Resensi Buku : Tawassul, mencari Allah dan Rasul Lewat Jalan Guru
Karya              : Muhammad Luthfi Ghozali
Penerbit          : Abshor, Semarang
                     http://ponpesalfithrahgp.wordpress.com
Tahun              : 2006
Halaman          : xx +440. 14 x20
Diresensi oleh : Ferry Djajaprana *)


Membaca "Tawassul, Mencari Allah dan Rasul Lewat Jalan Guru" menarik sekali, seolah seperti menapak tilas perjalanan pecarian Sang Penulis melalui jalur ber-tawassul. Tawassul menurut kamus Arab Indonesia, berasal dari kata wasala artinya berbuat kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tawasul maknanya mengambil wasilah atau perantara. 1) Adapun yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah mencari jalan atau cara yang mendekatkan diri kepada Allah. Caranya dengan melipat gandakan amal ibadah dan berjihad si jalan Allah untuk keberuntungannya di dunia dan akhirat kelak. Dengan bertawasul sebagaimana QS Al Maidah [5]:35, QS Al Isra [17]:57, berarti ia telah memenuhi perintah Allah.2) Pada era modern ini tawassul sering dikaitkan dengan syirik yang bermakna menyekutukan Allah. Ibn Taimiyah(1263-1328) dalam kitab karangannya "Al Mujizatu wa Karamtul Auliya" ( Mujizat Nabi dan Karamah Wali), menjelaskan pembahasan yang singkat tentang mukjizat dan keramat. Sesungguhnya tidak ada hubungan timbal balik antara kewalian dengan khawariqatul adat (hal-hal yang luar biasa). Jadi, tidak setiap wali itu menunjukkan hal-hal yang aneh. Sebaliknya, tidak pula hal yang luar biasa yang terjadi pada seseorang membuatnya otomatis menjadi wali 3) Adapun doa termasuk ibadah. Menurut Ibn Taymiyyah, barang siapa berdoa kepada mahluk yang sudah mati dan mahluk-mahluk lain yang gaib serta meminta pertolongannya, berarti ia telah bid'ah dalam perkara agama. Mempersekutukan Tuhan seluruh alam, dan mengikuti jalan selain orang-orang mukmin. 4) Hanya saja masalah sekarang yang timbul adalah masalah mendekatkan diri kepada Allah melalui para wali yang saleh. Ibn Taymiyyah merupakan salah seorang tokoh fundamental dan merupakan pendahulu gerakan Wahabiyyah. Nama gerakan Wahabiyyah sesuai dengan gerakan pendirinya Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703 - 1787) 5). Kalangan Wahhabi memandang sejumlah amalan generasi setelahnya generasi sahabat sebagai bid'ah (menyimpang) termasuk diantaranya, membangun menara dan pemberian tanda permanen di atas makam. Paham Wahhabi juga menolak seluruh ajaran essoteris (bathiniyah) atau ajaran mistisisme dan menolak gagasan orang suci (wali), termasuk juga praktek mengunjungi makamnya. Praktek memanggil wali untuk mendapatkan berkah adalah praktek syirik. Mereka menolak seluruh anggapan kesucian (kekeramatan) barang atau tempat tertentu sebagai tindakan yang mengurangi kesucian Tuhan dan menyalahi ajaran tauhid. Saya sengaja melontarkan keberatan paham Wahabbi diatas dan selanjutnya saya mencoba menjawabnya menurut firman Allah "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berhihadlah kepada jalan-Nya, supaya mendapatkan keberuntungan".(Q.S Al Maidah:35).

