Apakah kita di Indonesia masih konsisten memboikot produk yahudi?
==================================================

Israel Negara Bangkrut

Tantangan yang paling menghancurkan masa depan Israel adalah krisis
ekonomi yang sekarang menghempaskan Israel. Kelompok sayap kanan, yang
dimotori oleh Partai Likud dan Yisreali Beitneinu, harus berhadapan
dengan kenyataan yang pahit bagi masa depan Israel.

Ancaman masa depan Israel, bukan hanya kelompok Hamas di Palestina,
tapi kondisi ekonomi Israel,yang sekarat akibat krisis global, dan
selama ini ekonomi Israel hanya ditupang oleh bantuan Barat (AS dan
Uni Eropa).

Gambaran ekonomi Israel benar-benar sangat terpuruk selama krisis ini
dan disebut sebagai yang : 'Paling buruk sepanjang sejarah Israel'.
Gambaran ini tidak berlebihan. Karena, selain Israel tidak memiliki
produk yang cukup diandalkan, kecuali pertanian serta penjualan
senjata, yang didatangkan dari AS, yang dijual ke berbagai negara yang
sedang terlibat dalam konflik. Sementara itu, Israel tidak memiliki
sumber daya alam. Ekonomi Israel benar- benar hanya bergantung bantuan
dari Barat, dan relawan komunitas Yahudi yang diaspora di berbagai
negara di dunia.

Sekarang, Israel menghadapi krisis yang sangat gawat, di mana eksport
Israel turun drastis, sebagai imbas dan dampak dari krisis global,
bank-bank menghadapi kesulitan likuiditas yang meningkat, pengangguran
tumbuh bersamaan tingkat pertumbuhan ekonomi yang minus, dan sekarang,
total pengangguran di Israel mencapai 17% dari jumlah penduduk Israel,
investasi menurun, tidak ada lagi investor asing yang mau menjamah
Israel, ditambah sektor swasta dan sektor publik ikut ambruk.
Sekarang, banyak orang-orang miskin, yang mengantri ke kantor dinas
sosial Israel, yang membutuhkan makan.

Seorang ekonom Israel, menyebutkan apa yang disebut dengan
'menyebarnya pesimism' yang semakin merata dikalangan masyarakat, yang
terus menyeruak ke semua lembaga atau institusi ekonomi Israel, dan
ekonomi Israel berkait dengan krisis yang sekarang berlangsung secara
global. Dan, mereka yang mempunyai kewenangan sebagai 'The Marker',
menyimpulkan dari semua gambaran soal ekonomi Israel, bahwa
berdasarkan berita, komentar dari hasil penggunaan teknologi Israel
dan lembaga bisnis, menyebutkan ribuan perusahaan,
perusaahan-perusahaan yang volume kecil, dan perusahaan dagang
lainnya, semua telah bangkrut, dan menyisakan puluhan ribu
pengangguran di Israel.

Beberapa buruh yang kena 'PHK' di pabrik-pabrik membuat barikade, dan
meminta agar pemerintah melakukan campur tangan. Perusahaan-perusahaan
swasta sudah tidak mampu lagi menggaji dan menanggung para buruh
mereka, karena barang-barang numpuk digudang-gudang, yang tidak ada
lagi, yang mau menerima barang Israel. Apalagi, akibat kebiadaban
Israel, yang melakukan pembantaian di Gaza, menimbulkan antipati
masyarakat dunia, dan kemudian memboikot seluruh produk Israel.

Dilaporkan pula bank-bank Israel semua berguguran, dan ambruk.
Misalnya, Bank Leumi Le Israel, yang merupakan bank terbesar di
Israel, pekan ini dilaporkan merugi mencapai 1.2 milyar sekkel (300
juta dolar), sepanjang tahun 2008, dan di tahun 2009, jumlah hampir
mencapai dua kali lipat. Karena itu, Bank Leumi, sudah mengajukan
pernyataan 'bangkrut' kepada pemerintah. Pemimpin Bank Leumi, Eitan
Raf, menyatakan , 'Kami sangat takut'. "Kami menyimpulkan tahun ini
merupakan tahun yang sangat dan berbahaya. Dan, semua pemimpin yang
menangani ekonomi sangat takut", ujar Eitan. Maka, jalan satu-satunya
pemerintah harus bertanggungjawab dan melakukan intervensi. "Tanpa
campur tangan pemerintah, tidak mungkin sektor perbankan mampu memikul
krisis ini", tambah Eitan.

Kini, di Israel setiap hari ribuan orang kehilangan pekerjaan. Sejak
tahun 2008 yang lalu, sudah berjibun orang yang menganggur, akibat
resesi. Desember tahun lalu, sudah 17.500 orang yang kehilangan
pekerjaan, dan meningkat menjadi 24.000 orang pekerja, dibulan
berikutnya, jumlahnya lebih meningkat lagi.. Sebuah laporan dari
Departemen Tenaga Kerja Israel, menyebutkan di tahun 2008 akhir, orang
Israel, yang menganggur jumlahnya sudah mencapai 250.000 orang.

