Ketika banyak Muslim begitu tergila-gila dengan segala sesuatu atribut Arab, 
Gus Dur tetap mempertahankan identitas nasionalnya, sarung dan peci. Ketika 
banyak Muslim begitu menggandrungi paham transnasional dengan memuja Al Qaida 
dengan segala sesuatu yang berbau Arab sebagai tanda Islam sejati, Gus Dur 
tetap setia dengan falsafah Jawa Islam. Ketika kebencian terhadap Yahudi 
menjadi tanda umum Muslim sejati, Gus Dur ketika jadi presiden RI malah ingin 
menjalin hubungan langsung dengan Israel. Ketika hal itu ditentang banyak 
Muslim di Indonesia, dia malah berkunjung ke Israel.
Ketika fatwa Ulama melarang Muslim untuk mengucapkan selamat Natal, Gus Dur 
malah menghadiri perayaan Natal. Ketika banyak Muslim menganggap haram memasuki 
gereja, Gus Dur malah menghadiri acara Kebaktian Kristen di Gelora Senayan 
tahun 1998 dan bersedia didoakan oleh penginjil Amerika Serikat, ketika begitu 
banyak Muslim Indonesia membenci Amerika sama dengan membenci Yahudi. Pada masa 
Gus Dur jadi presiden, maka diresmikan Imlek jadi hari libur Nasional. Demikian 
juga dengan Waisak dan Nyepi. Orang Kristen kembali diizinkan untuk merayakan 
hari Natal ke 2
pada tanggal 26. Dia sungguh-sungguh berbuat sesuatu untuk merangkul semua 
agama di Indonesia, ketika banyak Muslim meludahi orang-orang non Islam sebagai 
KAFIR! 
Bahkan Gus Dur melindungi gerakan Islam liberal. Akhirnya karena sikapnya ini, 
Gus Dur jadi dibenci oleh kalangan Islam fundamentalis trans nasionalis di 
Indonesia.Namun Gus Dur tidak takut dan tidak perduli sama sekali, karena dia 
yakin bahwa apa yang dibuatnya itu adalah benar, dan sesuai dengan pendiriannya 
yang Nasionalis. 
Gus Dur adalah Muslim Nasionalis sejati yang  mempunyai pendirian yang kuat. 
Sekali dia memutuskan apa yang dianggapnya baik dan benar, dia betul-betul 
melakukannya, dan tak perduli sama sekali dengan protes orang lain. Gus Dur 
selain teguh berpendirian, juga keras kepala alias kepala batu dalam suatu 
pendirian. Dia berani melawan arus, jika suatu hal sudah diyakininya sebagai 
benar.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati 
meninggalkan nama, Gus Dur wafat meninggalkan kesan sebagai seorang yang 
berpendirian teguh, berani melawan arus, dan keras kepala. Hal keras kepalanya 
ini banyak menjengkelkan orang-orang, namun baik kawan maupun lawannya tidak 
bisa tidak akan mengakui kekuatan karisma dan karakternya.




      

Kirim email ke