-- AW  LM  YRWA  ILY 
ALThYR FWQHM ShFT  W YQBDhN,  (S. AL MLK, 67:19),  dibaca: 
-- 
awa lam yaraw ilath thayri fawqahum sha-ffa-tin wa yaqbidhna, artinya: 
-- 
Tidakkah mereka melihat kepada burung  di atas mereka berbaris-baris dan 
menguncupkan.
 
Ada dua hal yang menggelitik kita untuk 
mengkaji ayat (67:19) tersebut.
Pertama, Allah menyuruh kita memperhatikan 
burung yang bersaf-saf, artinya yang sedang terbang melaju, karena burung yang 
sedang bertengger di atas pohon tidak bisa bersaf-saf.
Kedua, ada keanehan, 
bahkan tampaknya bertentangan, yaitu bagaimana bisa disinergikan burung yang 
sedang terbang melaju sambil bertengger di atas pohon. Kata yaqbidhna berbentuk 
mutsanna. Seperti diketahui dalam bahasa Arab ada tiga tingkat kata-kata: 
mufrad 
(singular), mutsanna (dual) dan jama’ (plural, tiga ke atas). Jadi yaqbidhna, 
burung itu menguncupkan dua sayap, dan itu artinya sedang 
bertengger.
 
Butir pertama telah dibahas dalam Seri 
892 ybl; kini gilirannya membahas butir kedua. 
 
Butir kedua menyangkut kinerja terbang. 
Hingga kini walaupun teknologi pesawat terbang sudah demikian canggihnya, namun 
masih kalah dibandingkan dengan burung. Dilihat dari sudut aerodinamika,  
kemenangan burung itu terletak dalam hal kinerja terbang. Burung dapat 
mengubah posisi sayapnya sementara terbang, yakni dapat membuka dan menguncup 
secara sempurna. Inilah yang diperintahkan Allah SWT dalam S.AlMuluk,19 supaya 
kita memperhatikan burung yang sementara terbang menguncupkan kedua sayapnya. 
Sayap burung membuka apabila memerlukan gaya angkat dan gaya dorong, menguncup 
jika sedang terbang dalam kecepatan tinggi dan menukik. Sekali lagi kita lihat 
aplikasi aerodinamika pada burung yang terbang tidak lepas dari nilai Tawhid, 
yaitu Allah SWT memerintahkan kita untuk memperhatikan sayap burung yang 
menguncup sementara terbang. Tak ubahnya dengan burung, pesawat terbangpun 
membutuhkan sayap untuk naik (take off) dan terbang dengan kecepatan dibawah 
kecepatan bunyi (subsonic). Akan tetapi jika kecepatan di atas kecepatan suara 
telah dicapai (supersonic) , sayap yang lebar hilang peranannya, bahkan 
menyusahkan. Pesawat itu dapat terbang secara efisien, sehingga dapat lebih 
laju, jika sayapnya dilipat ke dalam. Pesawat terbang yang terbang seperti 
burung itu baru dibuat dalam tahun 1951, disebut model X5, yang menjadi cikal 
bakal pesawat terbang yang terbang ibarat burung, yaitu sementara terbang 
sayapnya dapat dilipat ke dalam. Model X5 tsb diperkembang menjadi Tactical 
Fighter Experimental (TFX) yang dikenal dengan F-111; Angkatan Udara Amerika 
Serikat memberi nama F-111A dan Angkatan Laut memberikan nama F-111B. (The 
F-111 
pioneered several technologies for production military aircraft including 
variable-sweep wings => http://en.wikipedia .org/wiki/ General_Dynamics _F-111. 
On January 6, 1965, the wings were swept from the 
minimum 16 degrees to the full at 72.5-degrees position. During early flight 
testing, the F-111A achieved a speed of Mach 1.3. A second F-111A took off on 
its maiden flight on February 25, 1965 => http://home. att.net/~ jbaugher1/ 
f111_1.html). 
 
Jadi kalau burung dapat membuka dan 
menguncupkan kedua sayapnya secara sempurna, pesawat terbang seperti pada 
contoh 
F-111A baru dapat "the wings were swept from the minimum 16 degrees to the full 
at 72.5-degrees" , belum dapat melipat secara sempurna, baru dari 16 derajat 
hingga 72.5 derajat. Itulah sebabnya dikatakan di atas, bahwa hingga kini 
walaupun teknologi pesawat terbang sudah demikian canggihnya, namun masih kalah 
dibandingkan dengan burung.
 
Isyarat Al Quran tentang kinerja terbang 
tersebut dapat pula dikembangkan pada teknik berenang dan menyelam melaju pada 
ikan lumba-lumba yang sangat efisien dalam hal berenang dan menyelam melaju, 
karena Allah SWT mendisain bentuk ikan lumba-lumba yang stream-line, sehingga 
tidak menimbulkan pusaran air. Lagi pula kulit lumba-lumba terdiri atas dua 
lapis. Yang sebelah luar tipis dan  elastis, yang sebelah dalam tebal 
terdiri atas pipa-pipa halus yang berisi substansi seperti karet busa. 
Kombinasi 
kedua lapisan kulit ini berfungsi sebagai shock-breaker sehingga gerakannya 
yang 
melaju menjadi mulus dalam air yang bergelora. Bionika yang mempelajari kulit 
lumba-lumba ini  menghasilkan teknologi kulit buatan untuk membungkus 
torpedo bawah air. WaLlahu a’lamu bishawab.
Shalom,Tawangalun.

 
        
         
        
        




        




        
        


        
        
        




      

Kirim email ke