Apakah nenek moyang kita mempunyai komitmen untuk bersatu? Bersatu dalam 
komunitas apa? Majapahit? Sriwijaya? Semuanya nonsense, dan mungkin rekayasa 
dari Muhammad Yamin, sejarawan yg tergila-gila dengan budaya Jawa.

Indonesia modern merupakan komitmen dari para pemuda yg memutuskan hubungan 
dengan kelakuan nenek moyang kita yg semuanya berperang demi etnik sukunya 
belaka. Bukan demi agama, melainkan demi etnik suku. Diponegoro bukan pahlawan 
nasional, melainkan pahlawan Jawa. Sisingamangaraja bukan pahlawan nasional, 
melainkan pahlawan Batak. Teuku Umar bukan pahlawan nasional, dia pahlawan 
Aceh. Semua gelar pahlawan nasional pra-1945 adalah rekayasa belaka, mitos, 
buatan.

Indonesia modern disatukan oleh Belanda. Yg menyatukan Indonesia adalah 
Belanda, yg mengajarkan Indonesia untuk beradab itu Belanda. Yg
 mengajarkan nasionalisme adalah Belanda, melalui program pendidikannya. Jepang 
juga berjasa, yg terlihat dari tradisi upacara bendera kita. Itu upacara gaya 
Jepang, very solemn and militaristic. 

Indonesia is an imagined community, it is still being made now.

+

Ngasih konseling ke orang tekniknya macam-macam. Ke orang gak logis kita kasih 
konseling yg logis, logical thinking is mostly used here. Tapi kalau ketemu 
orang yg sangat logis, terkadang kita harus membuyarkan logikanya itu, sehingga 
orangnya bisa kembali ke titik 0 (nol) dan melihat segala sesuatunya fresh.

Kalau orang tidak logis, kita jadi logis. Kalau orang logis, kita perlihatkan 
bahwa logikanya itu cuma salah satu sudut pandang saja. There are innumerable 
ways to view things. Asumsinya: in order to survive we have to transform 
ourselves. Bagaimanapun caranya, we have to transform ourselves, berubah. Kalau 
tidak mau berubah jadi dead.

Tapi kalau orangnya
 sendiri yg mau dead, ya sudah. It's his or her own decision. Semuanya pilihan, 
choice. Nothing is predetermined.

Ning nang ning gung... Ning nang ning gung...

Adam and Eve tiap malem minggu makan buah terlarang. Hari minggu berdoa minta 
ampun. Dan hari Senin ditendang ke luar Taman Firdaus. Always like that from 
the beginning until now. We social scientists call it 'ritual'. In this case 
courtship ritual which may or may not involve desire or what we normally call 
'love'.

My last opinion states that Adam and Hawa lebih baik bertemu untuk copulating 
saja. Setelah itu jalan sendiri-sendiri karena temperamennya beda. The problem 
is, siapa yg mao jadi Adam, dan siapa yg mao jadi Hawa because these two are 
interchangeable, bisa dipertukarkan karena tulang rusuk mereka bagian bawah 
sama-sama tidak ada.

Apakah Hawa yg diambil dari tulang rusuk Adam atawa sebaliknya? Bisa saja Adam 
yg diambil dari tulang rusuk Hawa, dan Allah
 ternyata bukan bapak jenggot melainkan emak-emak yg pake konde but not jilbab.

Mother God, Mother God, why have you created me, teriak Adam yg dijajah oleh 
Hawa di Taman Firdaus.

Because I like it, kata Hawa sambil ngeloyor, biarpun gak ditanya. Allah is a 
woman, makanya saya posisinya lebih daripada kamu yg cuma laki-laki, apalagi 
kamu dibuat dari tulang rusuk saya.

Udah udah, kata Allah the Mother God. Turun sana ke bumi, dan ajarkanlah semua 
wanita untuk bukan pake konde saja tapi pake jillbab juga.

+

Tapi sebenarnya topik yg paling menarik buat saya adalah khotbah yg bilang 
bahwa Musa dikasih Taurat, Daud dikasih Zabur, dan Isa dikasih Injil.

