[Nusantara] Belajar Bersama Toleransi Beragama *Gigih Nusantara
*gigihnusantar...@yahoo.com
<gigihnusantaraid%40yahoo.com>
*Sun Dec 1 10:24:04 2002*

------------------------------

Nyadran ala Sorowajan

Belajar Bersama Toleransi Beragama

Sebelum tahun 1965, orang Indonesia tidak mempunyai
ketakutan terhadap agama. Setelah peristiwa Gerakan 30
September atau yang lebih dikenal dengan sebutan G 30
S/PKI, Orde Baru membuat peraturan bahwa masyarakat
harus memilih untuk menganut salah satu dari lima
agama yang diakui oleh negara. Di luar pilihan agama
Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha, negara tidak
mengakuinya termasuk terhadap berbagai aliran
kepercayaan yang tumbuh subur dalam masyarakat.
Peraturan ini diberlakukan tahun 1967. Sejak saat itu
dimulailah tertib beragama seperti yang dikehendaki
oleh negara.

Masing-masing agama kemudian membangun sarana dan
komunitasnya. Gereja, masjid, vihara ataupun pura,
tumbuh subur dalam komunitas masyarakat pemeluknya.
Begitu juga di Sorowajan, sebuah desa kecil, 7
kilometer dari pusat kota Yogyakarta.

Apa yang istimewa dari tempat ini? Di wilayah yang
tidak terlalu luas, kurang lebih 50 hektar dan didiami
2.150 jiwa ini, Desa Sorowajan sekilas sama seperti
desa-desa lain di Yogyakarta. Namun ditilik dari
masyarakat urban yang tinggal di dalamnya,
keistimewaan pun nampak dari dusun ini. Untuk memenuhi
sarana peribadatan, masjid, gereja dan pura didirikan
di wilayah ini. Pura ada di tempat tersebut karena 127
warganya memeluk agama Hindu. Pura itu juga digunakan
oleh pemeluk agama Hindu dari luar desa tersebut.
Pemeluk agama Budha ada dua orang, Kristen 104 orang,
Katolik 622 dan Islam 1.035 orang.

Masyarakat yang semula bekerja pada bidang agraris ini
mempunyai tradisi berucap syukur selepas panen yang
mereka namai dengan merdhi desa, yang seringkali
diramaikan dengan wayang kulit dengan lakon Sri Mulih.
Ucap syukur ini dilakukan setiap tanggal 20 di bulan
November dan bertepatan dengan tradisi nyadran yang
dilakukan masyarakat di Yogyakarta sebelum memasuki
bulan Ramadhan. Sejak akhir tahun 1970-an, tradisi
nyadran di Desa Sorowajan mengalami perubahan. Yang
semula dipimpin oleh pimpinan masyarakat informal,
lalu menjadi acara doa bersama yang dipimpin tiga
pimpinan agama yaitu Katolik, Hindu dan Islam.

Masyarakat yang datang di acara ini hadir dengan
membawa sekotak makanan lengkap dengan nasi dan
lauk-pauknya. Makanan ini nantinya akan saling
dipertukarkan dan dibawa kembali ke rumah
masih-masing. Tradisi doa bersama ini sudah dijalani
masyarakat Sorowajan sejak sepuluh tahun yang lalu.
Peristiwa ini nampaknya sederhana saja. Tetapi justru
di sinilah masyarakat mengaktualkan toleransi dan
kebersamaan dalam makna yang sebenarnya. Nyadran di
Sorowajan menegaskan kepada kita bagaimana masyarakat
melihat agama dengan sudut pandang mereka sendiri.

Kearifan Lokal

Tradisi Nyadran di Sorowajan direkam dalam film
etnografi yang diproduksi Puskat Yogyakarta dengan
Lembaga Kajian Islam dan Sosial (Lkis), diputar sesaat
sebelum acara diskusi tentang ”Understanding Islam,
Islam Multikultur: Antara Monoitisme dan Ragam
Manisfestasi”, di Jakarta, Rabu (27/11).

Agama dalam tingkatan sosial tidak mempunyai masalah
dalam penerapannya. Begitu juga dengan penganut
kepercayaan yang berbeda-beda. Semakin agama lebur
dalam masyarakat, orang tidak akan pernah lagi
mempertanyakan latar belakang seseorang. Agama baru
akan dipertanyakan bila bergerak dari wilayah yang
konkret menuju ke abstrak,” kata Direktur Cri Alocita
Yogyakarta, Emmanuel Subangun, dalam diskusi tersebut.


Selain Emmanuel Subangun, pembicara lain yaitu
Peneliti LIPI Dr. Bisri Efendy, pengasuh Pondok
Pesantren Salafiah Al Qodir, Tanjung, Wukirsari,
Cangkringan Sleman, Yogyakarta, dan Guritno dari
Sedulur Sikep, masyarakat Samin, Pati Jawa Tengah.

Dalam kehidupan sosial, menurut Bangun (panggilan
akrab Emmanuel Subangun), agama tidak ada masalah.
Tetapi ketika ada cara pandang yang melihat agama
dibagi menjadi agama tradisional dan modern dan
pembagian-pembagian lain yang biasanya dilakukan oleh
peneliti dari barat, maka ada cara pandang lain untuk
melihat agama yang diyakini oleh masyarakat tersebut.

Kita kemudian tidak memakai cara pandang kita sendiri
dalam melihat agama. Kita kemudian melihat agama itu
tradisonal dan modern dan pembagian lain. Bahkan
akhir-akhir ini kita dipaksa untuk percaya bahwa Islam
itu anti Barat dan potensial menjadi fundamentalis,”
ujar Bangun. Ia mengatakan pada abad ini konflik agama
menjadi sangat tajam.

Pasca ledakan Bali atau bahkan jauh sebelumnya, banyak
isu-isu palsu (pseudo) misalnya saja tentang toleransi
ataupun penghormatan terhadap agama. ”Saya berpikir
ketika saat ini digalakkan isu tentang toleransi, itu
adalah isu yang sepenuhnya palsu. Orang lain mengajak
kita untuk mengamini cara pandang mereka tentang
agama. Padahal dalam masyarakat, seperti tradisi di
Sorowajan tadi, kita melihat sendiri, tanpa
penggalangan opini, masyarakat justru menggumuli
toleransi yang sebenarnya,” tambahnya.

Kearifan-kearifan lokal untuk menciptakan harmoni ini
bukan hanya ada di Desa Sorowajan saja, tetapi
masyarakat Islam Sasak atau Wiktu Telu di Pulau
Lombok, Islam Samin di Blora Jawa Tengah, Islam
Kampung Naga di Tasikmalaya dan Islam Kaharingan di
Kalimantan pun menerapkan kebijakan yang sama.
Kearifan lokal di tempat-tempat tersebut merupakan
embrio untuk membawa pesan damai dan sikap toleran
satu dengan yang lain di antara kita. Perlu ladang
subur untuk menyemai embrio ini, sehingga kearifan
lokal seperti ini menjadi milik kita bersama. (SH/emmy
kuswandari)

Kirim email ke