Penulis: Ustadz Ari Wahyudi
(http://muslim.or.id/manhaj/teroris-bukan-mujahid-dan-mujtahid.html)


Kaum muslimin, semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya yang
lurus. Di hari-hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita,
bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah
oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan
jihad. Dengan seenaknya mereka melakukan tindak pengeboman,
penghancuran, serta berupaya untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum
muslimin dengan kedok jihad dan ijtihad. Padahal, Allah dan Rasul-Nya
berlepas diri dari apa yang mereka lakukan. Alangkah cocok sebuah bait
syair yang menggambarkan keadaan orang-orang seperti mereka,

Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila
Namun, malang. Ternyata Laila tidak mengiyakan omongan mereka

Begitulah kurang lebih keadaan mereka. Dengan tanpa malu-malu, mereka
mengaku sebagai barisan mujahidin dan menobatkan diri sebagai
mujtahid. Bagaimana mungkin orang yang gemar menebar kekacauan dan
kerusakan di atas muka bumi dengan membunuh nyawa tanpa hak layak
untuk disebut sebagai mujahid, apalagi dinobatkan sebagai mujtahid?
Allahul musta’an! Di manakah akal mereka?

Orang-orang yang salah sangka
Saudaraku sekalian, marilah kita renungkan barang sejenak fenomena
yang menyayat hati ini. Para pemuda yang jahil/tidak mengerti syari’at
Islam dengan mudahnya ditipu oleh mujahid dan mujtahid gadungan.
Sehingga akhirnya nyawa mereka sendiri pun mereka relakan -dengan aksi
bom bunuh diri- untuk memperjuangkan apa yang mereka kira sebagai
sebuah jihad dan pengorbanan untuk agama. Aduhai, alangkah malang
nasib mereka. Tidakkah mereka ingat akan sebuah firman Allah yang
menceritakan keadaan orang-orang seperti mereka, yang bersusah payah
melakukan suatu usaha dan menyangka telah mempersembahkan sesuatu yang
terbaik bagi agamanya. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang
paling merugi amalnya. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ
سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang
yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di
dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan
sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104)

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib,
ad-Dhahhak dan para ulama lainnya bahwa golongan yang termasuk dalam
cakupan ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun ayat ini
juga mencakup celaan bagi Yahudi dan Nasrani. Sehingga Ibnu Katsir
menyimpulkan, “Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang
beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah.
Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan
diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan
amalnya tertolak.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [5/151-152])



Haram bicara agama tanpa ilmu!
Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan Islam ini akan ternoda
tatkala orang yang bukan ahlinya berbicara tentang sesuatu yang
menyangkut ajaran agama. Tidakkah kita ingat firman Allah ta’ala,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua
pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isra’: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا
الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا
الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا
الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ
فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan.
Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah
didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru
dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat
bicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau
menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat
luas.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, disahihkan
al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Ruwaibidhah bukanlah mujtahid. Mujtahid berbicara dengan ilmu,
sedangkan Ruwaibidhah berbicara dan berfatwa dengan
kejahilan/kebodohan mereka. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ
وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Apabila seorang hakim hendak memutuskan sesuatu lalu berijtihad
kemudian benar maka dia memperoleh dua pahala. Adapun apabila dia akan
memutuskan sesuatu lalu berijtihad kemudian tersalah maka dia akan
memperoleh satu pahala.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-I’tisham bil
Kitab wa Sunnah dari Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu)

al-Hafizh Ibnu Hajar menukil keterangan dari Ibnul Mundzir, beliau
mengatakan, “Seorang hakim yang tersalah itu mendapat pahala
sesungguhnya hanyalah apabila dia adalah seorang alim/yang berilmu
tentang ijtihad kemudian dia pun berijtihad. Adapun apabila dia
bukanlah seorang yang alim/berilmu maka dia tidak mendapatkan pahala.”
Bahkan apabila dia nekad memutuskan dan mengeluarkan fatwa tanpa ilmu
maka dia berdosa, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar sebelum
menukil ucapan Ibnul Mundzir di atas. Beliau juga menukil keterangan
dari al-Khatthabi bahwa seorang yang berijtihad akan diberi pahala
jika dirinya memang telah memiliki alat-alat/ilmu untuk berijtihad.
Orang seperti itulah yang apabila tersalah masih bisa diberi toleransi
(lihat Fath al-Bari [13/364])

Syaikh Muhammad bin Husain al-Jizani mengatakan, “Ijtihad tidak boleh
dilakukan kecuali oleh seorang yang faqih/ahli hukum agama yang
mengetahui dalil-dalil dan tata cara menarik kesimpulan hukum darinya,
sebab melakukan penelitian terhadap dalil-dalil tidak mungkin
dilakukan -dengan benar- kecuali oleh orang yang memang ahli di dalam
bidangnya.” (Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal.
470).

Terlebih lagi, untuk berijtihad ada syarat-syaratnya yang tidak
sembarang orang bisa memenuhinya. Di antaranya adalah: [1] Memahami
seluk beluk sumber hukum yaitu al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’, Qiyas, dsb.
[2] Memahami bahasa Arab [3] Mengetahui maksud dari ungkapan umum dan
khusus dalam bahasa Arab, muthlaq dan muqayyad. Bisa membedakan antara
nash, zhahir, dan mu’awwal. Mujmal dan mubayyan. Manthuq dan mafhum,
dsb [4] Dia harus mengerahkan segenap kemampuannya dalam mengambil
kesimpulan hukum, tidak boleh setengah-setengah. Itu adalah sebagian
syarat yang terkait dengan orangnya. Masih ada lagi syarat lain yang
terkait dengan perkara yang menjadi objek ijtihad, di antaranya: bukan
dalam perkara yang sudah ada dalil tegasnya, dalil yang ada dalam
perkara tersebut memang masih membuka ruang -tidak dipaksakan- yang
memungkinkan adanya perbedaan penafsiran, dsb (lebih lengkap baca di
Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 479-484).



Berbuat dosa kok mengharap pahala?

Di manakah letak ilmu pada diri orang yang melakukan bom bunuh diri
dan menyuruh orang lain untuk bunuh diri? Padahal Allah ta’ala
berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah
Maha menyayangi kalian.” (QS. an-Nisaa’: 29)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu alat/senjata
maka dia akan disiksa dengannya kelak pada hari kiamat.” (HR. Bukhari
dan Muslim dari Tsabit bin ad-Dhahhak radhiyallahu’anhu, ini lafaz
Muslim)

Ketika mengomentari ulah sebagian orang yang nekad melakukan bom bunuh
diri dengan alasan untuk menghancurkan musuh, maka Syaikh Ibnu
Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hanya saja kami katakan,
orang-orang itu yang kami dengar melakukan tindakan tersebut, kami
berharap mereka tidak disiksa seperti itu sebab mereka adalah
orang-orang yang jahil/bodoh dan melakukan penafsiran yang keliru.
Akan tetapi, tetap saja mereka tidak memperoleh pahala, dan mereka
bukan orang-orang yang syahid dikarenakan mereka telah melakukan
sesuatu yang tidak diijinkan oleh Allah, akan tetapi mereka telah
melakukan apa yang dilarang oleh-Nya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin,
dinukil dari al-Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu Utsaimin, hal. 109)

Di manakah letak ilmu pada diri orang yang membunuh nyawa orang kafir
tanpa hak? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ
رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian
-dengan kaum muslimin atau pemerintahnya- maka dia tidak akan mencium
bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan
empat puluh tahun.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Jizyah dan Kitab
ad-Diyat dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, lafaz ini ada di
dalam Kitab al-Jizyah)

al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits
ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang
lainnya untuk menegaskan bahwa perbuatan itu -membunuh kafir mu’ahad-
termasuk kategori dosa besar. Meskipun seorang muslim tidak mesti
dihukum bunuh sebagai akibat dari kejahatan itu (Faidh al-Qadir
[6/251] as-Syamilah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حتَّى يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلاَّ
الله، وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللهِ، ويُقيموا الصَّلاةَ ، ويُؤْتُوا
الزَّكاةَ ، فإذا فَعَلوا ذلكَ ، عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءهُم وأَموالَهُم،
إلاَّ بِحَقِّ الإسلامِ ، وحِسَابُهُم على اللهِ تَعالَى

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan Muhammad
adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, apabila
mereka telah melakukannya maka terjagalah darah dan harta mereka
dariku kecuali dengan alasan haq menurut Islam, dan hisab mereka
terserah pada Allah ta’ala” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar
radhiyallahu’anhuma)

