Bencana di daerah syariat atau di manapun tempat-tempat dimana banyak 
orang-orang yang merasa suci berada adalah untuk menunjukan bahwa pada saat 
terjadi bencana yang diperlukan adalah kemanusiaan yang universal bukan syariat 
atau pandangan keagamaan.  Pada saat bencana terjadi yang dibutuhkan adalah 
orang-orang yang mau saling membantu tanpa memandang apapun agamanya.

Memandang bencana dari kaca mata agama adalah sebuah kejahatan kemanusiaan.  
Sodom dan Gemorah adalah suatu contoh kejahatan agama terhadap sebuah bencana.

Tanpa tahu bagaimana kondisi keseluruhan masyarakat di Sodom dan Gemorah, agama 
telah memandang bencana alam yang memusnahkan Sodom dan Gemorah sebagai kutuk 
Tuhan.

Contoh lain adalah Aceh.  Ketika bencana datang, bantuan dari seluruh dunia 
berdatangan tanpa melihat masalah agama.  Sedangkan kalau dilihat dari sisi 
agama, betapa hati sangat sedih saat mendengar tayangan video amatir sat awal 
yang tanpa sensor, di mana si pembuat video mengeluhkan bencana yang menimpah 
masyarakat Aceh yang taat beragam, dan mengapa bukan di tempat lain yang penuh 
maksiat menurut versi mereka.

Tuhan itu tahu, bahwa bila bencana datang menimpa suatu masyarakat yang 
menganggap dirinya suci, pasti bantuan akan datang dari masyarakat lain yang 
juga sama-sama menganggap dirinya suci dan juga dari masyarakat yang dianggap 
setan oleh masyarakat suci tersebut.  Saat tulah kemanusiaan akan dipersatukan.

Akan tetapi bila bencana menimpa masyarakat setan, pasti tak ada bantuan datang 
dari para orang-orang suci tersebut.  Saat itulah kemanusiaan dikalahkan oleh 
pandangan keagamaan.

Sayangnya, setelah bencana lewat, maka kemanusiaanpun akan berlalu.  Secepat 
itulah Aceh telah melupakan kemanusiaan yang datang dari negeri para Syeitan,  
dan segera bergegas menerapkan hukum syariat yang makin kuat.  Akahkah terulang 
di Garut/Tasik dan Minang?

--- On Fri, 10/9/09, mediacare <mediac...@cbn.net.id> wrote:

From: mediacare <mediac...@cbn.net.id>
Subject: [zamanku] Robohnya Syariat Kami
To: afsjo...@yahoogroups.com, zamanku@yahoogroups.com, sukuku...@yahoogroups.com
Date: Friday, October 9, 2009, 4:27 PM






 




    
                  


Robohnya Syariat 
Kami

"Kamu tinggal di tanah Indonesia yang maha kaya raya. Tapi, 
engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau 
negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena 
beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang."

Petikan dari cerpen "Robohnya Surau Kami" oleh AA 
Navis
 
____________ _________ _________ ___
 
Protes
 
Kenapa bencana alam kini banyak terjadi di wilayah yang menegakkan Syariat 
Islam? 
 
Banyak orang protes atas  terjadinya G-30-S (Gempa  30 September) 
di wilayah Sumatra Barat yang  berkekuatan cukup dahsyat: 7,6 SR. Kenapa 
di  wilayah yang sudah menegakkan Syariat Islam kok  masih dikirim 
bencana alam? Protes serupa juga  pernah terjadi saat sebagian wilayah Aceh 
digulung  tsunami. Dalam sebuah video amatir sempat terekam 
seorang perempuan Aceh berujar, kira-kira isinya  seperti ini: "Ya 
Allah, Kenapa bukan non-muslim  yang dikasih bencana? Kenapa kami yang 
diberi azab,  bukan mereka?" 

Sebelum terjadi tragedi G-30-S Sumbar, beberapa  minggu sebelumnya 
sebagian wilayah Jawa Barat, khususnya Tasikmalaya yang menerapkan Syariat 
Islam, juga diguncang oleh gempa bumi. Ada apa ini, ya Tuhan? 

Terkait dengan tragedi G-30-S Sumbar, ramailah  kiriman pesan 
lewat SMS, milis, facebook, twitter  dan jejaring sosial online lainnya: 
Gempa bumi di Sumbar yang terjadi pada 30 September  2009 pukul 17.16 
dikaitkan Surat 17 Ayat 16  Alquran. Orang ramai menyebutnya "ilmu gathuk 
mathuk":
 
"Tuhan akan membinasakan suatu negeri karena  keingkaran 
orang-orang yang hidup mewah di negeri  itu."

Kenapa terjadi di Sumbar, bukan di Jakarta yang  serba mewah? 
Warga Sumbar banyak yang miskin, taat  beribadah!" Protes urang awak. 

 
Robohnya Surau Kami
 
Terkait dengan Ranah Minang, penulis A.A Navis pernah menuliskan sebuah 
cerpen berjudul "Robohnya Surau Kami". Cerpen ini bercerita tentang  kisah 
tragis matinya seorang Kakek penjaga surau  (masjid yang berukuran kecil) 
di kota kelahiran  tokoh utama cerpen itu. Dia - si Kakek, meninggal  
dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat  cerita dari Ajo Sidi - 
si pembual, tentang Haji Soleh  yang masuk neraka walaupun pekerjaan 
sehari-harinya  beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si  
Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah  orang yang rajin beribadah, 
semua ibadah dari A  sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi,  
saat "hari keputusan", hari ditentukannya manusia  masuk surga atau neraka, 
Haji Soleh malah  dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan,  
mungkin dia alpa pikirnya.
 
Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah  alasan dia masuk 
neraka. "Kamu tinggal di tanah  Indonesia yang maha kaya raya,tapi, engkau 
biarkan  dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya  semua. Aku beri 
kau negeri yang kaya raya, tapi kau  malas. Kau lebih suka beribadat saja, 
karena  beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak  membanting tulang." 
Merasa tersindir dan tertekan  oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh 
diri.  Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya  berpesan 
kepada istrinya untuk membelikan kain  kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu 
pergi kerja. 

 
 
Facebook:
Bizzcomm Indonesia


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke