Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm


Catatan A. Umar Said

Perkembangan di Amerika Latin

Membenarkan Visi Bung Karno





Di tengah-tengah hiruk-pikuknya berbagai macam masalah yang timbul selama
Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden 2009 di Indonesia, apa yang terjadi
di benua Amerika (khususnya di Amerika Serikat dan Amerika Latin) sejak
tanggal 17 April 2009 perlu mendapat perhatian dari berbagai kalangan di
negeri kita. Sebab, arti perkembangan sejak tanggal itu adalah begitu
pentingnya dan begitu besarnya, sehingga bisa mempengaruhi perkembangan di
berbagai negeri di dunia, termasuk Indonesia.



Karena itu, kita bisa membayangkan betapa gembiranya hati Bung Karno dalam
makamnya di Blitar mendengar bahwa sebagian dari perjuangan revolusionernya,
yang telah ditekuninya selama hidupnya dalam menentang imperialisme
(khususnya imperialisme AS), mulai kelihatan ada kemajuan-kemajuan yang
cukup besar. Tentunya, ia pun juga merasa bangga bahwa perkembangan
kapitalisme neo-liberal , yang sedang mengalami krisis besar-besaran dewasa
ini,  adalah sesuai dengan apa yang sudah diramalkannya dalam berbagai karya
atau pidatonya.



Sebaliknya, kita semua juga bisa membayangkan betapa merananya, atau
kesalnya atau sedihnya hati Suharto, yang jasadnya  terbaring di Astana Giri
Bangun bahwa sekutu kentalnya  (atau majikannya ?) , yaitu Amerika Serikat,
yang telah  mendukungnya dengan berbagai cara untuk menggulingkan Bung
Karno, sudah makin loyo dan tidak lagi adikuasa seperti di jamannya Orde
Baru. Artinya, sekarang ini, perkembangan imperialisme AS dan kapitalisme
internasional tidaklah memihak kepadanya, melainkan kepada musuhnya, yaitu
Bung Karno beserta golongan kiri pada umumnya.



Tokoh-tokoh besar dunia sahabat Bung Karno



Sebagai pejuang besar melawan imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme
internasional, dulu Bung Karno adalah teman dekat dan  kawan seperjuangan
dari berbagai tokoh penting  di dunia seperti, antara lain :  Kwame Nkrumah
dari Ghana, Sekou Toure dari Guinea , Ben Bella dari Aljazair, Abdul Gamal
Nasser dari Mesir, Tito dari Yugoslavia, Nehru dari India, Mao Tsetung dan
Chou Enlai dari Tiongkok, Ho Chi Minh dari Vietnam dan Fidel Castro dari
Kuba. Dapatlah dibayangkan bahwa seandainya orang-orang besar dunia ini
masih hidup  maka mereka tidak mau menjadi sahabat dekat Suharto, apalagi
kawan seperjuangannya.



 Sekarang ini, kalau seandainya Bung Karno masih hidup, maka pastilah ia
juga akan menjadi sahabat seperjuangan dari Fidel Castro dari Kuba, Hugo
Chavez dari Venezuela, Evo Morales dari Bolivia, Ortega dari Nicaragua,
Correa dari Equador, Lugo dari Paraguay, Lulla dari Brasilia, Kirshner dari
Argentina, yaitu presiden-presiden dari negara-negara di Amerika Latin, yang
dalam berbagai cara  -- dan macam-macam derajat  -- menentang  imperialisme
AS. Sebab, kalau difikir secara dalam-dalam, maka bisalah kiranya dikatakan
bahwa perjuangan mereka itu dewasa ini semuanya adalah, pada dasarnya,
kelanjutan dari perjuangan Bung Karno, yang telah dituangkannya dalam
Konferensi Bandung, Gerakan Non-blok, gagasan NEFOS (Newly Emerging Forces)
, Ganefo, dan berbagai gerakan Asia-Afrika-Amerika Latin.



