T = Mas Leo,


Orang yang menghujat mas itu lucu bin aneh ya ? Jadi temen di FB tapi nyela 
terus kerjaannya. Kayak orang bingung.



J = Biarin aja, urusan orang.



As a matter of fact, kita bisa melakukan analisa terhadap berbagai
tantangan kejiwaan yg dihadapi oleh berbagai manusia. Bisa melakukan
penelitian juga dengan samples yg berasal dari berbagai komentar orang
di notes saya di facebook.



Saya ini kan konselor bagi orang-orang bingung, jadi saya bisa tahu apa
yg membebani orang dan bagaimana solusinya. Tetapi tentu saja hal itu
tidak bisa saya tuliskan begitu saja kalau orangnya sendiri tidak
meminta. Lagipula, notes saya di facebook isinya topik yg umum, yg bisa
membantu kemaslahatan orang banyak. Jadinya seringkali saya tidak bisa
menukik as well as menyungsep ke dalam heart of the matter yg paling
relevan bagi tiap orang.



Kalau orangnya bertanya langsung kepada saya straight to the point, dan
saya merasa bahwa orangnya sudah siap to confront the truth, saya juga
akan bisa bilang: ini lho masalahnya which is your own frame of mind.



Frame of mind kita berubah terus. Ada yg namanya persepsi atau cara
pandang, dan itu berubah terus walaupun biasanya orang akan bersumpah
kerak keruk bahwa dirinya tidak akan berubah sampai mati karena sudah
memegang segala macam janji dari Allah. Nah, kalau kita bertemu dengan
orang seperti itu, kita akan tahu bahwa orangnya sedang berusaha untuk
meyakinkan dirinya sendiri saja.



Yg ingin dia yakinkan bukanlah orang lain melainkan dirinya sendiri
saja. Kenapa dia harus meyakinkan dirinya ? Karena dia melihat dengan
mata kepalanya sendiri bahwa ada banyak orang lain yg memiliki frame of
mind berbeda ternyata bisa jalan, dan bahkan jalannya lebih oke.



Nah, orang ini lalu merasa dirinya "tertantang" (dalam tanda kutip)
untuk membuktikan bahwa keyakinannya itu benar. Caranya bisa dengan
memaki orang lain yg berbeda pandangan, bisa dengan memasukkan
kepalanya ke dalam lobang pasir seperti burung onta. 



For your information, burung onta ini hibrida antara burung dan onta,
jadi kelakuannya sedikit beda dibandingkan dengan onta yg hidup di
Arab. Burung onta adalah onta yg dikawinkan dengan burung. Dengan kata
lain, mereka yg sifatnya seperti burung onta adalah orang yg dibesarkan
dengan pemikiran Arab (onta) tetapi diajarkan di sekolah untuk berpikir
rasional seperti orang Barat (burung).



In the end jadilah burung onta yg, kalau saya tidak salah, suka
bermunculan juga di notes saya memberikan komentar sambil
menyembunyikan kepala mereka di dalam lubang pasir. Is that good, or is
that bad ? Neither. Saya tidak menghakimi orang. 



Menurut saya mereka orang biasa saja walaupun mereka bertahan dengan
pendapatnya bahwa kita semua harus menjadi seperti onta. Pedahal dia
sendiri juga sudah bukan onta asli melainkan hibrida antara burung dan
onta. Makanya namanya burung onta.



T = Mas Leo inget ga saya pernah nanya, gimana caranya bisa cuek kayak
Mas Leo ? Seperti feel free bilang agnostik, kata mas kan itu semua
melalui proses puluhan taun. 



J = Saya bisa cuek karena saya tahu bahwa semua manusia itu berproses. 



Ada proses jatuh bangun, dan ketika sedang berada di tengah proses itu,
ketika lagi hot-hotnya bersetubuh dengan pikirannya sendiri, maka
orangnya akan tampil seperti orang kalap. Pokoknya harus jalan terus,
naik turun terus, oho oho terus.



Nah, kalau kita tidak mengerti kita akan bingung juga melihat orang itu
memaki-maki. Pedahal orang itu sedang merasakan kenikmatan. Nikmat
merasakan bahwa dirinya itu hidup. Hidup dan bergerak-gerak sampai
akhirnya dia mencapai klimaks. Begitu berulang kali. 



Dan sebelum mencapai klimaks kita akan menyaksikan keluarnya
ucapan-ucapan yg terlihat agak menyeramkan. Seperti memuja muji tetapi
seperti memaki juga. Ada yg mendesis kayak ular cobra, dan bisa
mematuk-matuk juga seperti ayam. 



But all these weird behaviors are for the person only. Cuma untuk diri
dia sendiri saja menyalurkan hormonnya. Dan itu bisa dilakukannya
bersama dengan orang lain, muhrim or not, bisa juga dilakukannya
seorang diri saja. 



