MASIH RELEVANKAH AJARAN
SYEKH SITI JENAR DEWASA INI?

Oleh: Ir. Achmad Chodjim, MM*


Note :

* Ir. Achmad Chodjim adalah penulis buku Syekh Siti jenar: Makna Kematian
(jilid 1), Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan (jilid 2) dan
Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga.

isampaikan pada seminar budaya "culture and Indonesianess" dengan tema 
"Agama Ageming Aji". Di Hotel Indonesia Kempinski - Grand Indonesia, 19 Mei 
2009.


Seri 3/4

Tentang Ajaran Pokok Syekh Siti Jenar


Ajaran pokok Syekh yang ketiga adalah hubungan antara satu orang dengan 
orang lain merupakan hubungan kodrat dan iradat. Hubungan satu orang dengan 
orang lain bagaikan hubungan kerja dalam satu tim, sehinga tidak terjadi 
hubungan posisi yang memerintah dan yang diperintah. Tak ada hubungan 
kekuasaan. Antara manusia yang satu dengan yang lain terikat oleh kodrat 
dan iradatnya, sehingga seperti hubungan sel yang yang satu dengan sel 
lainnya dalam satu tubuh, dan hubungan organ yang satu dengan organ lainnya 
dalam satu tubuh.
Kalau kita amati cara kerja organ-organ dalam tubuh manusia, maka kita akan 
ketahui bahwa masing-masing organ –seperti otak, penglihatan, penciuman, 
pendengaran, paru-paru, jantung, hati, ginjal, usus, dan lain-lain– akan 
bekerja sama, dan masing-masing menjalankan peranannya. Seharusnya 
kehidupan masyarakat manusia juga demikian. Dengan mewujudkan masyarakat 
yang berupa kumpulan manusia-manusia hakiki, masing-masing orang atau 
kelompok menjalankan fungsinya dengan benar, maka akan terbentuk kehidupan 
yang sehat dan tidak terjadi penghisapan antara orang yang satu terhadap 
orang lainnya. Inilah kehidupan dunia yang didambakan oleh Syekh Siti 
Jenar, yang justru sekarang tumbuh dan berkembang di negara maju.

Ajaran pokok yang keempat : segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu 
dan hidup. Dalam salah satu pupuhnya disebutkan bahwa bumi, angkasa, 
samudra, gunung dan seisinya, semua yang tumbuh di dunia, angin yang 
tersebar di mana-mana, matahari dan rembulan, semuanya merupakan keadaan 
hidup. Jadi, semua yang ada merupakan wujud kehidupan.
Menurut Syekh Siti Jenar yang dinamakan makhluk hidup adalah kehidupan yang 
terperangkap dalam alam kematian. Zat mati tak akan dapat menimbulkan 
kehidupan, sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Tuhan disebut 
zat yang mahahidup karena Dia eksis karena Diri-Nya sendiri. Kekuatan 
hidup-Nya mengalir dalam alam kematian sehingga muncul sebagai makhluk 
hidup. Sekarang bandingkan dengan tulisan-tulisan dari Barat dewasa ini, 
akan kita temukan pernyataan mereka bahwa semuanya satu, semuanya hidup. 
Dengan demikian, pandangan Syekh Siti Jenar luar biasa. Banyak pandangannya 
yang justru bersesuaian dengan pandangan kaum teosofi maupun para 
spiritualis dari Barat.
Bila kita menyadari bahwa lingkungan kita adalah keadaan yang hidup, maka 
tentu kita akan memperlakukan lingkungan kita dengan sebaik-baiknya karena 
kita dan lingkungan kita sebenarnya satu dan sama-sama sebagai keadaan yang 
hidup. Bila kita menyadari tentu kita akan berhati-hati dalam memperlakukan 
lingkungan kita.

Ajaran pokok yang kelima: pemahaman tentang ilmu sejati. Dikisahkan dalam 
Serat Siti Jenar yang ditulis oleh Aryawijaya: Sejati jatining ngèlmu, 
lungguhé cipta pribadi, pustining pangèstinira, gineleng dadya sawiji, 
wijanging ngèlmu dyatmika, nèng kahanan eneng ening. Hakikat ilmu sejati 
itu terletak pada cipta pribadi, maksud dan tujuannya disatukan adanya, 
lahirnya ilmu unggul dalam keadaan sunyi dan jernih.
Menurut Syekh Siti Jenar manusia haruslah kreatif karena manusia telah 
diberi anugerah oleh Yang Mahakuasa untuk dapat mengaktualisasikan ilmunya 
yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Jadi, ilmu sejati bukanlah ilmu 
yang kita terima dari orang lain. Yang kita dapatkan melalui indra, 
pengajaran dari orang lain, itu hanyalah refleksi ilmu. Dan, ternyata sejak 
abad ke-20 pemahaman bahwa ilmu lahir dari kedalaman batin telah menjadi 
pemahaman yang universal. Itulah sebabnya orang-orang Barat tekun dalam 
melakukan perenungan dan pengkajian terhadap tanda-tanda di alam semesta.
Jadi, harus ada suasana kondusif bagi orang-orang yang mendalami ilmu 
pengetahuan. Suasana kondusif bagi ilmuwan adalah iklim kerja yang membuat 
ilmuwan tersebut dapat bekerja dengan tenang, nyaman, dan bebas dari 
berbagai penyebab kekalutan dan kesulitan. Dan, tentunya hak-hak untuk 
dapat menjadi ilmuwan sejati haruslah dipenuhi. Ingat, setiap orang telah 
diberi potensi dan talenta yang disebut kodrat. Dan, bagi mereka yang 
memiliki kodrat untuk menjadi ilmuwan harus disediakan iklim kerja yang 
kondusif sehingga bisa menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan manusia.

Ajaran pokok yang keenam: umumnya orang hidup saling membohongi. Banyak hal 
yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu, tapi kita menyampaikannya juga 
kepada teman-teman kita. Hal ini banyak sekali terjadi dalam ajaran agama. 
Banyak orang yang sekadar hafal dalil, tetapi sebenarnya dia tidak 
mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil itu. Akhirnya pemahaman yang keliru 
itu menyebar dan terbentuklah opini yang salah.
Masyarakat yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang salah sama dengan 
masyarakat yang dipenuhi sampah. Masyarakat demikian pasti rawan terhadap 
serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat harus dibebaskan dari 
berbagai macam kebohongan. Masyarakat harus diajar dan dididik untuk 
memahami segala sesuatu seperti apa adanya.
Agar tidak hidup saling membohongi manusia harus kembali mengenal dirinya. 
Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini. Para 
cerdik cendekia harus mengerti fungsinya di dunia. Orang harus diajar untuk 
bisa mengerti dunia ini sebagaimana adanya. Agama harus diajarkan sebagai 
jalan hidup dan bukan alat untuk meraih kekuasaan. Oleh karena itu, 
keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar diajarkan sebagai 
kepercayaan. Iman harus diajarkan sebagai penghayatan, pengalaman, dan 
pengamalan kebenaran.

Ayat-ayat kitab suci harus dipahami berdasarkan kenyataan, dan tidak 
diindoktrinasikan serta diajarkan secara harfiah sesuai dengan asal kitab 
suci tersebut. Agama harus diajarkan secara arif dan bisa dibumikan, tidak 
terus menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk yang 
dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat penerimanya.

Salam,
Ferrydjajaprana

Kirim email ke