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah menerangkan
bahwa di dalam kata-kata “apabila mereka telah melakukannya maka
terjagalah darah dan harta mereka dariku” terdapat dalil yang
menunjukkan bahwa orang kafir itu hartanya boleh diambil dan darahnya
boleh ditumpahkan. Dan orang yang dimaksud di dalam hadits ini adalah
kafir harbi, yaitu orang kafir yang sedang terlibat peperangan dengan
pasukan kaum muslimin. Oleh sebab itu misalnya jika anda mengambil
harta seorang kafir harbi maka tidak ada hukuman bagi anda.



Adapun orang kafir mu’ahad, kafir musta’man dan kafir dzimmi
-ketiganya bukan kafir harbi,pen- maka mereka semua tidak boleh
diperangi (lihat Syarah Arba’in, hal. 63)



Berjihadlah!

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang mujahid sejati adalah orang
yang menundukkan hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah
-termasuk di dalamnya memerangi orang kafir dengan cara yang benar-,
bukan dengan melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

“Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya
dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad dari Fadhalah bin Ubaid
radhiyallahu’anhu dinilai sahih oleh al-Albani dalam as-Shahihah [549]
as-Syamilah)

Tanyakanlah kepada dirimu: Bukankah Nabi melarang membunuh orang kafir
tanpa hak? Bukankah kita wajib taat kepada beliau? Bukankah ketaatan
kepada Nabi itu pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah? Lalu
dengan alasan apa kita menghalalkan darah yang diharamkan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ditumpahkan? Apakah kita merasa
berada di atas agama yang lebih baik dan lebih hebat daripada agama
yang diajarkan oleh Rasulullah?



Jawablah wahai orang-orang yang masih memiliki akal dan hati nurani!

Sejak kapan membunuh orang kafir tanpa hak disebut jihad? Sejak kapan
meledakkan gedung-gedung umum yang menimbulkan jatuhnya korban tanpa
pandang bulu disebut sebagai jihad? Tanyakanlah kepada mereka yang sok
menjadi mujtahid dan membolehkan ‘jihad’ ala teroris semacam itu:
ijtihad ulama manakah yang membolehkan seorang muslim membunuh dirinya
dan meledakkan bangunan umum yang berakibat melayangnya nyawa-nyawa
tak bersalah? Atau barangkali yang mereka sebut sebagai ulama mujtahid
itu memang bukan ulama alias Ruwaibidhah? Waspadalah -wahai para
pemuda- dari tipu daya, silat lidah, dan penampilan mereka!

Ingatlah, sesungguhnya jihad yang diridhai Allah adalah jihad di
jalan-Nya yang lurus, bukan di jalan yang menyimpang. Allah ta’ala
berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ
اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/berjihad di jalan Kami
niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik/ihsan.” (QS.
al-’Ankabut: 69)

al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,
beliau berkata tentang tafsiran ayat ini, “Yaitu orang-orang yang
berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Kami niscaya
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan untuk meraih pahala dari
Kami.” (Ma’alim at-Tanzil [6/256] as-Syamilah)

Maka marilah kita berjihad di atas ketaatan, bukan di atas kedurhakaan!



Hati-hatilah dari al-Qa’adiyah masa kini!

al-Qa’adiyah merupakan salah saktu sekte Khawarij yang memiliki
ideologi Khawarij, hanya saja mereka tidak memilih sikap memberontak.
Meskipun demikian, mereka menganggap pemberontakan sebagai perkara
yang baik, tidak boleh diingkari, bahkan berpahala! Dengan kata lain
-dalam bahasa sekarang- mereka menilai bahwa pemberontakan yang
dilakukan oleh rekan-rekan mereka -dengan menimbulkan kekacauan dan
mengancam penguasa; bom bunuh diri dan semisalnya- bukan perkara yang
salah, alias hasil ijtihad yang harus dihargai dan layak untuk diberi
pahala [?!]. Sampai-sampai salah seorang tokoh mereka di negeri ini
berkata, “Menurut saya mereka adalah mujahid. Dan apa yang mereka
lakukan itu merupakan hasil ijtihad mereka. Walaupun saya tidak
sependapat dengan -hasil ijtihad- mereka.” Inilah ucapan gembongnya
Khawarij di negeri ini!

