Andrea Hirata: Menulis itu Elegan
----------------------------------
---Anwar Holid


Pada Selasa, 7 April 2009, hampir dua ribu guru dari sekolah-sekolah di Jakarta 
Pusat berkumpul di Aula Senayan City untuk mengikuti talkshow Kemuliaan 

Mengajar (Nobility of Teaching) yang menghadirkan penulis Andrea Hirata dan 
Arvan Pradiansyah, ditemani host Soraya Haque. 

JAKARTA - Sejak mulai menulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata boleh 
dibilang menjadi salah satu penulis paling hip di Indonesia saat ini; sementara 

Arvan Pradiansyah makin memantapkan diri sebagai penulis motivasi dan 
kepemimpinan setelah menerbitkan The 7 Laws of Happiness.

Penerbit Mizan menyelenggarakan acara itu bekerja sama dengan pemerintah kota 
Jakarta Pusat, Telkom Divre II, Sampoerna Foundation, ditambah pihak 

Senayan City yang menyediakan fasilitas aula begitu lega bagi guru-guru yang 
datang sejak pagi dan terlihat antusias mengikuti acara, meski di awal 
pembukaan 

terasa agak banyak basa-basi, membuat acara inti jadi sedikit terlambat. 
Kondisi ini tampak memaksa Soraya Haque berinisiatif mengubah set acara. Dia 

langsung menarik kedua pembicara untuk fokus membicarakan apa itu kemuliaan 
mengajar, mengaitkannya dengan Mukjizat Menulis (Miracle of Writing). 

Andrea dan Arvan pada dasarnya menekankan betapa mulia berprofesi sebagai guru. 
Sebagai mantan murid sekolah, keduanya telah merasakan kemuliaan 

para guru dan menerima teladan yang mustahil terlupakan. Buktinya, karya Andrea 
dipersembahkan bagi gurunya, sementara Arvan selalu mencari opsi untuk 

tetap bisa menjadi dosen di almamaternya, FISIP UI, bila kerja di suatu 
perusahaan, dan itu berjalan lebih dari 13 tahun.

Laskar Pelangi menguak guru sekolah dasar bernama ibu Muslimah yang selalu 
berhasil memenuhi kehausan ilmu sepuluh muridnya, dan ini ditunjang oleh 

kepala sekolah yang begitu rela berkorban, Harfan
Effendy Noor. Drama pendidikan di sekolah sederhana di pulau terpencil itulah 
yang hingga kini menyihir ratusan ribu--bahkan konon jutaan--pembaca 

Indonesia, dan tampaknya tetap menimbulkan rasa penasaran kecuali ditanyakan 
langsung kepada saksi mata terdekatnya: Andrea Hirata.

"Menjadi guru di zaman sekarang harus powerful, kreatif, bisa berpikir di luar 
yang lazim. Itu baru bisa tercapai bila setiap guru punya kecintaan pada 
profesi, 

punya karakter. Pendidikan itu mestinya merupakan perayaan, ilmu itu 
tantangan," kata Andrea mengomentari idealisasi tentang pengajaran. Andrea 

menyayangkan bahwa sejak dulu terjadi pemarjinalan terhadap profesi guru, ini 
terbukti dari perlakuan kurang adil terhadap guru maupun prioritas anggaran 

pendidikan.

Untuk menekankan kemuliaan pengajaran Andrea menyatakan, "Guru yang mulia itu 
seperti sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan." 

Pengajaran yang berhasil berbekas pada murid yang mencintai guru, terinspirasi 
oleh teladan yang dia berikan. Pada suatu kesempatan, Andrea pernah berujar, 

"Yang penting buat saya ialah bagaimana cara agar sekarang dunia pendidikan 
kembali melihat warisan yang ditinggalkan guru-guru seperti ibu Muslimah dan 

pak Harfan."

Bagi Andrea sendiri, Laskar Pelangi merupakan kisah tentang guru yang ditangkap 
oleh seorang muridnya, merekam warisan pendidikan dari satu jenjang ke 

jenjang berikutnya. Energi itu terus berlangsung sampai pada buku keempat, 
Maryamah Karpov, ketika Ikal--protagonis tetralogi itu--berhadapan dengan 

guru-guru asing di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis, yang berkarakter lain 
sekali dibandingkan guru lamanya di kampung.

Sesi tanya jawab menjelaskan seberapa penasaran sebenarnya publik kepada 
Andrea. Rasanya lebih seperti jumpa fans, bahkan sejumlah guru menyatakan 

seakan-akan mimpi sampai bisa bertemu dengan penulis yang buku-bukunya telah 
memberi semangat kepada profesi mereka, membuat dunia pendidikan 

menjadi begitu penting, harus diperhatikan, dan mendapat prioritas. Pertanyaan 
yang muncul mulai dari hal sepele, masa-masa sekolahnya, berbagi pengalaman 

menulis, hingga "bagaimana cara menjemput hikmah?"

"Yang saya harapkan dari tulisan-tulisan saya ialah ia memberi inspirasi, bukan 
semata menjual," kata Andrea pernah pada suatu kesempatan. Antusiasme 

publik jelas membuktikan itu. Buku dan kepenulisan telah mengantarkan Andrea ke 
status yang sulit dibayangkan sebelumnya. Bila dulu di awal Laskar Pelangi 

terbit sebagian orang menyebutkan dia beruntung, kini semua yang telah dia 
tulis, lihat, nilai, dan rasakan menjadi "mukjizat" yang menyemangati dan 

mengilhami banyak orang.

Tentang kemampuan menulisnya, dengan gaya khas dan merendah, Andrea menyatakan 
bisa jadi dia bisa menulis karena dirinya orang Melayu. "Orang 

Melayu itu dalam keadaan marah masih bisa berpantun atau menyatakan metafora," 
kata dia disambut tawa peserta. Tapi lebih dari itu, awalnya ialah dia 

termotivasi. "Ketika melihat beliau jalan kehujanan hanya berpayung daun pisang 
menuju sekolah kecil kami, dalam hati saya berjanji akan menulis buku untuk 

mengenang ibu Muslimah," ucapnya. Janji itu dipenuhi, dan muncul mengejutkan. 
Kenapa memilih tulisan, bukan lainnya? Jawab Andrea: "Menulis itu elegan."

Talkshow bertema Kemuliaan Mengajar (Nobility of Teaching) pertama kali diusung 
Mizan pada 2007, ketika Mizan mengadakan acara tersebut dengan 

mengundang seribu guru di Bandung dan sekitarnya sekalian membagi gratis buku 
pertama Laskar Pelangi.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

KONTAK: war...@yahoo.com | (022) 2037348 | 0857 215 111 93 | Panorama II No. 26 
B, Bandung 40141

Situs terkait:
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.mizan.com




      

Kirim email ke