Tentu, yang paling mengkawatirkan pemerintah Israel, banyak yang
menganggur itu, mereka yang memiliki kemampuan di bidang teknologi
tinggi (high tech-sector), yang meliputi ribuan ilmuwan-insinyur dan
teknisi kehilangan pekerjaan. Sebagai gambaran selama bulan Nopember -
Desember saja, sudah ratusan orang ahli teknik yang kehilangan
pekerjaan. Jumlah pengangguran di negeri Zionis ini mencapai 17%.

Disisi lain, ketika di AS, perusahaan yang bergerak di bidang proverti
bangkrut, di Israel juga mengalami nasib yang sama. Sebuah perusahaan
proverti terbesar di Israel, yang merupakan kerjasama antara
perusahaan proverti Afrika Selatan - Israel mengalami kebangkrutan
senilai 2.7 milyar sekkel atau setara dengan 670 juta dolar. Seorang
pengusaha berlian, Lev Leviev ikut mengalami kerugian mencapai ratusan
juta dolar, akibat uang yang ditanamkan di sektor proverti itu,
bangkrut dan uangnya tidak kembali.

Sebuah kerjasama antara perusahaan proverti yang berbasis di Afrika
Selatan dengan mitranya di Israel, khususnya yang menginvestasikan
uangnya untuk pembangunan realestate di Utara Israel, yaitu di daerah
Tepi Barat, tak laku dijual, karena adanya reaksi yang keras dari
kalangan rakyat Palestina yang terus menolak terhadap pembangunan
pemukiman baru.

Perusahaan berlian Israel yang terbesar, yang membuka outlet di Dubai,
mengalami kerugian besar, tak lama setelah para aktivis Palestina
menuntut pemerintah Dubai, agar menutup outlet itu, dan pemerintah
Dubai mengikuti tekanan yang dilakukan para aktivis yang pro-Palestina
itu. Maka, perusahaan berlian itu, kehilangan pembeli yang nilai
jutaan dolar. Karena, Dubai merupakan pintu gerbang Timur Tengah, para
pembeli dan pemburu perhiasan berlian pasti mereka mengunjungi Dubai.
Tapi, serangan Israel ke Gaza itu, para aktivis yang pro Palestina
meminta agar pemerintah menutup seluruh bisnis Israel yang ada di
negeri itu.

Aksi boikot terhadap produk-produk Israel itu benar telah berdampak,
dan mencekik ekonomi Israel. Bahkan, di Inggris kafe-kafe di negeri
itu, sudah menandatangani kerjasama, yang tidak akan menggunakan
produk-produk makanan dari Israel. Koran Jerusalem Post, melaporkan
bagaimana beratnya dampak boikot internasional, mengakibatkan ekonomi
Israel benar-benar bangkrut. "Lahirnya gerakan boikot barang Israel
yang membahana di seluruh dunia itu, menyebabkan perusahaan-perusahaan
lokal Israel gulung tikar", ungkap Jerusalem Post. Pambantaian Zionis
Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza, mengakibatkan ikut membantai
ekonomi Israel, yang berupa produk-proudk manufactur mereka, dan tidak
lagi laku dijual di negeri-negeri di luar Israel, tambah Jerusalem
Post.

Negara Inggris dan Skandinavia, yang selama ini menjadi penadah
barang-barang bikinan Israel, mereka menolak, dan menurun drastis.
Dulunya, 90% produk Israel dilempar ke Eropa dan Skandinavia, tapi
sekarang barang-barang Israel itu, tak ada lagi yang sudi menjamahnya.
Menteri Perdagangan Israel, yang diwakili Ketua Asosiasi Manufactur,
Yair Rotloi, menyebutkan produk-produk manufactur Israel, turun
penjualannya mencapai hampir 60%. Sementara itu, mereka yang sudah
mengimport produk dari Israel, menurut Yair Rotloi, potensi dikemplang
'tidak bayar' mencapai 49%. Jadi inilah yang sekarang oleh Israel.

Namun, betapapun Israel sudah menghadapi sekarat secara ekonomi, tapi
para pemimpin ultra kanan Israel, tetap saja mereka masih mempunyai
ambisi perang yang menggebu-nggebu, seperti mau menyerang Iran atau
memerangi Hamas. Karena, para pemimpin ultra kanan Israel, tak peduli
dengan kondisi ekonomi yang mereka alami. Tentu, bagi Zionis-Israel,
yang penting bisa membunuh lebih banyak lagi orang-orang Palestina dan
Arab. (m/pic)

[Non-text portions of this message have been removed]


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
************************************

Kirim email ke