Pertemuan puncak di Trinidad/Tobago



Perlawanan yang makin meningkat terhadap imperialisme AS dari rakyat Amerika
Latin ini kelihatan nyata sekali dari pertemuan 34 presiden negara-negara
yang tergabung dalam Organisation of American States  (OAS) di Trinidad dan
Tobago, suatu negara kecil di Amerika Latin (dekat Venezuela) yang dibuka
tanggal 17 April yang lalu. Pertemuan  ini begitu pentingnya, sehingga
menarik perhatian banyak kalangan di seluruh dunia. Ini terbukti dari
hadirnya 6000 wakil media massa dari banyak negeri, dan juga dari banyaknya
tayangan tv dan publikasi pers mengenai peristiwa besar ini di seluruh
dunia.



Besarnya perhatian dari seluruh dunia terhadap pertemuan (selama tiga hari)
yang bersejarah ini disebabkan karena sebelumnya sudah ada berita-berita
bahwa dalam pertemuan ini presiden AS yang baru, Barack OBAMA,  akan membawa
sikap AS yang baru terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
negara-negara Amerika Latin, termasuk masalah hubungan dengan Kuba, yang
sejak tahun 1962 sudah dalam permusuhan yang sengit sekali. Bolehlah
dikatakan bahwa Kuba (Fidel Castro)  adalah musuh bebuyutan AS yang paling
utama selama puluhan tahun.. Oleh karena itu berbagai pemerintahan AS yang
silih-berganti sudah melakuan blokade yang ketat selama 47 tahun untuk
menggulingkan pemerintahan Fidel Castro, tetapi tetap sia-sia saja.



Dengan latar belakang yang demikianlah telah berlangsung pertemuan puncak
OAS, dimana presiden baru AS Barack Obama menjadi “bintang” utama, di
samping presiden Venezuela Hugo Chavez , tokoh besar anti-Bush di Amerika
Latin sejak bertahun-tahun  Bertemunya dua presiden ini di tengah-tengah
berkumpulnya para pemimpin benua yang sedang bergeser ke kiri  dewasa ini
merupakan perkembangan yang bersejarah.



Foto yang tersebar di seluruh dunia dari tegur sapa (Obama kepada Hugo
Chavez : “Commo esta” dalam bahasa Spanyol dan Hugo Chavez  kepada Obama “”
Hello” ) yang disertai senyum tanda gembira dan jabatan tangan erat mereka
berdua merupakan pertanda bahwa mungkin sedang terjadi permulaan dari
perubahan yang penting dalam politik AS di bawah pimpinan Barack Obama.
Sampai mana jauhnya atau sampai berapa besarnya perubahan tersebut, marilah
sama-sama kita tunggu perkembangan selanjutnya. Sebab, kekuatan reaksioner
(di AS sendiri maupun di dunia) berusaha terus untuk melawan
perubahan-perubahan ini dengan berbagai cara dan jalan.



Tuntutan dihapuskannya blokade terhadap Kuba



Diumumkannya (sebelum pertemuan puncak OAS di Trinidad/Tobago) oleh fihak
pemeritah AS peratruran baru yang mengijinkan transfer devisa (dollar) dan
kunjungan orang-orang ke Kuba, merupakan langkah penting menunju diakhirinya
blokade (embargo) yang menjadi  salah satu di antara banyak cacad dan dosa
pemerintahan AS selama puluhan tahun. Blokade yang dijalankan AS sejak
hampir setengah abad terhadap Kuba ini dipandang sebagai politik yang begitu
jahatnya  atau sudah begitu usangnya dan kejamnya, sehingga banyak negara
dan rakyat di Amerika Latin secara ramai-ramai menuntut dihapuskannya. Dan
secepat-cepatnya pula.



Mengingat banyaknya kesalahan-kesalahan yang  berat dalam politik dominasi
atau campur tangan AS terhadap negara-negaradi Amerika Latin (dalam bentuk,
antara lain : menguasai cabang-cabang penting dalam ekonomi, membantu
pemerintahan golongan reaksioner, mengatur kudeta golongan-golongan militer
yang umumnya anti-komunis dan korup, membujuk-bujuk banyak pemimpin negara
untuk anti-Kuba dan anti-Venezuela) maka Barack Obama memperlihatkan sikap
atau kemauan untuk  memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lampau.



