Saya menulis di milis lain ternyata juga diunggah ke sini :). Terima kasih 
banyak utk perhatiannya, Pak Radit.

Saya ambil studi S2 Filsafat UGM. Soal kepercayaan pribadi, saya dibesarkan 
dari lingkungan bertradisi Kristen (bila ini ada sangkutannya dg perihal 
penulisan thesis yg saya ajukan). Soal istilah, saya sudah mantap (yakni kata 
kunci mistisisme, Kristen, dan Kepercayaan Jawa. Saya tidak memakai ataupun 
menghubung2kannya dg istilah lain, seperti Islam, misalnya. Soal realitasnya 
berbeda, lapanganlah yang akan membuktikan). Saya menulis tidak utk membela 
agama, bahkan mungkin cenderung menyoroti sisi pro Kejawen (dalam artian 
menyoroti Kejawen dari praktisi ataupun org2 yang mengerti betul, bukan orang 
luar yang menghakimi. Lagipula, dalam penulisan thesis ilmiah, tentunya saya 
tetap HARUS netral).

Soal mistisisme yang ditutup2i, berarti mistisisme itu ada, bukan? Soal dicap 
sesat atau apapun, itu soal lain. Ada Kabbalah, ada Sufi, lha di Kristen 
namanya apa?

Soal mayoritas minoritas, yang mayoritas sudah banyak dibahas. Dan sayapun tak 
bisa mencari pembandingan setaranya sebab Mistisisme yang ingin saya teliti 
adalah antara Kepercayaan Jawa dan Agama Kristen dari segi mistisismenya. 
Lagipula, bila kita hanya menyoroti hal2 besar tanpa berusaha mencari nuansa2 
renik (betapapun rumitnya itu) dari kemungkinan liyan, pluralitas dan 
partikularitas unik tidak akan pernah bisa manifes, bukan?

Siapa bilang istilah mistisisme membuat kebakaran jenggot? Justru kalau 
dibilang klenik mungkin iya. Di sini, saya membedakan ranah mistik dari klenik. 
Dan mistisisme adalah bagian dari cara seseorang menghayati spiritualitasnya, 
seperti juga yang lain menghayati melalui realitas empiris. Mungkin yang Bapak 
maksudkan adalah mitisisme (bukan mistisisme). Sayapun juga tak menyinggung 
soal Kejawen yang merupakan nama merek dari Kepercayaan Jawa.

Jadi, Pak Radit yang bajik, jangan takut kalau saya hendak memojokkan para 
Penghayat Kepercayaan Jawa ini sebab jika saya memojokkan mereka, itu berarti 
saya yang sudah beragama ini sama saja dengan menghina saudara2, teman2, 
tetangga, kerabat2 saya dan itu berarti hanya mengundang kualat saja. :)

Terima kasih atas dimuat, ditanggapi, dan mendapat perhatiannya postingan saya 
oleh Bapak Radit ini.

Rahayu
aryo

--- In zamanku@yahoogroups.com, "mediacare" <mediac...@...> wrote:
>
> Boleh tahu Mas Aryo ambil studi apa dan kuliah dimana? Apakah Anda Islam atau 
> Kristen? 
> Kenapa tertarik menyusun thesis tentang mistisisme Jawa dan Kristen?
> 
> Setahu saya, sekadar menambahkan, semua agama Samawi (agama langit)/Semitis - 
> baik itu Yahudi, Kristen maupun Islam - menutup pintu erat-erat unsur 
> mistisisme. Ingat di Eropa pada zaman kegelapan (dark age) orang-orang yang 
> bisa meramal, penujum, dukun, tukang tenung, dan lainnya ditangkapi, dibui, 
> lalu disiksa bahkan dibakar?
> 
> Memang ada aliran sempalan dari agama-agama tersebut yang percaya hal-hal 
> mistis, tapi itu minoritas dan  entah di Indonesia ada atau tidak. 
> 
> Ada satu celah yang menurut saya lemah pada thesis Anda, yaitu:
> 
> 1. Kenapa Jawa dan Kristen? Kenapa bukan Jawa dan Islam? Mengingat pemeluk 
> Islam adalah mayoritas di negeri ini? Kalau penelitiannya di Eropa, baru 
> cocok ambil Kristen. 
> 
> 2. Kenapa menggunakan istilah mistisisme? Bagi penganut spiritualisme Jawa 
> atau Kejawen, pasti  akan tersinggung dengan istilah tersebut. Saya yang 
> ber-KTP Islam juga agak kurang suka membacanya. Sepertinya - baru dugaan saya 
> saja - di thesis Anda bakal memojokkan kehadiran aliran spiritual yang 
> non-Samawi, atau ingin memojokkan Kristen. Menurut mereka yang menganut 
> Kejawen, apa yang mereka yakini adalah bukan hal yang mistis.  Penganut 
> Kejawen juga tak semuanya percaya pada hal-hal mistis. 
> 
> 
> 
> Sekian dulu komentar dari saya.
> 
> Salam,
> 
> 
> Radityo

Kirim email ke