[Esai]

Penulis dan Gerakan Sosial
---Anwar Holid

ADA penulis berbasis individu, ada pula yang berbasis komunitas. Andrea Hirata 
merupakan contoh penulis berbasis individu, dia membangun karir kepenulisannya 
sendirian, minus dukungan akar komunitas. Sementara penulis seperti Asma Nadia 
berbasis komunitas, karena dia tumbuh dalam Forum Lingkar Pena (FLP), bahkan 
termasuk pendirinya. 

Di luar negeri, ada penulis individualis seperti Franz Kafka dan Emily 
Dickinson. Keduanya tumbuh sendirian, tak didukung komunitas dan patron 
tertentu. Sebagian penulis lain bergabung atau membangun kelompok. Misal 
Virginia Woolf terlibat dalam Bloomsbury Group dan Italo Calvino ikut OuLiPo 
(Ouvroir de Litterature Potentielle; Workshop Sastra Potensial). Apa pun 
pilihannya, mereka memberi pengaruh, baik pada individu maupun masyarakat.

Beberapa penulis menjadi eksponen utama (memimpin) sebuah gerakan, misalnya 
Jean-Paul Sartre dalam eksistensialisme. Boleh jadi, dialah yang paling penting 
dalam gerakan tersebut, pengaruhnya begitu terasa, baik lewat karya maupun 
betapa pandangannya dibahas dan karyanya dikutip. Beberapa tahun ke belakang, 
Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) sempat melahirkan satu generasi penulis 
yang membidani majalah ON/OFF dan kini di antara mereka lahir menjadi penulis 
kuat dalam sastra Indonesia, antara lain Puthut EA dan Eka Kurniawan, berikut 
generasi penerusnya, seperti Ratih Kumala. Gerakan yang dibangun oleh FLP lebih 
massif lagi dan berpengaruh besar dalam industri penerbitan Indonesia, sebab 
sejumlah eksponennya mampu melahirkan produk yang bisa diserap pasar secara 
besar-besaran, bahkan memunculkan me-too product, misalnya karya Helvy Tiana 
Rosa, Gola Gong, dan Habiburrahman El-Shirazy.

Saut Situmorang, sarjana sastra yang dijuluki "the lone wolf" dalam sastra 
Indonesia, menyatakan keberadaan gerakan seni ini menyiratkan adanya "kesamaan 
ideologi" berkesenian atau estetika, walau ungkapan dan pelampiasan (ekspresi) 
maupun gaya (style) masing-masing penggeraknya belum tentu sama. Dalam 
sejarahnya, pembentukan gerakan seni semacam ini lazimnya bertujuan melakukan 
"pembaruan estetika" melawan dominasi estetika status quo. 

"Justru kesamaan ideologislah yang paling menonjol sebagai ciri khas dari 
setiap gerakan seni. Keyakinan atas sangat pentingnya simbolisme sebagai bentuk 
ucapan merupakan ciri khas kaum Simbolis yang membedakan mereka dari kaum 
Romantik di Inggris pada zamannya, misalnya," kata dia.

Sejumlah gerakan kadang-kadang melahirkan kelompok budaya tanding 
(counterculture), sebab mereka sengaja melanggar aturan dalam budaya umum 
(mainstream) dan menawarkan nilai yang sama sekali lain, bahkan bisa 
bertentangan dengan nilai yang berlaku umum atau dianggap beradab. Secara garis 
besar kita bisa melihat bahwa FLP mendukung gerakan moralisme, sementara TUK, 
meskipun ada eksponen Islam di dalamnya, lebih merupakan gerakan 
liberalisme-sekuler.

MENULIS pada praktiknya merupakan tindakan individual, suatu kemampuan yang 
ditumbuhkan terus-menerus oleh penulis sendiri. Seorang penulis boleh jadi 
tumbuh dalam komunitas besar atau kelompok eksklusif, tetapi proses kreatif dan 
melahirkan karya (produk) tetap bergantung dari orang itu sendiri, sampai 
akhirnya karya itu membentuk ciri khas penulisnya. Tulisan yang beres merupakan 
usaha keras pribadi; meski bisa saja pemupukannya bergantung pada masukan 
orang-orang sekitar.