Ketika menjelaskan biografi ringkas Imran bin Hitthan -salah seorang
perawi hadits yang terseret paham Khawarij- Ibnu Hajar berkata,
“al-Qa’adiyah adalah salah satu sekte dari kelompok Khawarij. Mereka
berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, namun mereka tidak ikut
melakukan pemberontakan. Akan tetapi mereka menghias-hiasi/menilai
baik perbuatan itu.” (Hadyu as-Sari, hal. 577). Sebelumnya, Ibnu Hajar
juga menukil ucapan Abul Abbas al-Mubarrid, “Imran bin Hitthan adalah
gembong kelompok al-Qa’adiyah dari aliran Shafariyah. Dia adalah
khathib/orator dan penya’ir di kalangan mereka.” (Hadyu as-Sari, hal.
577). Imran bin Hitthan inilah yang meratapi kematian Abdurrahman bin
Muljam -sang pembunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu- dengan
untaian bait-bait sya’irnya yang heroik. Dikisahkan bahwa pada akhir
hidupnya dia kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan paham
Khawarij, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Zakariya al-Mushili
di dalam Tarikh al-Mushil (lihat Hadyu as-Sari, hal. 577,578, lihat
juga Tahdzib at-Tahdzib [8/128] as-Syamilah)

Ibnu Hajar mengatakan,

والقَعَدية الذين يُزَيِّنون الخروجَ على الأئمة ولا يباشِرون ذلك

“al-Qa’adiyah adalah orang-orang yang menghias-hiasi perbuatan
pemberontakan kepada para pemimpin -umat Islam- dan mereka tidak ikut
terjun langsung dalam tindakan tersebut.” (Hadyu as-Sari, hal. 614 cet
Dar al-Hadits)

as-Syahrastani mengatakan,

كل من خرج على الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يُسمى خارجياً سواء
كان الخروج في أيام الصحابة على الأئمة الراشدين أو كان بعدهم على
التابعين بإحسان والأئمة في كل زمان

“Setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah yang
disepakati oleh rakyat sebagai pemimpin mereka maka dia disebut
sebagai Khariji (kata tunggal dari Khawarij). Sama saja apakah dia
melakukan pemberontakan itu di masa sahabat masih hidup kepada para
pemimpin yang lurus atau setelah masa mereka yaitu kepada para tabi’in
yang senantiasa mengikuti pendahulu mereka dengan baik serta para
pemimpin umat di sepanjang masa.” (al-Milal wa an-Nihal [1/28]
as-Syamilah)

Salah satu pemikiran Khawarij yang berkembang saat ini -terutama di
kalangan sebagian pemuda Islam yang bersemangat tapi tanpa ilmu-
adalah pendapat yang membolehkan -tidak harus- untuk memberontak
kepada pemimpin muslim yang zalim (lihat mukadimah kitab al-Khawarij
wal Fikru al-Mutajjaddid karya Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir
al-Ubaikan, hal. 6). Sebagaimana pula keterangan semacam ini pernah
kami dengar dari perkataan Syaikh Abdul Malik Ramadhani dalam sebuah
rekaman video ceramah beliau ketika memberikan pelajaran kitab
asy-Syari’ah karya Imam al-Ajurri.

Inilah sekelumit nasihat dan pelajaran bagi kita semua. Semoga masih
ada telinga yang mau mendengar dan hati yang masih mau menerima
kebenaran. Sebagian sumber tulisan ini kami ketahui dari buku Madarik
an-Nazhar fi as-Siyasah karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani, serta buku
‘Mereka adalah Teroris’ susunan Ust. Luqman Ba’abduh, semoga Allah
menerima amal kita dan mereka, serta mengampuni dosa kita dan mereka.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan
karuniakanlah kepada kami ketaatan untuk mengikutinya. Dan
tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah, dan karuniakanlah
kepada kami keteguhan sikap untuk menjauhinya. Wa shallallahu ‘ala
Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil
‘alamin.

Yogyakarta, 17 Sya’ban 1430 H


------------------------------------

Ingin bergabung di zamanku? Kirim email kosong ke: 
zamanku-subscr...@yahoogroups.com

Klik: http://zamanku.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:zamanku-dig...@yahoogroups.com 
    mailto:zamanku-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    zamanku-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke