Salam...

Sering dalam berdiskusi, terutama diskusi-diskusi dimilist yahoogroups kita 
kesulitan untuk bersepakat tentang suatu persoalan yang sesungguhnya mudah. 
Persoalan-persoalan mudah tersebut sering menjadi persoalan berlarut-larut 
karena dua hal, pertama karena persoalan teknis, yaitu ketidak mampuan untuk 
membedakan satu kata dengan kata yang lainnya dan satu pernyataan dengan 
pernyataan lainnya. Kedua karena persoalan non teknis, yaitu keinginan untuk 
merpertahankan kecenderungan pribadi, kepentingan kelompok, dan aneka egoisme 
yang lainnya :)

Sekarang kita lihat hal yang pertama dulu, yaitu persoalan teknis tentang 
pengetahuan kita terhadap kata-kata. Didalam berlogika kemampuan yang paling 
rendah yang harus dimiliki untuk meneliti kekeliruan berpikir, silogisme, 
analogi, generalisasi dan dilema adalah kemampuan untuk membedakan kata 
perkata.  Permasalahan seperti ini sekilas kelihatannya sepele, tapi apakah 
betul permasalahan seperti ini adalah persoalan yang mudah dan  sepele?

Mari kita lihat.

Kita sering ngeyel bersikeras mempersamakan kata tidak gemuk dengan kurus, 
tidak kaya dengan miskin, tidak terang dengan gelap, tidak pandai dengan bodoh 
dan sebagainya. Penggunaan kata-kata seperti itu tidaklah benar dan logis, 
karena kata tidak gemuk bukanlah berarti kurus, kata tidak gemuk untuk 
seseorang bisa saja berarti orang tersebut adalah orang yang berbadan atletis 
dan ideal. 

Kata 'tidak kaya' tidak berarti seseorang itu miskin, tidak kaya bisa juga 
berarti orang yang mempunyai uang yang cukup, namun tidak sampai berlebihan 
sehingga dia belum layak disebut sebagai orang yang kaya. 

Tidak pandai juga tidak bisa disamakan dengan bodoh, karena orang-orang yang 
sekolah dan kuliah sampai sarjana sekalipun banyak juga yang disebut sebagai 
orang yang tidak pandai, tapi juga tidak bisa dikatagorikan sebagai orang yang 
bodoh.

Dalam ilmu logika, persoalan seperti ini diatur khusus dalam sebuah bahasan, 
yakni tentang pengetahuan terhadap  kata. Dalam masalah ini dikenal tiga 
istilah teknis, yaitu kata positif, negatif dan privatif.

Kata positif adalah suatu kata yang mempunyai pengertian tentang penegasan 
'adanya' sesuatu terhadap dirinya sendiri, seperti :

. Gemuk --> menunjukkan  'adanya' daging.
. Kaya    --> menunjukkan  'adanya' harta.
. Terang --> menunjukkan  'adanya' cahaya.
. Pandai  --> menunjukkan  'adanya' ilmu.  
. Dan lain-lain

Kata Negatif adalah suatu kata yang yang diawali oleh kata-kata negasi seperti, 
tidak, non, tak, dan bukan, contohnya seperti :

. Non   Gemuk --> diawali kata  'Non' 
. Tidak Kaya    --> diawali kata ' tidak'
. Tak   Terang -->  diawali kata 'tak'
. Tak   Pandai  --> diawali kata 'tak'.  
. Dan lain-lain


Kata Privatif adalah suatu kata yang mempunyai pengertian tentang penegasan 
'tidak adanya' sesuatu terhadap dirinya sendiri, seperti :

. Kurus    --> menunjukkan  ' tidak adanya' daging.
. Miskin   --> menunjukkan   ' tidak adanya' harta.
. Gelap   --> menunjukkan  ' tidak adanya' cahaya.
. Bodoh  -->  menunjukkan   ' tidak adanya' ilmu.  
. Dan lain-lain

Dengan memperhatikan pengertian kata tersebut, maka sekarang makin jelaslah 
bagi kita bahwa tidak gemuk tidak semakna dengan kurus, tidak kaya tidak 
semakna dengan miskin, tidak pandai tidak semakna dengan bodoh dan tidak terang 
tidak sama dengan gelap.

Pertanyaannya, apakah semua kata negatif tidak sama dengan kata privatif? 

Tentu saja tidak semua, ada juga beberapa kata negatif yang semakna dengan kata 
privatif, misalnya tidak lulus yang semakna dengan gagal, tidak hidup semakna 
dengan mati, tidak pergi semakna dengan ditempat dan lain sebagainya. Sampai 
disini kita sudah tahu sedikit tentang kemampuan teknis dalam berdiskusi dari 
sisi logika, berikutnya akan kita bahas kemampuan teknis yang lain, yaitu 
tentang penggunaan kata universal dan partial.



Salam,


Iman K.
www.parapemikir.com

Kirim email ke