Kalo menurut quran, maka ruh atau jiwa itu tidak mungkin bisa diuraikan secara 
akal karena hal itu merupakan wilayah kekuasaan Allah.

Lain Quran, lain lagi kenyataan study ilmu jiwa.  Sigmun Freud adalah bapak 
kedokteran jiwa yang mendapatkan hadiah Nobel karena berhasil menguraikan 
struktur jiwa, membuktikannya, dan akibatnya dia mampu mengobati semua penyakit 
dan gangguan jiwa yang sebelumnya tidak mungkin bisa disembuhkan.

Menguraikan jiwa dalam bahasa Inggrisnya disebut "Psikoanalisis".  Demikianlah, 
tak perlu berdebat panjang lebar, cukup memahami bahwa cakrawala pengembangan 
pemikiran anda akan dihancurkan oleh kepercayaan atau keimanan agama yang anda 
percaya.  Pilihan tetap hak anda, tergantung apa yang anda pilih maka disanalah 
nasib anda ditentukan.

Bekerja cari nafkah memerlukan ketajaman pemikiran dalam bersaing memperebutkan 
kerjaan yang gajinya terbaik, sama sekali tidak dibutuhkan keimanan, bahkan 
keimanan justru merusak pikiran atau akal sehat anda.  Sebaliknya, membela 
keimanan dengan mengorbankan akal sehat anda, akhirnya anda terjebak sendiri 
tidak punya nafkah dan terjerumus menjadi teror jihad.

Sekali lagi, pilihlah dengan cermat karena kesorga tak perlu otak dan tak perlu 
kerja cari nafkah, tapi janganlah mengorbankan nasib dan masa depan orang 
lainnya dengan teror2 bom itu.