Bila dikaitkan dengan kepedulian sosial, ekspresi penulis dalam membangun 
gerakan sosial juga macam-macam. Ada penulis yang membuka lebar-lebar rumah 
mereka agar bisa diakses oleh masyarakat setempat, meski risiko keterbukaan itu 
kadang-kadang disikapi negatif oleh orang tertentu. Di Serang, Banten, 
terdengar cerita Gola Gong dan kawan-kawan mendirikan Rumah Dunia, meski 
sebagian orang bersikap buruk terhadap upaya baiknya. Ternyata niat baik tidak 
selalu melahirkan reaksi serupa. 

Penulis yang luar biasa sukses dengan bukunya ada saja yang menggunakan 
sebagian royalti untuk amal, terutama membangun lembaga amal, baik untuk 
kepentingan dunia tulis-menulis ataupun bidang lain, misalnya kesejahteraan  
sosial dan riset ilmu pengetahuan.

Boleh jadi seorang penulis kurang akur, agak tertutup, atau dianggap eksentrik 
dalam lingkungan masyarakat, karena secara pemikiran dan strata sosial agak 
berbeda dengan mereka, meski dia tetap bisa terbuka pada rekan-rekan seprofesi 
dan sealiran, membiarkan mereka mengakses rumah beserta isinya, memanfaatkan 
fasilitas di dalamnya, bahkan sengaja menggunakan rumah tersebut menjadi 
semacam "tempat penampungan" bagi kawan-kawannya, dan akhirnya praktik tersebut 
melahirkan budaya patron. 

Siapapun yang lebih leluasa dalam hal senioritas, pengetahuan, ekonomi, modal 
sosial, bisa menjadi patron. Seorang patron bisa jadi bukan seorang sastrawan 
(seniman) itu sendiri, melainkan tokoh masyarakat, penguasa, maesenas, 
kolektor, pengusaha sukses, dan pejabat publik. Kita bisa menyatakan bahwa 
peran Saini K.M. dalam "Pertemuan Kecil" yang begitu besar---terutama menjadi 
guru dan pembahas puisi---membuatnya menjadi patron banyak penyair muda Bandung 
pada tahun 80-an. Peran Umbu Landu Paranggi sebagai guru dan patron para 
penyair di Jogja dan Bali juga sudah menjadi legenda. 

APA PUN mode gerakan yang dipilih penulis---baik individual atau komunal---
tidak masalah. Saut Situmorang meyakinkan bahwa penulis yang tidak ikut dalam 
komunitas sastra tertentu (bergerak sendirian), juga bukan merupakan kelemahan. 
"Toh para pengarang yang jadi anggota komunitas sastra itu pun berbeda-beda 
gaya ekspresi sastranya. Jadi seperti tidak ikut komunitas. Cuma, mereka punya 
organisasi yang membuat sosialisasi ideologi seni mereka ke masyarakat jauh 
lebih hiruk-pikuk."

Boleh dibilang bahwa penulis yang berhasil pasti memberi pengaruh, baik kepada 
orang tertentu maupun massa. Penulis bahkan bisa melampaui zaman, bahwa 
pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu ketika ia masih hidup. Tulisan, ide, 
pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai 
akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, membentuk sikap tertentu. Dengan 
pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan 
perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali 
pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan 
perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi 
warisan budaya generasi selanjutnya. 

Di sinilah pentingnya mencatat dan mendokumentasi, agar penelitian dan 
kesinambungan kepada generasi selanjutnya cukup mudah ditelusuri. Salah satu 
kelemahan umum dari gerakan seni yang terjadi di Indonesia buruknya 
dokumentasi, yang pada gilirannya akan menyulitkan generasi selanjutnya 
kesulitan menelaah signifikansi gerakan tersebut bila gerakan itu sudah mati 
dan inaktif.[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung; bekerja sebagai penulis, 
editor, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

Esai ini dipublikasi di Radar Bandung, Minggu, 5 Juli 2009. Versi awalnya 
merupakan bahan diskusi di ODE KAMPUNG #3, Rumah Dunia, Serang, Banten, Sabtu, 
6 Desember 2008. 

Copyright © 2008 oleh Anwar Holid

KONTAK: war...@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II 
No. 26 B Bandung 40141

Anwar Holid: penulis, penyunting, publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: war...@yahoo.com | (022) 2037348 | 085721511193 | Panorama II No. 26 B 
Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.visikata.com
http://www.gramedia.com
http://halamanganjil.blogspot.com 

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones


      

Kirim email ke