Untuk itu, beberapa hari sebelum dibukanya  pertemuan puncak OAS di
Trinidad/Tobago, presiden Barack Obama telah menyuruh disiarkannya secara
serentak tulisannya yang berupa semacam editorial di banyak negara Amerika
Latin, di antaranya : Argentina, Brasilia, Chili, Colombia, Costa Rica,
Ecuador,Mexico, Peru, Puerto Rico, Uruguay, Venezuela. Tulisan ini disiarkan
dalam bahasa  Inggris, Spanyol dan Portugis..



Pokok-pokok tulisan Obama



Tulisannya tersebut jelas-jelas dimaksudkan untuk mempersiapkan
diselenggarakannya pertemuan puncak OAS yang kelihatannya dianggap penting
sekali oleh presiden Barack Obama. Bahwa delegasi AS ke pertemuan ini
terdiri dari 1000 orang menunjukkan betapa besar artinya bagi presiden
Barack Obama untuk menyampaikan politik barunya. Pokok-pokok dalam
tulisannya, yang juga menjadi isi pembicaraannya dalam berbagai pertemuan
dengan para pemimpin negara Amerika Latin adalah, antara lain,sebagai
berikut :



-          - Judul tulisannya yang berbunyi “Choosing a Better Future in the
Americas” (Memilih Hari Kemudian yang Lebih Baik di Negara-negara Amerika)
menunjukkan keinginan Barack Obama dalam mengajak semuanya untuk
mengutamakan usaha bersama untuk perbaikan bagi masa-masa yang datang.



-        -   Ditekankan oleh Obama bahwa dari pada berkutat pada perdebatan
tentang masalah-masalah lampau, lebih baik kita mencari jalan untuk
kerjasama demi hari kemudian rakyat-rakyat kita. (Obama kelihatan  sekali
sadar akan kesalahan-kesalahan pemerintahan AS yang mendahuluinya !)



-         -  Pemerintahan di bawah Obama menyatakan terikat kepada janji
atau harapan kepada hari-hari baru (promise of a new day). (Secara tidak
langsung rupanya ia mau mengatakan bahwa masa lampau – era presiden Bush dan
sebelumnya- perlu ditinggalkan)




Oleh karena seluruh dunia sedang menghadapi dampak dari krisis besar
internasional dalam bidang  ekonomi dan keuangan, maka dengan sendirinya
masalah kerjasama dalam ekonomi dan pembangunan antara berbagai negara dalam
kawasan ini  juga menjadi acara penting dalam pertemun puncak OAS ini..
Sebab, banyak sekali negara-negara di Amerika Latin juga sedang mengalami
kesulitan-kesulitan besar sekali sebagai akibat krisis ekonomi dan keuangan
internasional dewasa ini.



  Dari pertemuan puncak OAS yang ke-5 di Trinidad/Tobago ini nampak dengan
nyata bahwa presiden Obama berusaha memberikan citra yang lain (atau yang
baru) dari pada citra yang dibikin oleh berbagai presiden AS yang
mendahuluinya (terutama Bush junior dan Bush senior, Ronald Reagan, Nixon
dll), sebagai akibat banyaknya kritik-kritik di dunia terhadap berbagai
kesalahan atau kejahatan pemerintahan AS (ingat peran CIA di Indonesia ,
Asia, Afrika dan Amerika Latin)



AS sudah tidak bisa bertindak semau-maunya lagi



Bagi kita di Indonesia, terutama bagi kalangan elite di pemerintahan,
pimpinan partai-partai  politik dan bermacam-macam ormas (buruh, tani,
pemuda, mahasiswa, perempuan, pegawai negeri) adalah perlu mengikuti
perkembangan situasi politik, ekonomi dan sosial yang sedang terjadi di
Amerika Latin. Sebab, perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan makin
bertambahnya negara yang bergeser ke kiri, dan meningkatnya perlawanan
terhadap neo-liberalisme dan kapitalisme yang didominasi modal besar AS
(yang akhir-akhir menghadapi krisis besar di skala dunia).



