Tulisan ini juga disajikan di website http://umarsaid.free.fr/



Catatan A. Umar Said





Skandal Bank Century dan

gerakan  rakyat yang meluas





Sudah berhari-hari televisi dan pers Indonesia dibanjiri oleh berita atau
tulisan-tulisan yang mencerminkan bahwa negeri kita memang sedang dirundung
berbagai masalah yang parah, dan rumit, dan penuh misteri atau rekayasa yang
berlatar belakang korupsi besar-besaran dalam kasus KPK dan Bank Century.
Selain itu  juga banyak diberitakan  cerita menyedihkan tentang hukuman bagi
bu Minah yang mencuri 3 kakao, atau pencurian satu semangka (di Kediri) yang
diancam hukuman 5 tahun,  dan pemenjaraan  keluarga miskin (di Jawa Tengah)
karena mencuri dua kilo kapas.



Banyak orang juga telah dibikin marah atau trenyuh oleh  pemandangan yang
memilukan hati di layar televisi tentang banyaknya orang-orang yang
berdesak-desakan sampai ada yang terinjak-injak dan jatuh pingsan ketika
antri untuk mendapat pembagian daging kurban di Mabes Polri atau di mesjid
besar Istiqlal. Semuanya ini  menambah lagi banyaknya indikasi atau bukti
bahwa negeri kita memang betul-betul sedang sakit parah akibat kebejatan
moral kalangan elitnya



Tetapi, di samping itu ada juga banyak indikasi lainnya, yang menunjukkan
bahwa negeri kita sedang bergolak dengan penuh gejolak besar oleh banyaknya
aksi-aksi di banyak kota dan daerah, oleh perlawanan dan perjuangan berbagai
kalangan di masyarakat luas, untuk mendesak dibongkarnya skandal besar Bank
Century dan tuntutan dihukumnya Anggodo dan pejabat-pekjabat tinggi yang
korup.



Menyangkut lapisan atas negeri kita


Ini semua adalah perkembangan situasi yang sangat menggembirakan. Sebab,
gemuruhnya gerakan yang diadakan secara luas sekarang ini merupakan pertanda
bahwa banyak kalangan rakyat tidak rela  negeri ini  dirusak terus  oleh
bedebah-bedebah yang terdiri dari pejabat-pejabat tinggi yang tersangkut
dengan kasus kriminalisasi KPK atau perampokan Bank Century secara
besar-besaran sebanyak Rp 6,7 triliun, dan kejahatan-kejahatan lainnya oleh
para mafia hukum, mafia peradilan, mafia kekuasaan, mafia ekonomi, mafia
pengacara dan mafia markus.



Hiruk-pikuk kasus kriminalisasi KPK (Bibit-Chandra) mulai kelihatan «
mengendor » dengan dihentikannya pengajuan perkara ini ke pengadilan, yang
diumumkan hari Selasa tanggal 1 Desember 2009 ini. Sudah tentu, berita
tentang dibebaskannya Bibit-Chandra dari tuduhan menerima suap atau memeras
Anggoro telah diterima dengan gembira dan kelegaan oleh banyak kalangan.



 Tetapi sebenarnya masih banyak persoalan yang sama sekali belum selesai.
Karena, bagaimanapun juga, persoalan KPK (Bibit-Chandra) ada kaitannya
dengan skandal raksasa berupa perampokan besar-besaran Bank Century, yang
diduga menyangkut pertanggungan jawab banyak pejabat-pejabat tertinggi di
negeri kita (antara lain Wakil Presiden Budiono, Menteri Keuangan Sri
Mulyani, dan bahkan ada desas-desus bahwa mungkin termasuk juga presiden SBY
sendiri).



Seperti yang kita saksikan bersama, persoalan kasus perampokan Bank Century
sebesar  Rp 6,7 triliun sekarang ini sudah menjadi heboh besar di banyak
kalangan masyarakat luas, dan juga di lapisan atas bidang eksekutif,
legislatif, yudikatif negeri kita.  Bisalah kiranya dikatakan bahwa heboh
besar ini sudah menggoncang negeri kita, lebih hebat dari pada banyak
goncangan-goncangan sebelumnya, walaupun tidak sehebat peristiwa G30S yang
memungkinkan jenderal Suharto akhirnya mengkhianati dan meggulingkan Bung
Karno, atau peristiwa 1998 yang menyebabkan turunnnya Suharto dari
kekuasaannya.



Munculnya  hak angket DPR


Hebatnya heboh sekitar Bank Century ini, yang sudah menyulut kegeraman atau
mengobarkan kemarahan kalangan muda di seluruh negeri, dan  menimbulkan
kemuakan di kalangan intelektual, serta menimbulkan berbagai reaksi di
kalangan  partai-partai politik, menjadi lebih heboh lagi di DPR dengan
munculnya soal hak angket DPR untuk menyelidiki kasus Bank Century, yang
mulai dibicarakan tanggal 1 Desember ini.



Tanpa menaruh harapan (atau ilusi) yang terlalu besar terhadap keberhasilan
DPR dalam menjalankan hak angket mengenai Bank Century -- berdasarkan
kegagalan-kegagalan yang sudah dihadapi berkali-kali oleh DPR di masa-masa
yang lalu – kita perlu bersama-sama seluruh kekuatan demokratis di negeri
ini untuk mendorong, dan mengawasi atau mengawal supaya upaya-upaya (dari
fihak manapun juga !)  untuk  menggagalkan hak angket ini, atau
memacetkannya, dengan berbagai rekayasa atau manuvre, tidak akan berhasil.



Kita sudah bisa meramalkan bahwa masalah hak angket DPR soal Bank Century
akan makan waktu berbulan-bulan (paling sedikit 3 bulan) untuk diselesaikan,
dan itu pun kalau berjalan mulus dan tanpa halangan atau sabotase. Sebab,
walaupun ada berita-berita bahwa usul hak angket ini sekarang (sebelum
tanggal 1 Desember) sudah disetujui oleh semua partai di DPR, tetapi masih
bisa saja terjadi surprise-surprise yang baru. Maklum, persoalan Bank
Century ini menyangkut persoalan penggelapan atau perampokan dana yang besar
sekali (Rp 6,7 triliun), dan melibatkan banyak orang-orang penting di
berbagai bidang.



Karena adanya kemungkinan-kemungkinan bahwa pembongkaran kasus Bank Century
ini akan dihalang-halangi atau dipersulit oleh oknum-oknum korup yang
bersekongkol dengan  mafia hukum, mafia peradilan, mafia kekuasaan, mafia
ekonomi, maka aksi-aksi massa atau gerakan rakyat untuk memberantas korupsi
yang sudah marak dimana-mana akhir-akhir ini perlu didukung bersama-sama
atau didorong terus supaya lebih berkembang lebih luas dan lebih menggelora
lagi.



Kesedaran politik rakyat makin meninggi


Adalah gejala-gejala yang sangat menggembirakan dengan adanya aksi-aksi yang
diadakan oleh KOMPAK (Komisi Masyarakat Sipil Antikorupsi) di Bunderan Hotel
Indonesia, dan aksi berkemah dan mogok makan oleh kalangan mahasiswa/pemuda
di pelataran gedung KPK selama hampir sebulan, serta demo-demo yang digelar
di Bandung, Jogya, Solo, Makassar, Padang, Medan, Palangkaraya, dan berbagai
kota lainnya.



Televisi sering menyiarkan tayangan aksi-aksi kalangan muda ibukota di depan
Istana, gedung DPR, gedung PPATK dll. Yang juga merupakan perkembangan yang
penting dan menarik adalah  terjunnya HMI dan PMII dalam berbagai aksi ini,
dan pernyataan Din Syamsudin, Syafii Maarif  dan Amien Rais (tokoh-tokoh
Muhammadiah) yang mendukung aksi-aksi mengenai Bank Century . Semua aksi
atau berbagai kegiatan masyarakat luas ini merupakan gerakan
extra-parlementer yang sangat penting yang akan ikut mengawasi jalannya hak
angket DPR.



Patut diamati bersama bahwa berbagai siaran televisi (terutama Metro TV dan
TV One) tiap hari menyajikan berita, reportase, perdebatan, interview
tentang persoalan kriminalisasi KPK (Biibit-Chandra) dan Bank Century. Itu
semua merupakan pendidikan politik yang sangat penting dan besar tiap
harinya bagi puluhan juta orang di seluruh Indonesia. Dari banyaknya
partisipasi para pemirsa televisi dalam berbagai siaran mengenai
masalah-masalah politik tercerminlah ukuran betapa tingginya kesedaran
politik banyak pemirsa dewasa ini. Ini merupakan perkembangan penting yang
sangat menggembirakan, yang menunjukkan bahwa banyak orang sudah tidak
seperti di jaman Orde Baru lagi, dan berani mengemukakan fikiran mereka
secara bebas dan berani.



Dengan mengamati berkembangnya gerakan berbagai kalangan masyarakat sekitar
heboh besar tentang kasus kriminalisasi KPK dan kasus perampokan Bank
Century, maka nyatalah bahwa situasi sekarang ini sudah makin tidak
menguntungkan lagi bagi sisa-sisa kekuatan politik yang pro-Orde Barunya
Suharto. Dengan kalimat lain, bolehlah kiranya dikatakan bahwa perkembangan
persoalan kriminalisasi KPK dan perampokan Bank Century menunjukkan bahwa
« angin tidak menguntungkan lagi» kubu golongan pendukung pola berfikir
Suharto lagi.



Jalan Orde Baru adalah jalan buntu


Sebab, makin banyak orang yang melihat bahwa kekisruhan di berbagai bidang
yang bersumber dari kerusakan moral yang sama-sama kita saksikan  sekarang
ini, adalah akibat ulah dari orang-orang atau oknum-oknum yang pada dasarnya
(dan pada umumnya)  menganut politik atau pola berfikir yang dianut oleh
para pendukung Orde Baru, yang anti rakyat, yang anti Bung Karno atau anti
kiri. Di antara mereka ini masih banyak yang terus menganggap Suharto adalah
pemimpin yang patut dihormati, dan yang juga masih terus anti Bung Karno dan
anti ajaran-ajaran revolusionernya.



Kiranya, patutlah kita amati bahwa dengan adanya korupsi besar-besaran dan
kerusakan moral  kalangan elite yang meluas, yang hanya sebagian kecilnya
saja telah dan sedang dipertontonkan oleh heboh Polri-Kejaksaan-KPK dan oleh
kasus Bank Century, maka berbagai kalangan mulai mempertanyakan kemampuan
dan keabsahan pemerintahan SBY-Budiono untuk bisa membawa negeri kita ini ke
arah perbaikan fundamental yang betul-betul mementingkan kepentingan rakyat
banyak.



Sebab, politik yang dianut oleh pemerintahan SBY-Budiono pada dasarnya
adalah pro-neoliberal dan anti-rakyat yang  terlalu menguntungkan kaum
koruptor atau elite yang tidak bermoral. Kalau politik yang demikian ini
terus ditempuh pemerintahan SBY-Budiono maka merupakan jalan sesat yang akan
mencelakakan negara dan  bangsa. Dan perkembangan situasi di Indonesia di
kemudian hari akan membuktikan bahwa jalan yang ditempuh dengan arah yang
demikian itu adalah jalan buntu bagi cita-cita masyarakat adil dan makmur,
seperti buntunya jalan yang ditempuh Orde Baru selama puluhan tahun.



Kekosongan pimpinan nasional yang seperti Bung Karno


Dalam situasi yang demikian ini, makin kelihatan jelas  bagi banyak orang
bahwa bangsa kita memerlukan adanya pimpinan yang bisa membawa negeri kita
ke arah yang benar-benar pro rakyat banyak, yang anti-neoliberalisme, yang
bisa mendorong rakyat seluruh negeri untuk bersama-sama berjuang menciptakan
masyarakat adil dan makmur, seperti yang dicita-citakan oleh Bung Karno
beserta para pendukungnya.



Kekosongan adanya pimpinan nasional yang betul-betul pro-rakyat ini tidak
hanya terasa sekarang saja, melainkan sejak digulingkannya  -- secara
khianat !!! -- presiden Sukarno oleh jenderal Suharto. Jelas sekalilah bagi
banyak kalangan dan golongan di Indonesia bahwa tidak ada satu pun tokoh
Indonesia yang bisa menjadi pemimpin yang kewibawaan politik dan moralnya
seagung Bung Karno.

Bung Karno merupakan sumber inspirasi besar bagi semua orang yang mau
sungguh-sungguh berjuang untuk kepentingan rakyat banyak. Bung Karno adalah
satu-satunya pemimpin bangsa yang telah menjadi pedoman moral (moral
guidance) bagi banyak kalangan dan golongan. Bung Karno adalah tokoh agung
satu-satunya yang telah menciptakan pedoman politik dan pedoman perjuangan
yang bisa mempersatukan seluruh bangsa (ingat, antara lain : Pancasila,
Bhinneka Tunggal Ika, Mesjid Istiqlal, Monas, Berdikari, Di bawah Bendera
Revolusi, Revolusi Belum Selesai, dll dll dll).



Mengingat itu semuanya, kiranya kita bisa melihat bahwa persoalan besar
mengenai KPK dan Bank Century telah membuka mata dan fikiran banyak orang
bahwa rakyat atau bangsa kita sudah harus membuang  jauh-jauh sekali ilusi
terhadap  sistem politik yang selama ini sudah ditrapkan sejak jaman Orde
Baru dan yang juga terbukti sekarang gagal dalam banyak bidang.



Artinya, kita bisa juga melihat bahwa kebejatan moral atau kerusakan akhlak
yang dipertontonkan sejak lama sampai sekarang (dengan kasus KPK dan Bank
Century) ini merupakan cambuk bagi seluruh kekuatan demokratis dalam
masyarakat – tidak peduli dari golongan atau aliran politik yang mana pun
juga ! -- untuk menyokong berkembangnya gerakan ekstra-parlementer dalam
membela kepentingan rakyat, terutama rakyat miskin. Gerakan
extra-parlementer yang luas dan kuat adalah senjata sekaligus pelindung bagi
perjuangan rakyat, ketika dari DPR, dari DPD, dari pemerintah, dan dari
partai-partai politik, sudah tidak bisa diharapkan lagi adanya
tindakan-tindakan yang sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan rakyat
banyak.



Gerakan extra-parlementer untuk perubahan besar


Gerakan extra-parlementer yang dewasa ini kelihatan mulai muncul dimana-mana
adalah investasi penting untuk munculnya di kemudian hari kekuatan politik
yang bisa mendorong terjadinya perubahan-perubahan fundamental bagi
kepentingan rakyat banyak di negeri kita yang berpenduduk lebih dari 230
juta ini. Perubahan besar dan fundamental tidak bisa lagi diharapkan, atau
tidak boleh terus-menerus digantungkan, dari kekuatan-kekuatan politik yang
selama 32 tahun (dan juga sesudahnya) sudah terbukti membikin rusaknya
bangsa dan negara kita.



Dan, ikut sertanya secara aktif dan secara besar-besaran generasi muda kita
dalam berbagai macam gerakan extra parlementer di seluruh negeri dewasa ini
menimbulkan harapan bahwa hari kemudian  negara dan bangsa kita akan ada di
tangan orang-orang yang tidak bermental korup, atau berakhlak bejat atau
bermoral busuk, seperti yang kita saksikan sekarang di kalangan DPR dan di
kalangan aparat negara atau badan-badan pemerintahan kita, termasuk di
kalangan pemuka-pemuka masyarakat.



Berbagai macam aksi dan kegiatan yang dilancarkan oleh kalangan muda di
seluruh negeri dewasa ini merupakan darah segar bagi kehidupan bangsa kita,
yang sudah terlalu lama diracuni atau dibikin busuk oleh Orde Baru beserta
para pendukung setianya. Gerakan yang meluas oleh kalangan muda dewasa ini
merupakan pertanda penting yang menunjukkan adanya perpecahan antara
generasi muda dengan partai-partai politik, dan juga mencerminkan
ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintahan SBY. Kelihatannya, generasi
muda kita mulai melihat lebih jelas bahwa jalan yang harus mereka tempuh
untuk menyongsong hari kemudian bangsa bukanlah jalan buntu (jalan mati)
yang sudah ditempuh oleh Suharto beserta pendukung-pendukungnya,



Dan, rupanya, kasus skandal raksasa Bank Century (dan heboh soal KPK) telah
mempertinggi kesadaran politik tidak saja kalangan generasi muda kita,
melainkan juga sebagian besar rakyat kita.

Sungguh, ini semua adalah perkembangan situasi yang menggembirakan kita
semua !



Paris, 2 Desember 2009




Kirim email ke