Pedahal Musa tidak dikasih buku yg namanya Taurat, Musa menulis sendiri 
bukunya. Daud tidak dikasih Zabur, melainkan menggubah bait-bait lagu yg 
dinyanyikannya. Kemungkinan besar Daud buta huruf dan bait-bait lagu itu harus 
dituliskan oleh orang lain. Isa tidak
 diberikan Injil. Injil merupakan kisah tentang Isa dan ditulis oleh orang 
lain. Injil resmi terdiri dari 4 buku, dan yg menulis orang-orang lain. Ada 
Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Ini yg resmi.

Ada injil tidak resmi juga seperti "the Gospel according to the Egyptians". 
Nah, kisah tentang Isa yg mengutuk anak-anak kecil menjadi kambing dan membuat 
burung dari tanah liat berasal dari injil tidak resmi ini. "The Gospel 
according to the Egyptians" merupakan sumber dari surah Al Maryam di Al Quran. 
Biarpun tidak resmi, injil yg itu menjadi sumber Al Quran. Al Quran sumbernya 
banyak.

+

There are levels of consciousness. Even the smallest atom is aware of itself. 
We are composed of innumerable atoms, each of which being aware of itself. I 
read the Tao of Physics by Fritjof Capra, but found it ordinary. If quantum 
physics is true, what's implied? I only know that consciousness is all in all. 
Focus may change, but consciousness
 remains.

Intuitively I could say that quantum physics would try to show that matter is 
energy is consciousness. Einstein proved that accelerated matter is energy. 
Possibly quantum physics wants to say that accelerated energy is consciousness. 
The thing is, we have no machine to detect such. What constitute consciousness 
would also be a problem. Levels of consciousness is a known fact, but what's 
the practical purpose? To raise human understanding?

Yg penting kita tahu dari quantum physics bahwa kita ada karena kita ada. Kalau 
kita tidak ada, maka segala alam semesta ini akan lenyap. Tanpa ada yg 
mengamati, apa yg akan diamati? Tanpa ada Tuhan yg melihat, apa yg akan dilihat?

Dan Tuhan yg melihat itu bisa melihat dari mata anda, mata saya, dan mata siapa 
saja. Tanpa ada mata Tuhan yg melihat itu, maka segalanya tidak akan ada. Kita 
ada karena kita ada. Dan segalanya itu ada karena kita ada. Kalau kita tidak 
ada, maka segalanya juga
 tidak akan ada. Very simple.

+

Quantum physics menjelaskan secara ilmiah apa yg sudah diketahui oleh 
orang-orang spiritual dari berbagai aliran sejak ribuan tahun lalu, yg 
menggunakan berbagai macam cerita untuk mewariskan apa yg mereka telah pahami. 

Di tradisi Samawi (Yahudi, Nasrani, Islam), pengertian ketuhanan yg maha esa 
mulai diberikan oleh Musa, seorang tokoh mitologis yg dipercayai memberikan 
hukum Taurat kepada bangsa Yahudi. Yg kurang dketahui umum adalah kenyataan 
bahwa Musa jugalah yg menuliskan mitos penciptaan manusia di Taman Firdaus, 
mitos penciptaan alam semesta dalam waktu enam hari oleh Allah, dan mitos air 
bah di mana cuma Nuh dan kerabatnya yg selamat. Semuanya ini dituliskan oleh 
Musa, termasuk kisah pengembaraan Ibrahim dan anak keturunannya.

Tetapi siapakah Musa sendiri?

Sigmund Freud berpendapat bahwa Musa adalah seorang pendeta Mesir yg melarikan 
diri karena kultus monotheisme Dewa Aten yg
 baru dimulai di Mesir oleh Akhenaten diberangus oleh orde lama. Akhenaten 
adalah firaun Mesir di abad 14 SM yg tanpa diduga dan dinyana tiba-tiba 
mempopulerkan kultus Aten, Dewa Matahari, sebagai pencipta dan pemelihara 
segalanya. Aten sudah ada sejak semula di Mesir, tetapi Amenhotep IV yg lalu 
mengganti namanya sendiri menjadi Akhenaten, artinya 'efektif bagi Aten', 
memperoleh inspirasi untuk menaikkan dewa yg satu ini menjadi dewa tertinggi.

Dan hebohlah satu Mesir.

Akhenaten terkenal dengan permaisurinya yg sangat cantik bernama Nefertiti, dan 
segala bentuk seni budaya berkembang di masa pemerintahannya yg singkat. 
Akhenaten akhirnya mati terbunuh, dan kultus dewa tertinggi itu diberangus 
habis, orde lama kembali berkuasa.