Dialog dengan diri sendiri seperti itu analoginya. Dialog dengan Allah
juga seperti itu, seperti menggosok-gosokkan our genital to Allah's
genital. Pedahal yg ada cuma genital kita sendiri saja, dan Allah itu
none other than our own syaraf. In this case syaraf genital kita yg
sangat sensitif. Dan itulah asal muasalnya sehingga kita bilang bahwa
Allah Maha Sensitif. 



Allah Maha Sensitif tidak boleh disinggung karena kalo disinggung bisa mekar. 



Kita bisa bayangkan bahwa Allah adalah yg memberikan kita segala
kenikmatan sentitit itu, pedahal yg ada cuma syaraf kita sendiri saja
dan, lagi pula, siapa tahu ternyata Allah itu jenis kelaminnya sama
dengan diri kita sehingga tanpa kita sadari ternyata kita telah
melakukan hubungan sejenis or homosex. Pedahal neither homo nor hetero,
melainkan masturbasi antara kita dan bayangan kita tentang Allah. 



Lalu kita syiar apa pendapat kita tentang Allah yg kita peroleh ketika
kita bermasturbasi. Kita bilang bahwa Allah harus dicubit-cubit baru
bisa bereaksi karena dia itu frigid. Ada yg bilang musti dicupang dulu.
Ada yg bilang musti main oral. Other persons might say bahwa cukup diam
saja dengan sikap ikhlas dan pasrah sampai Allah berkenan datang dalam
suatu mimpi basah yg bisa juga dibilang sebagai malam yg penuh rahmat.
Lailatul something.



Tapi ini semuanya berasal dari imajinasi kita sendiri saja bukan ? Dan
karena saya tahu bahwa semua orang berimajinasi, dan berhak untuk
mengungkapkan hasil imajinasinya itu, dan juga berhak untuk bilang
bahwa imajinasi orang lain kurang oke dibandingkan dengan imajinasi
dirinya,... akhirnya saya bisa menerima segalanya. Segala hasil
imajinasi itu valid. Sama validnya seperti burung onta yg
menyembunyikan kepalanya di dalam pasir sambil mengkhayal sedang oho
oho sama Allah karena selama ini sudah berusaha untuk menjadi onta yg
baik walopun bentuknya burung.



T = Whedeew ! Trus, dulu gimana rasanya mas saat-saat pertama dihujatin
orang-orang, sempet sebel dan marah juga ga mas ? Boleh ngga saya tau
pengalamannya Mas Leo ?



J = Karena saya juga berproses, saya juga sempat marah-marah dulu waktu
saya masih kecil sekali. Untungnya saya cepat sadar karena Malaikat
Jibril datang tergopoh-gopoh membawa SMS dari Allah untuk saya. Isinya
tulisan dalam bahasa Arab yg saya tidak mengerti. Allah dari Arab kata
Jibril, makanya harus begitu tulisannya. Tapi the SMS dari Allah saya
kembalikan. Saya bilang: I don't need Allah yg dari Arab. Kalo bener
Tuhan, maka harus bicara langsung ke dalam kesadaran saya.



Akhirnya petunjuk dari Allah yg asli muncul di kesadaran saya. Saya
langsung mengerti bahwa tiap orang menjalani prosesnya masing-masing.
Ada jatuh bangun. Ada masa-masa di mana orangnya memaki-maki. Ada
perhentian-perhentian. Ada orang yg bertahan di syariat. Ada yg sampai
hakekat. Ada yg makrifat. Ada yg pakai alat bantu berupa ayat ayat
Tuhan. Ada yg pakai ayat ayat Setan.



Tapi saya akan biasa-biasa saja karena saya tahu bahwa semuanya adalah
pilihan bagi manusianya sendiri. Ada manusia yg mau bertahan di level
SD, ada yg mau masuk SMP. Ada yg sudah SMA tapi kembali lagi ke TK. Dan
ini semua sah saja, valid saja, karena berlaku bagi manusianya sendiri.
Saya sendiri tidak apa-apa. I am an observer of life changing forms.
Kesadaran yg berubah dari bentuk satu ke bentuk lainnya. Yg saya pegang
cuma kesadaran thok. Saya tahu bahwa bentuk yg bermacam-macam itu
semuanya valid bagi orangnya sendiri. And that's the true meaning of
pluralism. Pluralisme yg diharamkan oleh MUI itu. 



Pluralisme mengakui bahwa segalanya valid bagi manusianya sendiri.
Tetapi MUI bilang bahwa yg valid hanyalah kelakuan para burung yg
berusaha untuk menjadi onta. 





+



Leo

@ Komunitas Spiritual Indonesia 
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. 



Burung onta.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke