ada apa yang di 
Jepang dan Korea -karena dua negeri ini sering mengalami ancaman bencana 
seperti kita- disebut sebagai sikap konsolidasi sosial. 

      Sikap konsolidasi ialah ikhtiar untuk terus-menerus berubah memperbaiki 
diri menjadi lebih baik dan sigap menghadapi ancaman bencana agar kerugian dan 
kemungkinan korban dapat diperkecil.

      Coba kita simak ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil 
Presiden M. Jusuf Kalla mengunjungi lokasi musibah. SBY saat itu mengatakan, 
musibah air bah muntahan Situ Gintung karena tanggulnya jebol itu adalah 
bencana alam.

      Pernyataan seperti itu merupakan preseden kurang bagus. Bukankah sangat 
banyak kalangan yang yakin bahwa tanggul jebol itu bukan karena semata-mata 
Situ Gintung harus menampung volumen air amat besar karena hujan deras yang 
mengguyur Tangerang dan sekitarnya beberapa saat sebelum tanggul itu jebol.

      Sangat banyak yang yakin bahwa tanggul Situ Gintung jebol karena sudah 
uzur. Tanggul itu dibangun Belanda pada 1931. Meski banyak pula kalangan yang 
berpendapat bahwa kualitas bangunan tanggul itu masih layak tetap saja patut 
diragukan. 

      Mengapa? Sebab, dalam rentang usia yang sudah 78 tahun itu ekosistem dan 
lingkungan di sekitar Situ Gintung sudah berubah total. Misalnya, kemampuan 
daya serap tanah terhadap air sudah amat berkurang karena tata ruang yang makin 
padat sehingga kemampuan serapnya menjadi sangat kecil.

      Mengapa, misalnya, bangunan yang terus tumbuh subur di daerah resapan air 
itu dibiarkan? Bukankah dengan pembiaran itu kian menambah beban Situ Gintung 
untuk menampung kucuran hujan dengan volume besar? Bukankah itu kian berat 
beban tanggul Situ Gintung yang sudah uzur? 

      Kalau seperti itu, apakah musibah Situ Gintung masih pantas dan tepat 
untuk disebut sebagai bencana alam? Ini harus menjadi pelajaran yang kali 
kesekian bagi siapa pun. Rasanya naif jika jebolnya tanggul itu hanya karena 
bencana alam. **  

Kirim email ke