Ayat tersebut secara umum mengatakan agar orang-orang berwasilah (tawassul), namun tidak dijelaskan secara terperinci. Kita yakin , bahwa beribadah merupakan suatu perantara untuk mencapai keberuntungan. Lalu, bagaimana Muhammad Luthfi Ghozali menjelaskan buah fikirannya? hasilnya yang dipaparkan pada buku : "Tawassul, mencari Allah dan Rasul Lewat Jalan Guru" sebagai berikut : Rosulullah SAW bersabda di dalam sebuah Hadits yang artinya "Shalat adalah mi'rajnya orang-orang yang beriman". Ketika orang beriman sedang bermi'raj ke Haribaan Allah SWT mengadakan pengembaraan ruhaniah, baik dengan shalatnya maupun mujahaddahnya dan ibadah lainnya adalah sebagai buraq-nya. Jibrilnya, adalah para Nabi, Ash-Shidiq, Asy-Syuhada' dan Ash-Shalihin. Dihadirkan "Jibril" itu didalam perasaan ruhaniah sebagai guru dan pembimbing, sekaligus sebagai sahabat dan saksi ketika hati seorang hamba sedang dirundung rindu. Bagaimana caranya? Caranya : Bertawassul kepada mereka, para Nabi dan para Rasul, para mu'min dari kalangan ash-Shidiq, As-Syuhada' dan Ash-Sholihin, di dalam setiap pelaksanaan pengabdian kepada Allah baik melalui zakat, dzikir dan fikir, mujahadah dan riyadah, serta pengabdian dan jihadnya, dengan menghadirkan mereka secara rohaniah untuk diajak bersama-sama dalam satu rasa dan satu nuansa, di dalam setiap penyampaian maksud munajad yang dipanjatkan dan pengembaraan ruhaniahnya kepada Allah SWT. Dua point(jalur) contoh diatas (aslinya ada enam jalur) sudah cukup menjelaskan bahwa hakekat bertawassul adalah ekspresi interaksi ruhaniah, yang terjadi antara orang yang sedang melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dengan ruhani para guru-guru spiritual, baik yang masih hidup maupun yang sudah "mendahului". Dalam, epilognya Luthfi Ghozali menjelaskan bahwa kata kuncinya adalah "keimanan atau kepercayaan", interaksi yang sudah diekspresikan oleh kedua belah pihak tersebut menjadikan interkoneksi spiritual, dimana yang satu adalah kemauan keras dari pihak pelaksana berupa : iman, amal, ilmu al yaqin dan yang kedua adalah kehendak pertolongan (fasilitas atau syafaat) sebagai sunnah (sistem) yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT, sehingga mencapai kesaksian langsung ( ain ul yaqin), di sini ia akan menjumpai ekspresi interaksi ruhaniah itu, yang merupakan hakekat bertawassul kepada Allah SWT. Walaupun apa yang dijelaskan Muhammad Luthfi Al Ghazali, tidak menyinggung faham Wahabbi secara literal, tetapi secara isyari hampir sama dengan kritik atas paham Wahabi yang dilontarkan oleh Syaih Ja'far Subhani 6) "Tawassul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali termasuk ajaran Islam (Asli :Wahabiyah fi al-Mzan Muassasah Al Nasyr Al Islamy at Tabiah Li Jamaah), bahwa bertawassul itu boleh bahkan penting untuk para pengembara spiritual. Selain itu, pandangan faham Wahhabi yang disebut sebagai pandangan reformis akan berakibat pada agama Islam menjadi Agama yang tampil "kering" secara emosional, dan dakwahnya menjadi tidak efektif di tengah peradaban modern yang cenderung bersifat materialistik. Manusia modern sekarang ini secara kwalitas lebih kompleks dibandingkan masa lampau, sehingga memerlukan pemahaman Islam yang sejuk dan mampu memberikan spiritual mereka. Karena itu, menurut saya buku ini datang tepat pada waktunya sebagai acuan pada bidang spiritual Islam.

Salam,
Ferry Djajaprana
*) Pecinta Mistik Islam
Http://ferrydjajaprana.multiply.com



Bibliography :
1) Prof. Dr. Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, PT. Mahmud Yunus Wa Dzurriyyah , Jakarta, 1989 2) Ahsin W. Al Hafidz, Kamus Ilmu Al Quran, Universitas Sains Al Quran, Wonosobo, 2005. 3) Ibn Taimiyah, Mukjizat Nabi dan Keramat Wali(Asli : Al Mujizatu Wa Karamatu al Auliya), Penerbit PT. Lentera Basri Tama, Jakarta, 2003. 4) Ibn Taimiyah, Qaidah Jalilah Fi Al Tawassul wa al Wasilah, Dar Alfaq al -Jadidah, Beirut-Libanon. Hal. 100.
5) Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,  1996.
6) Syaih Ja'far Subhani "Tawassul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali termasuk ajaran Islam (Asli :Wahabiyah fi al-Mzan Muassasah Al Nasyr Al Islamy at Tabiah Li Jamaah), Pustaka Hidayah, Bandung, 2005

Kirim email ke