Salam...

Dewasa ini filsafat tidak mendapatkan perhatian dan pembahasan yang cukup dari 
kita semua, untuk itu mudah-mudahan tulisan ini bisa menambah pengetahuan kita 
tentang filsafat sebagaimana adanya filsafat.
 
Sebelum membicarakan filsafat ada baiknya kita membicarakan sedikit pengantar 
tentang cara mendefinisikan suatu perkara. Ini penting karena masih banyak 
diantara kita salah kaprah dalam menerima arus informasi global. Cara 
pendefinisian  dibagi menjadi dua. Pertama adalah pendefinisian Verbal (lafzhi) 
dan yang kedua adalah pendefinisian Arti Nyata (Maknawi).
 
Pendefinisan verbal (lafzhi) adalah cara mendefinisikan dengan maksud 
menjelaskan pengertian dari kosa kata yang digunakan atau menjelaskan 
pengertian dari istilah yang digunakan  (linguistik).

Sedangkan pendefinisian Arti Nyata (maknawi) adalah cara mendefinisikan dengan 
mengungkapkan makna sebenarnya (hakekat) dari ke ‘apa’ an sesuatu.
 
Ketika seseorang bertanya, apakah yang dimaksud dengan ‘merpati’ . Sering kita 
temui bahwa maksud dari sipenanya dapat berbeda-beda. Adakalanya maksud 
sipenanya adalah tentang pengertian dari kata (kosa kata) tersebut, yakni 
merpati itu ‘apa’ dari arti bahasa atau istilah (terminologis). Dan jawaban 
tentang ke ‘apa’ an merpati ini dapat dijawab dengan bermacam-macam istilah dan 
definisi per-bidang orang yang ditanyakan, sehingga tidak  menutup kemungkinan 
akan menimbulkan ‘arti’ yang banyak tentang ke ‘apa’ an merpati dari sisi 
terminologi. Menurut istilah ahli hewan, merpati adalah sejenis burung yang 
masuk kedalam katagori unggas, dan akan berbeda lagi definisi ke ‘apa’an 
merpati ini jika masuk kedalam kamus departemen perhubungan, maka yang disebut 
dengan merpati adalah sebuah pesawat terbang yang dikelola oleh sebuah maskapai 
penerbangan yang masuk kedalam katagori pesawat yang  berplat merah (Perusahaan 
pemerintah).
 
Dalam menjawab pertanyaan semacam itu (tentang kosakata) ada kemungkinan semua 
jawaban yang di kemukakan adalah benar. Dan disini dibutuhkan kejeli-an dan 
ketelitian kita untuk mengetahui secara jelas tentang arti dan penggunaan dari 
kosa kata yang  dipakai.
 
Jika kita akan mengdefinisikan suatu hal atau akan menjelaskan ke ‘apa’ an 
suatu istilah yang memiliki definisi lebih dari satu, maka kita harus 
mengatakan bahwa ‘ke apaan’ ini menurut istilah ahli fulan ini artinya ‘ini’ 
dan menurut istilah ahli fulan itu artinya adalah ‘itu’ .  Menjelaskan 
ke’apa’an sesuatu dengan cara memaparkan pendapat-pendapat dari beberapa 
ahli-ahli yang berbeda bidang  inilah yang disebut dengan pendefinisian verbal.
 
Tetapi sering juga kita menanyakan ‘ke apa-an’ sesuatu  BUKAN  bermaksud untuk 
mempertanyakan arti dari kosa kata yang digunakan melainkan  tentang Hakekat 
(Arti Nyata) dan makna sebenarnya dari susuatu itu. Misalnya ketika kita 
bertanya, apakah yang disebut dengan ‘Nabi’ , tentu yang kita tanyakan  
bukanlah tentang arti dari kata nabi diletakkan untuk apa? Karena kita semua 
sudah tahu bahwa kata nabi diletakkan dan diperuntukkan untuk manusia dengan 
syarat dan ketentuan yang khusus, bukan kepada yang lainnya semisal kepada 
tumbuh-tumbuhan atau hewan. 
 
Pertanyaan tentang ‘ hakikat dan substansi’ dari nabi tadi misalnya, jawaban 
subtansi terhadap ini hanya satu, tidak boleh lebih dan tidak mungkin semua 
jawaban tentang pertanyaan ini adalah benar. Jawaban untuk menjawab pertanyaan 
semacam inilah yang disebut dengan pendefinisian Arti Nyata (Maknawi/Hakiki)
 
Untuk menelaah suatu perkara, maka kedua cara pendefinisian ini haruslah 
digunakan secara berurutan dan hirarkis. Jika tidak demikian maka akan terjadi 
bias makna (paralogisme) antara maksud dan tujuan sipenanya dengan hakekat yang 
sebenarnya. Dalam hal ini mencari arti dari kosa kata yang akan digunakan 
(pendefinisian Verbal)  haruslah lebih didahulukan, setelah jelas dan teliti 
dalam penggunaan kosa kata tersebut barulah kita bisa mencari tahu makna 
hakikinya ( Arti Nyatanya) . 
 
Urutan tentang tata cara pendefinisian ini sungguh penting dan strategis dalam 
mencari dan menggali substansi dari suatu perkara, cara berurutan seperti ini 
bisa menghindari perselisihan yang tidak perlu. Karena jika tidak demikian maka 
bisa dibayangkan betapa rumitnya dan repotnya kita mencari tahu tentang arti 
sebuah ‘kata’ . Jika saja masing-masing pihak mendefinisikan arti ‘kata’ dengan 
bermacam-macam istilah dan bahasa yang sesuai dengan bidangnya, maka besar 
kemungkinan orang yang terakhir menemui ‘kata’ tersebut akan lebih banyak 
berselisih ketimbang mengerti.
 
Misal, suatu hari orang yang menciptakan istilah ‘keseluruhan’ yang berarti 
adalah semua dan bukan sebagian ataupun terbagi-bagi. Makna yang sebenarnya 
tentang ‘keseluruhan’ ini bisa menjadi bias kalau setiap orang 
mendefinisikannya sesuai dengan bidang dan keahliannya dimasa berikutnya, 
apalagi jika sudah di terjemahkan kedalam bahasa asing yang beraneka ragam, 
bisa jadi arti ‘keseluruhan’  akan menjadi sebagian ( yang pertama hilang kata 
‘bukan’ –nya) . Jika peneliti berikutnya mengabaikan pentingnya urutan cara 
pendefinisian, bisa jadi dia tidak akan memperhatikan lagi istilah ‘ 
keseluruhan’ sebagai acuan dari  persoalan yang dihadapi dan langsung 
menggunakan istilah ‘sebagian’ sebagai kata ganti ‘keseluruhan’ . Sehingga 
orang terakhir yang bukan peneliti dan ahli ketika menemui istilah 
‘keseluruhan’ langsung saja beranggapan bahwa ‘keseluruhan’ sama dengan 
‘sebagian’.
 
Begitu pula dengan kata ‘filsafat’ , banyak terjadi kekeliruan umum tentangnya 
diantara para filsuf barat dan para pengikutnya di Timur. Kita bisa mulai 
bahasan ini dengan kekeliruan awal dan ‘keluwesan’ yang tidak perlu yang di 
ajukan oleh para filsuf belakangan ini. Keluwesan yang tidak perlu ini berawal 
dari cara pendefinisian kata ‘filsafat’ itu sendiri.




Salam,



Iman K.
www.parapemikir.com 
 


      

Kirim email ke