--- In zamanku@yahoogroups.com, "Ibrahim Y. Syihab" <dakwah_u...@...> wrote:
>
> 
> 
> 
> Kawan-kawan,
> 
>  
> 
> Saya heran, masih ada saja
> manusia yang berkata bahwa iman bisa dianalisa dengan memakai akal 
> kemanusiaan,
> dalam arti bisa ditelaah secara ilmiah.
> 
>  
> 
> Gimana ya? Bukan bermaksud untuk
> merendahkan siapapun juga, tetapi terus terang sampai saat ini saya belum
> pernah menyaksikan dengan mata kepala saya uraian-uraian ilmiah dalam kitab
> suci, bukan saja dalam Alkitab â€" buku suci yang saya imani, tetapi termasuk
> juga Alquran yang pernah saya imani. Peristiwa-peristiwa yang katanya ilmiah
> yang ada ditulis di Alkitab itu tidak lebih dari apa yang bisa dilihat oleh
> mata, didengar oleh telinga, dan dirasa oleh lidah â€" lebih dari itu 
> sepertinya tidak.
> Contohnya; matahari terbit dari Timur dan terbenam di sebelah Barat, matahari
> yang terbit di waktu siang dan bulan yang terbit waktu malam, air yang 
> mengalir
> dari atas ke bawah, dan sejenisnya; tidak ada unsur science di sini, hanya
> pengetahuan umum biasa saja.
> 
>  
> 
> Saya sering tersenyum sendiri
> ketika ada suatu agama yang mengatakan bahwa di dalam kitab suci agama mereka,
> peristiwa big-bang itu ditulis secara ilmiah, proses ovulasi sampai menjadi
> bayi dituliskan secara ilmiah â€" saya hanya angguk-angguk kepala saja. Mereka
> tidak tahu bahwa saya juga dulu pernah dipropagandain ajaran bodoh seperti
> begituan waktu masih islam dulu, tetapi untuk menjaga perasaan mereka saya 
> diam
> sajalah daripada saya digorok lehernya. Saya kasihan dengan orang ini, karena 
> mereka
> membodohi diri mereka sendiri. Kalau saja ulasan “ilmiah” versi agama 
> mereka
> itu mereka tuliskan dalam lembar jawaban ujian waktu mereka kuliah dulu,
> pastilah para professor mereka akan tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit
> perut. Syukurlah, para mahasiswa itu kalau lagi ujian masih pakai akal logika,
> tetapi waktu lagi di rumah ibadah mereka mereka pake imanâ€" jadi mereka masih
> bisa lulus dari kuliahan mereka.
> 
>  
> 
> Ini bukan berarti saya tidak
> mempercayai kekuasaan Tuhan, bukan saya tidak mempercayai kekuasaan Yesus atas
> dunia ini dan isinya, tidak sama sekali. Saya percaya bahwa Tuhan punya kuasa
> atas dunia dan isinya. Tetapi mengatakan bahwa televisi BBC-News juga
> menayangkan serial kartu Scooby-Do setiap sore adalah pembodohan diri 
> namanya. Alkitab
> adalah buku rohani, bukan buku science. Berusaha mengkait-kaitkan Alkitab
> dengan science sama dengan merendahkan Tuhan, karena kekuasaan Tuhan lebih 
> dari
> akal logika manusia. Iya kalau science yang dipake sebagai landasan itu 
> terbukti
> benar sampai akhir zaman, gimana kalau ternyata salah â€" itu kan
> sama saja malu-maluin Tuhan kan?
> Bisa-bisa nanti oleh Tuhan anda disuruh membuktikan klaim sepihak anda di
> hadapan Tuhan.
> 
>  
> 
> Bisakah kita membahas secara
> logika bagaimana kira-kira roh kita bisa sampai ke surga? Bisakah kita 
> membahas
> secara logika bagaimana manusia kelak bisa hidup selama-lamanya (tanpa mati
> lagi) waktu dia sudah berada di surga? Tentu akal logika kita tidak bisa
> menjawab ini, artinya wilayah keimanan adalah diluar jangkauan akal manusia
> dengan segala keterbatasannya.
> 
> Contoh lagi, dulu waktu saya
> masih islam, saya pernah diceritakan tentang peristiwa Isra Miraj, waduh… 
> kalau
> mau nurutin akal sehat… cerita isra miraj itu tidak lebih seperti dongengan
> anak kecil, dongengan untuk nidurkan anakku yang sekarang lagi duduk di bangku
> te-ka nol besar â€" saya bisa tertawa-ketiwi kalau itu diceritakan lagi ke 
> saya
> sekarang. Masak terbang ke langit ke satu, dua, tiga, dan seterusnya, dengan 
> menunggan
> seekor burung dalam kecepatan cahaya tanpa tubuhnya hangus dan sampai ke 
> sebuah
> masjid (yang ternyata) pada waktu itu sama sekali belum dibangun. Lucunya 
> lagi,
> misinya itu loh… urusan berapa kali jedut-jedutin jidat ke lantai doang pake
> terbang segala; secara logika, kurang kerjaan itu kan namanya? Coba pakai 
> akal logika, apakah
> cerita isra miraj itu masuk akal? Jujur saja, itu sama sekali tidak masuk 
> akal,
> tetapi kenapa orang Islam masih merayakannya? Apakah anda pikir Habibie
> mempercayai peristiwa isra miraj dalam kapasitasnya sebagai seorang Professor
> Doktor? Tidak, tetapi dia mungkin mempercayai peristiwa itu dalam kapasitasnya
> sebagai seorang mukmin yang saleh â€" kalau tidak, dia akan dicap kafir oleh
> kaumnya. Mereka tahu itu tidak masuk akal, tetapi iman mereka mempercayainya,
> biarin sajalah. Toh kepercayaan mereka tentang isra miraj itu tidak
> membahayakan saya, bodo amat kalau mereka mau percaya itu cerita.
> 
>  
> 
> Begini kawan-kawan, menurut
> sepengetahuan saya, berdasarkan apa yang diajarkan kepada saya, Alkitab adalah
> sekumpulan tulisan para nabi yang ditulis berdasarkan pada apa yang mereka
> alami, mereka lihat, mereka dengar, dan apa-apa yang diajarkan pada mereka 
> oleh
> para pendahulu mereka dengan bimbingan Rohul Kudus tentunya. Dalam 
> keterbatasan
> mereka (para nabi) pada masanya, mengharapkan mereka mampu membuat analisa
> ilmiah dalam Alkitab sepertinya terlalu naïve. Mengharapkan para nabi ini 
> untuk
> mengulas tentang peristiwa big-bang, hukum grafitasi, ilmu kedokteran, sususan
> tata surya, dan sejenisnya â€" rasanya gimana gitu, anda nilai sendiri 
> sajalah?!
> 
>  
> 
> Kawan-kawan, mari kita pisahkan
> akal logika kemanusiaan kita yang terbatas ini dengan wilayah keimanan. Stop
> klaim sepihak yang berusaha mengkait-kaitkan iman dengan science â€" itu
> pembodohan diri namanya. Kalau anda masih memaksakan diri anda untuk
> mengkait-kaitkan science dengan agama, kalau anda seorang sarjana agama â€"
> mungkin saya bisa maklum’ tetapi kalau anda seorang tukang insinyur tetapi
> masih percaya itu â€" saya hanya mau sampaikan saya kasihan sama anda.
> 
>  
> 
> Semoga bisa mencerahkan. Merdeka,
> 
> 
> 
> 
> ---- Ibrahim Yohannes Syihab ----
>


Kirim email ke