Sesudah Indonesia dikuasai oleh diktatur militer Suharto beserta
jenderal-jenderal pendukungnya selama 32 tahun (dengan bantuan imperialisme
AS beserta sekutu-sekutunya) dan dikurasnya kekayaan alam kita oleh modal
besar asing, apa yang sedang terjadi di Amerika Latin patutlah  menjadi
peringatan, pelajaran dan juga contoh. Terutama bagi para pendukung setia
Suharto dan sisa-sisa Orde Baru, yang masih juga mencoba-coba untuk
meneruskan atau melanggengkan politik yang pro-imperialisme AS berikut
embel-embelnya yang berbentuk neo-liberalisme.



Berlainan dengan masa-masa “jaya-jayanya” Orde Baru ketika imperialisme AS
masih bisa secara sewenang-wenang bertindak sebagai “polisi dunia” yang
sekaligus juga perampok terbesar di dunia, maka sekarang “negara adikuasa
ini” sudah tidak bisa lagi bertindak se-mau-maunya saja. Perkembangan di
Amerika Latin menunjukkan ke arah makin melemahnya imperalisme AS. Kalau
selama sekitar setengah abad usaha pemerintah AS untuk menghancurkan
kekuasaan Fidel Castro  tidak kunjung berhasil juga, maka makin bertambah
sulitlah sekarang ini bagi imperialisme AS untuk menghadapi perlawanan dari
Hugo Chavez di Venezuela, Evo Morales di Bolivia, yang disusul oleh Ortega
di Nicaragua, Lugo di Paraguay, Lulla di Brasilia dan Michelle Bachelet di
Chili.



Jalan yang ditunjukkan Bung Karno adalah benar



Para jenderal TNI dan pimpinan Golkar  yang selama jangka waktu yang panjang
sekali mengandalkan dukungan AS untuk mengangkangi kekuasaan politik,
sekarang perlu merenungkan dalam-dalam bahwa jaman telah mengalami
perubahan-perubahan, yang tidak menguntungkan mereka. Mereka tidak bisa lagi
terus mengharapkan Amerika Serikat mau dan bisa membantu mereka seperti dulu
ketika kekuasaan politik Bung Karno dihancurkan bersama seluruh kekuatan
kiri yang mendukungnya (terutama PKI berikut simpatisan-simpatisannya).
Sebaliknya, para pendukung Suharto atau simpatisan Orde Baru umumnya perlu
menyadari bahwa perubahan jaman sekarang ini makin memihak kepada fihak yang
menentang imperialisme, kapitalisme internasonal, atau  neo-liberalisme.



Karena itu, dalam rangka pemilihan presiden dan pembentukan pemerintahan
baru yang akan datang  (dalam bulan Juli) diharapkan akan munculnya
tokoh-tokoh yang jelas-jelas menunjukkan sikap yang anti-neoliberalime, anti
imperialisme, dan pro rakyat kecil, atau pro rakyat miskin. Sebab hanya
tokoh-tokoh yang demikianlah yang bisa diandalkan untuk mengadakan
perubahan-perubahan besar dan fundamental. Sekarang sudah makin jelas
terbukti – dan berdasarkan pengalaman berpuluh-puluh tahun -- bahwa negara
dan bangsa kita telah dibikin rusak oleh segala macam orang yang bermental
Orde Baru dan pro-Suharto.



Perlulah kiranya sekarang disadari oleh para jenderal TNI ( yang masih aktif
maupun yang sudah pensiun)  -- dan tokoh-tokoh lainnya yang menyokong “Orde
Baru” bahwa  pendongkelan Suharto  terhadap Bung Karno merupakan dosa dan
pengkhianatan besar sekali, yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh
rakyat beserta anak-cucu kita di kemudian hari.  Sebab, perkembangan
perjuangan menentang dominasi AS yang makin meningkat di mana-mana
menunjukkan bahwa jalan yang ditunjukkan Bung Karno adalah  -- pada pokoknya
atau pada garis besarnya --  benar ! Dan, sebaliknya,  bahwa jalan yang
ditempuh Suharto (beserta para jenderal pendukungnya) telah terbukti salah
besar !!!



Paris,  23 April 2009

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.557 / Virus Database: 270.12.0/2068 - Release Date: 19/04/2009
20:04

Kirim email ke