Islam Santriloka Lebih Banyak Pengikutnya Dari Ahmadiah !!!
                                            
Penganut Islam Santriloka tampak makin banyak, makin dimusuhi malah makin 
digemari masyarakat, terutama yang memusuhinya itu adalah Islam2 yang menguasai 
jabatan2 negara.

Menyalah gunakan kekuasaan negara untuk menumpas aliran2 Islam yang tidak 
disukainya.

Kita perlu menyimak kejadian pelarangan Islam Ahmadiah, disini jelas negara 
yang tidak seharusnya mencampuri kepercayaan rakyatnya telah melakukan 
pelanggaran dengan melarang kegiatan beragama dengan memanfaatkan kepolisian 
dan mengerahkan massa untuk membakar mesjid dan menjarah harta benda umatnya.

Hal ini terus saja berlangsung, dari Islam Ahmadiah akan berlanjut kepada 
Islam2 lainnya dan sekarang bentrok lagi dengan Islam Santriloka.

Tidak lagi diragukan, bahwa Indonesia sudah memasuki babak peperangan antara 
Islam melawan Islam lainnya, dan negara ini akan ter-koyak2 ditarik oleh Islam 
satu untuk memusnahkan Islam yang lain.

Silahkan para pembaca merenungkan laporan koran Republika dibawah ini:


Perguruan Santriloka Kecam Alquran
MOJOKERTO--Aliran keagamaan aneh kembali muncul di Jawa Timur. Kali ini muncul 
aliran Perguruan Ilmu Kalam Santriloka di Kelurahan Kranggan Gang 6 No 6, 
Kecamatan Prajurit Kulon, Mojokerto.

Aliran ini tidak mengakui Alquran berbahasa Arab. Mereka juga mengecam ibadah 
haji yang dianggap sebagai pembodohan bangsa Arab terhadap bangsa Indonesia.

Ahmad Nafan, pemimpin perguruan tersebut, mengatakan sebagian isi Alquran sesat 
dan membahayakan persatuan. Dia mencontohkan Surat Alkafirun yang dinilainya 
menyerukan perpecahan, bukan persatuan. "Alquran bukan dari bahasa Arab, 
melainkan bahasa Kawi, bahasa Sansekerta, dan bahasa Jawa Kuno. Alquran 
merupakan buatan orang Arab untuk menjajah bangsa Indonesia," tuturnya.

"Alquran sekarang dimodifikasi oleh orang-orang untuk merusak Majapahit, Jawa, 
dan Pancasila. Siapa yang bertanggung jawab, kalau Alquran ini salah. Apa nabi 
mau tanggung jawab," kata Ahmad Nafan, Kamis (29/10) di Mojokerto.

Dia mengungkapkan banyak kesalahan orang-orang yang mengaku memeluk Islam 
karena tidak mengerti Islam. Misalnya waktu shalat Dhuhur. Ia menjelaskan, 
Dhuhur sebenarnya dari kata bahasa Jawa, yakni 'luhur'.

"Di dalam Alquran tidak ada perintah shalat Dhuhur, tetapi kita diminta untuk 
melakukan empat budi luhur saat siang hari kepada sesam manusia. "Apalagi 
perintah sholat di masjid, ya nggak ada," kilahnya.

Dia juga memastikan Islam masuk di Indonesia dibawa orang Jawa di zaman 
Mojopahit dahulu, seperti Sunan Kalijogo dan kawan-kawanya. "Jangan ngomong 
Islam tetapi tidak mengerti Islam itu apa," tandasnya.

Ia menambahkan, berhaji harus dilakukan di Arab itu dinilainya akal-akalannya 
orang Arab untuk mencari pajak sebanyak-banyaknya. "Kalau manusia ingin menjadi 
Allah gampang, harus mempunyai 20 sifat-sifat itu. Apa begitu," tanya Naf'an

Pria yang mengaku mempunyai penganut ribuan orang ini, pemahaman Islamnya itu 
didapatkan dari berbagai buku bacaan yang dirinya tidak mengetahui siapa yang 
mengarang dan mencetaknya. "Kalau anda ingin negara Indonesia maju ikuti syahad 
yang benar dan shalat yang benar dan harus mengikuti Islam yang benar. Belajar 
saya seperti bacaan yang Anda baca, siapa yang membuatnya saya tidak 
mengetahuinya," katanya saat ditanya dari mana dirinya mendapatkan ilmu tersebut

Menanggapi adanya aliran sesat tersebut, Ketua Majelis Ulama Jawa Timur, 
Abdushomad Buchori,  mengatakan banyak buku-buku yang bisa membuat pembacanya 
salah memahaminya. Ini karena kemampuannya yang kurang sehingga bisa menjadikan 
pembacanya berubah keyakinan.

"Buku kan banyak macam-macamnya. Ada yang dogmatik, misalnya kenapa tuhan itu 
kok satu? Mengapa kita kok disuruh shalat? Ini sangat membahayakan pembacanya 
jika tidak memahaminya secara utuh. Jika paham ini dibiarkan liar maka akan 
menyebabkan stabilitas masyarakat di Jatim, khususnya di Mojokerto, terganggu," 
paparnya.

Atas kasus tersebut MUI akan melakukan tindakan sesuai standar untuk 
menghentikan ajaran yang keliru dan sudah banyak terjadi di Indonesia. 
Misalnya, menggunakan UU no 1 tahun 60 tentang Pranata Agama. Pimpinan atau 
bupati diminta untuk melakukan tindakan persuasif, atau dengan rujuk ilal hak. 
"Ada standar prosedur untuk melakukanya," ungkapnya

Abdushomad mengutip pernyataan Naf'an "kalau anda ingin negara Indoneisa maju 
ikuti syahad yang benar dan shalat yang benar". "Pernyataan ini menarik tetapi 
perlu diletakkan pada porsinya yang benar. Seperti pernyataanya itu benar 
tetapi di tempat yang salah," papar Abdushomad. uki/rif

Kirim email ke