Menurut Freud, Musa adalah seorang pelarian pendeta kultus Aten yg lalu 
memimpin keturunan orang Ibrani di Mesir untuk ke luar negeri itu dan masuk ke 
Kanaan. Yg dibawa oleh Musa adalah kultus ketuhanan yg
 maha esa. Ada satu dewa tertinggi, pencipta dan pemelihara. Kalau di Mesir 
namanya Aten, maka bagi orang Ibrani dicarikanlah nama baru, yaitu JHVH 
(Jehovah).

Musa adalah Moshe dalam bahasa Mesir, dan artinya 'anak'. Suatu nama yg pas 
bagi seorang tokoh mitologis, walaupun tentu saja ada figur asli di 
belakangnya, yg menurut Freud adalah seorang pendeta kultus Aten. Dari kultus 
Dewa Matahari atau Aten di Mesir, menjadi agama Torat, Yudaisme, Nasrani, 
Islam, dan berbagai turunannya, sudah ada berapa puluh generasi?

Akhenaten dan Musa hidup di abad 14 SM, dan kita di abad 21 M. Sudah ada 3,500 
tahun. Ini masa yg sangat singkat, bahkan untuk syiar segala macam ide yg 
relatif baru seperti Allah dan berbagai asma-Nya. Allah dan berbagai asma-Nya 
tidak lain dan tidak bukan merupakan Aten dan berbagai atributnya. Aten 
disimbolkan oleh bulatan matahari, artinya sumber yg memberikan hidup dan 
menumbuhkan, kesadaran abadi. Matahari cuma simbol saja
 dari Aten yg lalu menjadi Jehovah dalam Yudaisme, Kristus dalam Nasrani, dan 
Allah dalam Islam. 

Semuanya simbol saja, karena essensinya adalah bahwa kita sadar karena kita 
sadar, dan segalanya itu ada karena kita ada. Karena kita melihat, maka yg kita 
lihat itu ada. Kalau tidak ada kita yg melihat, maka alam semesta ini tak ada. 
Kita adalah kesadaran di anda, di saya, dan di siapa saja. Dan itu pula inti 
dari quantum physics. Itu yg utama, dan segala macam sahibul hikayat Adam dan 
Hawa di Taman Firdaus cuma pelengkap saja, teori yg dibuat agar manusia bisa 
berjalan terus tanpa resah sampai ada teori baru yg lebih memadai seperti teori 
Big Bang, Evolusi, bahkan teori Quantum Physics itu sendiri.

Pembelajaran, semuanya pembelajaran. Termasuk di sini pembelajaran tentang 
nasionalisme yg mulanya bersifat kesukuan, lalu nasional dan nanti akan 
internasional juga. Ternyata kita akan jadi unversal juga. Ternyata monotheisme 
kita asalnya dari
 Akhenaten, di Mesir. Ternyata kita semua pewaris dari ujung tombak kesadaran 
tinggi di Mesir kuno yg diberangus di tempatnya sendiri tapi berhasil ke luar 
dengan selamat melalui kepiawaian seorang Musa. 

Shall we not say alhamdulilah after this? Allah is another name for Aten, too. 

+

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia 
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.




Patung dada Firaun Akhenaten di Museum Berlin. Beberapa tahun lalu saya 
bermimpi menjadi seorang anak kecil yg berlarian masuk ke dalam suatu kuil. Di 
kuil itu cuma ada satu patung kepala besar sekali, dan saya naik-naik patung 
itu dari sebelah belakang. Terus saya ke sebelah depan dan memandang wajahnya. 
Ternyata matanya berbeda warna, yg satu biru dan satunya lagi kuning. Saya 
terhisap masuk ke matanya yg kanan, dan terbangun. Kemudian baru saya tahu 
bahwa yg saya lihat itu patung Akhenaten. Mata kiri berwarna biru, dan mata 
kanan berwarna kuning. Ini simbol juga, artinya feminin dan maskulin, yin dan 
yang, keduanya ada di kesadaran kita. Titik keseimbangannya di tengah, tidak 
biru dan tidak kuning, melainkan keduanya sekaligus.


      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke