Seputar Issu Terorisme
Senin, 17 Agustus 2009 23:17:37 WIB

SEPUTAR ISSU TERORISME


Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary



Tema seputar irhab (terorisme) menjadi pembicaraan hangat di setiap lapisan 
masyarakat dan ittijahat (berbagai pihak dengan berbagai kepentingannya). 
Setiap Negara memperbincangkannya, baik negara Islam atau bukan. Semua orang 
juga berbicara tentang irhab. (Begitu pula) orang-orang Islam dan non-muslim, 
anak-anak, dewasa dan wanita. Mereka semua membicarakannya. Sehingga, perlu 
disampaikan sebuah pernyataan yang menyejukkan dan menentramkan yang dapat 
menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya.

Kata irhab menurut tinjauan syari'at pada asalnya bukanlah kata yang dibenci. 
Bahkan ini merupakan kata yang mendapat porsi makna tersendiri di dalam 
syari'at dan di dalam Al-Qur'an. Allah berfirman.

"Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu 
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan 
persiapan itu) kamu menggetarkan (membikin irhab pada) musuh Allah".[Al-Anfal : 
61]

Rasa gentar dan takut yang menyelinap di hati para musuh Islam, adalah 
ketakutan luar biasa, yang difirmankan Allah.

"Artinya : Kelak Aku jatuhkan rasa takut ke hati orang-orang kafir". [Al-Anfal 
: 12]

Dan juga disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan kepada musuh) sejak 
sebulan perjalan". [Hadits Riwayat Bukhari]

Jadi, kata irhab menurut istilah Islam yang Qur'ani bukan irhab dalam kenyataan 
yang terjadi akhir-akhir ini, dan bukan pula irhab dalam kejadian mencekam yang 
problematis sekarang ini.

Sebab irhab menurut konteks kekinian dan menurut peristiwa problematis sekarang 
ini, identik dengan kerusakan, perusakan, pembunuhan membabi buta dan peledakan 
yang dilakukan secara ngawur, tanpa dasar petunjuk, bayyinah (bukti nyata) 
serta bashirah (ilmu) sama sekali. Akan tetapi hanya berdasarkan dorongan 
semangat dan emosi semata. Dengan dalih, sebagai pembelaan dan kecintaan 
terhadap agama. Namun tidak semua orang yang mencintai agama, dapat 
melaksanakan agama dengan baik dan benar. Ibnu Mas'ud mengatakan :"Betapa 
banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak dapat meraihnya".

Demikianlah,sesungguhnya prinsip dan asas Islam dalam jihad bertumpu pada 
perbaikan dan penyebaran hidayah, bukan penghancuran, pembunuhan atau 
peperangan, namun bermisi menebarkan hidayah kepada manusia, mengeluarkan 
mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dari kezhaliman serta keputusasaan menuju 
kebahagian dan curahan kebaikan. Acuannya terdapat pada firman Allah.

"Artinya : Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu 
(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak 
menyukai orang-orang yang melampui batas". [Al-Baqarah : 190]

Allah menghubungkan terjadinya peperangan, disebabkan oleh peperangan, tanpa 
boleh bertindak melampui batas. Dan Allah menjelaskan pada akhir ayat, tindakan 
yang bengis dan kejam tidak disukai Allah Ta'ala. Allah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menykai orang-orang yang melampaui batas".

Bahkan Al-Qur'an melukiskannya dalam gambaran yang indah dalam ayat.

"Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil 
terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) 
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang 
berlaku adil". [Al-Mumtahanah : 8]

Dalam ayat pertama Allah mengatakan : "Sesungguhnya Allah tidak menyukai 
orang-orang yang melampui batas". Sedangkan pada ayat yang kedua Allah 
berfirman : "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil". Inilah 
hakikat Islam dengan risalahnya yang luhur, prinsip-prinsipnya yang universal, 
bersifat baik dan berorientasi mempebaiki kondisi, tidak dibatasi oleh dimensi 
waktu maupun ruang, supaya menjadi agama Allah yang terakhir sebagai perwujudan 
firman Allah.

"Artinya : Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah adalah Islam".

Dan firmanNya.

"Artinya : Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah 
akan diterima (agama itu) darinya".

Begitulah agama Islam, keagungan tercermin pada pribadi Nabi Muhammad yang 
bersabda.

"Artinya : Ketahuilah, aku diberi Al-Qur'an dan (wahyu) serupa datang 
bersamanya".

Nabi menganggap bahwa pengkhianatan terhadap perjanjian dengan orang kafir yang 
sedang dalam ikatan perjanjian bersama dengan kaum muslimin, baik atas 
permintaan orang kafir atau atas ajakan kaum muslimin. Nabi menganggap 
penghianatan itu sebagai dosa besar. Beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa membunuh seorang mu'ahad (dalam perjanjian dengan kaum 
muslimin), niscaya ia tidak akan mencium aroma Syurga. (Padahal) aroma syurga 
dapat tercium sejak empat puluh tahun perjalanan". [Hadits Riwayat Bukhari No. 
3.166]

Cermatilah wahai kaum muslimin dengan cara pandang Islam yang luhur, yang 
tercermin dalam syariâ?Tat yang bijak, dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. 
Bandingkanlah dengan fenomena menyedihkan yang terjadi di negera ini 
(Indonesia, -red). Perhatikanlah apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin, 
dengan dalih jihad dan menegakkan semangat amar ma'ruf nahi mungkar, yang 
akhirnya mengguncang stabilitas keamanan dan mengacaukan masyarakat. Efeknya 
terjadi pembunuhan terhadap jiwa orang Islam. Padahal, darah mereka lebih 
terhormat di sisi Allah dibandingkan Ka'bah yang mulia.

Kemana mereka dengan ilmu (yang dimilikinya) atau (lebih pantasnya) dengan 
kebodohannya ? Kita tidak akan lupa terhadap tindakan mereka yang sadis dengan 
mengatasnamakan Islam, padahal sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. 
Tidak ada toleransi bagi kita atas perbuatan mereka ini, ketika ada di antara 
mereka yang memperoleh penganiayaan, serta penyiksaan. Sebab Allah telah 
berfirman.

"Artinya : Dan balasan kejahatan adalah kejelekan serupa".

Tenu saja semua ini termasuk dalam pedoman-pedoman syar'i.

Apalagi, mereka melakukannya dengan keburukan, tentunya akan mendapatkan 
imbalan keburukan yang berlipat ganda. Tindakan mereka tanpa pedoman ilmu, 
tanpa bayyinah (bukti), tanpa petunjuk dan tanpa taufikNya.

Saya kagum dengan ungkapan seorang da'i ketika menggambarkan para pelaku 
aksi-aksi merusak tersebut dengan mengatasnamakan Islam, yang mungkin dengan 
niat baik. Namun, niat baik tidak akan mengubah amalan jelek menjadi amalan 
shalih. Sebab sabda Nabi.

"Artinya : Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya".

Maksudnya sesungguhnya amalan baik tergantung niatnya yang baik pula.

Da'i itu mengatakan : â?oSesungguhnya masalah utama kita dengan orang-orang 
itu, terletak pada permasalahan akal-akal mereka, bukan terletak pada hati-hati 
mereka".

Mungkin hati mereka berniat baik, tapi belum cukup, sebab harus bersesuaian 
dengan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Bagaimana kalau peristiwa ini 
dimanfaatkan oleh pihak-pihak musuh dengan memperalat mereka untuk merusak dan 
menodai citra Islam ?

Dalam kesempatan ini saya ingin menyebutkan satu perkara yang harus ditulis 
oleh sejarah dan harus diabadikan sepanjang masa. Bahwa dakwah Salafiyah dengan 
para ulamanya, da'i-da'inya, penuntut ilmunya dan guru-gurunya, benar-benar 
telah memperingatkan bahaya pemikiran-pemikiran ekstrim dan menyimpang ini. 
Pemikiran-pemikiran yang telah diingatkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam dengan sabdanya.

"Artinya : Hati-hatilah, jangan sekali-kali bersikap ghuluw (berlebihan) dalam 
agama. Sesungguhnya hal yang telah membinasakan orang-orang sebelummu hanyalah 
sikap ghuluw mereka dalam agama mereka".

Dakwah Salafiyah yang diberkahi ini telah memperingatkan bahaya 
pemikiran-pemikiran menyimpang tesebut sejak lebih dari 20 tahunan, dan semakin 
menggema peringatan itu semenjak sepuluh tahun belakangan, sebelum kita 
mendengar di radio, koran, majalah dan media massa lain tentang issu terorisme.

Para ulama dakwah Salafiyah telah mengingatkan bahaya sikap ghuluw yang 
dibangun berdasarkan penyimpangan terhadap Al-Qur'an dan Sunnah ini, sejak 
bertahun-tahun lamanya dengan maksud agar istilah-istilah syar'i tertanam 
secara mengakar, kemudian meletakkannya sesuai dengan tempatnya. Baik berkaitan 
dengan istilah jihad, batasan-batasan, hak-hak serta ketentuan-ketentuannya, 
atau istilah kufur dan takfir, ataupun istilah-istilah lain yang masih banyak 
lagi.

Ini merupakan point penting yang harus dicamkan dalam benak dan ditanamkan 
dalam hati, supaya al-haq (kebenaran) sajalah yang menjadi penuntun dan 
pembimbing

Sebagai penutup ceramah saya, (saya sampaikan) dua hal penting yang berkaitan 
erat dengan negara ini, yang penduduknya baik-baik, mengagungkan Kitabullah dan 
Sunnah Rasulullah. Dua perkara tersebut ialah.

[1]. Negara ini adalah negara Islam terbesar yang berpenduduk lebih dari 200 
juta, mayoritas adalah muslimin. Islam tersebar dengan luas di negeri ini sejak 
beberapa abad lalu, tidak dengan pedang, tetapi dengan akhlak, iman dan amal 
shalih. Mana bukti tuduhan terorisme kini yang ingin dilekatkan kepada Islam, 
yang -sebenarnya- sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam? Kita 
bersyukur kepada Allah, sebab di awal abad sebelum abad ini, Allah telah 
menempatkan seorang alim yaitu Syaikh Allamah Ahmad Asy-Syurkati yang 
meluruskan garis perjuangan, berdakwah kepada Al-Kitab dan Sunnah, memerangi 
syirik, khurafat, kesesatan, menyeleksi hadits yang dha'if dan memerangi 
bid'ah. Tokoh ini, telah berkerja mentauhidkan masyarakat negeri ini 
berdasarkan ilmu yang murni manhaj yang benar.

[2]. Keharusan membedakan antar hakikat terorisme dengan pembelaan terhadap 
tanah air muslimin. Kalau ada negara menjajah negara lain, maka pembelaan diri 
tidak termasuk terorisme, meskipun menurut pengertian para musuh Islam. Justru 
(pembelaan ini) merupakan kewajiban yang diperintahkan sesuai dengan kemampuan 
dan kemudahan yang dimiliki. Negara ini selama empat abad melakukan perlawanan 
terhadap penjajah Belanda dan berhasil mengusir mereka dari tanah air.

Semoga Islam tetap berkibar di negeri ini, sehingga hati menjadi penuh dengan 
kebahagiaan, dan jiwa manusia dipenuhi keimanan.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M Rubrik Liputan 
Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby 
Al-Atsary Tanggal 5 Desember 2004 di Masjid Istiqlal Jakarta]

Kirim email ke