Israel Bersedia tapi Abbas Menolak Berunding
Tugas United Nation hanyalah perantara agar pihak2 yang bersengketa bisa
menyelesaikan pertikaiannya dimeja perundingan. Tetapi kalo satu pihak ada
yang ngotot tetap menolak berunding, tentunya UN inipun tidak boleh memaksakan
berunding, biarlah konfliknya diselesaikan dengan kekuatan senjata dimedan
perang.
Demikianlah, pada 1967, Israel diserang negara2 Arab secara tidak adil,
diserang secara mendadak tanpa pernyataan perang dulu sebelumnya.
Tapi, secara mengagumkan dan mengejutkan, Israel berhasil menaklukkan negara2
agresor yang menyerangnya, agresor dipaksa untuk menanda tangani perjanjian
bahwa senjata mereka harus dilucuti. Wilayah2 strategis milik agresor
diduduki, dianexasi, dan dijadikan pangkalan angkatan perang Israel.
Kalah perang jauh lebih menyakitkan dibandingkan tidak berperang. United
Nation tidak bisa membantu yang kalah, karena yang kalah ini justru pihak yang
salah, pihak yang menyerang lebih dulu, pihak yang secara curang melanggar UU
perang karena tidak mengeluarkan pernyataan perang sewaktu menyerang.
Seluruh wilayah yang diduduki ini kemudian dinyatakan sebagai wilayah Israel
yang resmi, dan Jerusalem yang baru direbut ini dijadikan ibukota negara Israel
yang resmi.
Oleh Amerika kemudian Israel ditekan, dipaksa untuk menyerahkan wilayah Gaza
dan westbank untuk diserahkan kepada Yasser Arafat yang ingin mendirikan negara
Palestina. Atas dasar perjanjian bahwa negara yang akan berdiri ini dijamin
tidak melatih terorist yang digunakan untuk mengacau Israel, akhirnya Israel
bersedia menandatanganinya dalam perjanjian Camp David.
Selama proses pembentukan negara Palestina inilah akhirnya terbongkar bahwa
Yasser Arafat dkk membentu barisan bunuh diri untuk menyerang Israel.
Singkatnya, pelanggaran yang dilakukan Yasser Arafat dkk ini berbuah penyerbuan
Israel dan menarik kembali wilayah yang sedianya akan diberikan menjadi negara
Palestina.
Sekali melanggar perjanjian, seumur hidup tidak lagi dipercaya dunia.
Begitulah nasib Palestina hari ini hanya menjadi impian masa lalu saja.
Abbas menolak berunding dengan Israel dengan alasan Israel melakukan
pembangunan perumahan. Bagi Israel sendiri sama sekali tidak berkepentingan
untuk melakukan perundingan, jadi sikap Abbas ini disambut gembira oleh Israel.
Amerika dan UN berusaha menekan Israel agar bersedia berunding, dan Israel
ternyata bersedia berunding tanpa syarat. Jadi kalo Abbas yang menolak
berunding tentunya tidak masuk akal untuk menyalahkan Israel untuk gagalnya
perundingan.
Israel sudah berhasil mengontrol para terorist yang setiap detik bisa
dimusnahkannya habis, lalu apa untungnya bagi Israel untuk berunding?
Lucu memang, biasanya yang menang yang memaksakan pihak yang kalah untuk
berunding. Tapi disini justru yang kalah ber-kaok2 minta berunding dengan
berbagai syarat yang ditolak oleh yang menang.
Mau berunding silahkan saja asal tanpa syarat, dan kalo minta berunding dengan
berbagai syarat, lebih baik terusin aja perangnya.
Ny. Muslim binti Muskitawati.