Salam...

Sekarang kita me-refresh kembali ingatan kita tentang logika. Kita mulai dengan 
ulasan singkat sejarah logika yang diurutkan  berdasarkan perkembangan serta 
tokoh-tokoh pelakunya pada setiap masanya, artikel ini ditujukan khusus kepada 
penguasaan sejarahnya saja.
 
Ada tiga tahapan yang dilalui oleh kata ‘logika’ sampai kemudian dikemas 
menjadi ilmu. Tahap pertama adalah tentang ‘kata’  logika itu sendiri, kapankah 
kata itu pertama sekali di pakai sebagai istilah? Dari bukunya Bertrand Russell 
“History of Western Philosophy” diceritakan bahwa kata ‘logika’ itu pertama 
sekali digunakan oleh Zeno dari Citium. 
 
Setelah itu kemudian diketahui juga bahwa ternyata Plato dan Socrates juga 
sudah banyak melibatkan logika dalam banyak pembahasannya, tapi mereka (Plato 
dan Socrates,red) belum atau tidak sampai kepada tahap memformalkan logika 
sebagai ilmu.
 
Logika pertama sekali diperkenalkan sebagai ilmu oleh Aristoteles dan kemudian 
di sebarkan kepada pengikutnya sampai kemudian masuk ke dunia islam. 
 
Menurut bukunya Richard B.Angel “Reasoning and Logic” , Aristoteles sendiri 
meninggalkan enam buah buku khusus yang membicarakan ilmu logika ini yang oleh 
murid-muridnya diberi nama “Organon”.
 
Keenam buku tersebut adalah Categoriae (mengenai pengertian-pengertian), De 
Interpretatiae (Mengenai keputusan-keputusan) Analitica Priora (mengenai 
silogisme) Analitica Posteriora ( Mengenai pembuktian) Topika (mengenai 
berdebat) dan De Sophisticis Elenchis (mengenai kesalahan-kesalahan berpikir).
 
Adalah Theoprostus yang kemudian mengembangkan ilmu logika Aristoteles itu dan 
sekaligus menyebarkannya sampai dikemudian hari masuk kedalam dunia islam.
  
Didunia islam, ilmu logika ini tidak diterima begitu saja dengan mulus, tapi 
direspon dengan berbagai macam pendapat oleh tokoh-tokoh islam terkemuka. Ibnu 
Salih dan Imam Nawawi misalnya, mereka sangat menentang penggunaan ilmu logika. 
Penentangan mereka itu bukan hanya sebatas menentang tidak setuju atau tidak 
sepakat tapi jauh lebih keras dari itu. Penentangan mereka sampai kepada 
mengharamkan ilmu logika untuk digunakan didalam dunia islam.
 
Namu demikian, sebagian besar dari mereka (Jumhur Ulama) membolehkan 
mempelajari ilmu logika dengan syarat  orang-orang yang akan mempelajarinya 
sudah kokoh iman dan cukup akalnya.
 
Selain penolakan yang tegas serupa diatas, diantara mereka ada juga yang malah 
menganjurkannya, seperti Al-Gazali, Al-Farabi , Al-Kindi dan lain-lain. 
Al-Kindi bukan hanya menganjurkan tapi malah mempelajari dan sekaligus 
menyelidiki logika yunani secara khusus, bahkan Al-Farabi melakukannya lebih 
mendalam lagi dari apa yang sudah dilakukan oleh Al-Kindi.
 
Logika pada perkembanganya kemudian sempat mengalami masa dekadensi yang 
panjang. Logika bahkan dianggap sudah tidak bernilai dan dangkal sekali, 
barulah pada abad ke XIII sampai dengan Abad XV tampil beberapa tokoh lain 
seperti Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lullus dan Wilhelm Ocham yang 
coba mengangkat kembali ilmu logika sebagai salah satu ilmu yang penting untuk 
disejajarkan dengan ilmu-ilmu penting lainnya.
 
Pada abad ke XVII dan XVIII muncul lagi tokoh-tokoh berikutnya seperti Francis 
Bacon membuat buku “Novum Organum Scientiarum” yang bahas-annya antara lain 
tentang metode induksi yang terkenal itu. Imanuel Kant dengan Logika 
Transendental- nya dan W. Leibnitz dengan Logika Aljabar.
 
Kemudian berikutnya muncullah tokoh-tokoh pencetus dan sekaligus orang yang 
paling dianggap berjasa dalam pengembangan ilmu logika modern, seperti Bertrand 
Russell, George Boole dan G.Frege. Dari tangan-tangan mereka inilah kemudian 
ilmu logika sampai kepada kita.


Salam,



Iman K.
www.parapemikir.com 
 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke