Keimanan dan Keyakinan Bukanlah Science !!!
                                                   
Masih saja dimasyarakat Indonesia berkembang pemahaman yang salah, masih ada 
yang menganggap ulama itu sama dengan scientist.

Padahal seorang scientist adalah seorang yang mampu menerangkan secara jujur 
berbagai penemuan2 yang bertentangan dengan kepercayaan ataupun keimanannya.

Sebaliknya, ulama adalah seorang yang berkeimanan Islam yang sangat kuatnya 
yang mampu memutar balik penemuan2 ilmu pengetahuan dengan berbohong se-mata2 
untuk mempropagandakan kepercayaannya agar bisa tetap dipercaya umat 
dimasyarakatnya bahwa Islam merupakan sumber ilmu pengetahuan.

> "wawan" <selarasmi...@...> wrote:
> malam ini saya terbangun lalu saya membaca kompas...
> disitu ada uraian seorang PhD astronomy lulusan
> ITB dan Texas University... mengurai ttg isu
> bangsa maya ttg kiamat bahwa itu tidak relevan, 
> dan dia juga mengurai bagus sekali ttg filsafat,
> terutama ttg sains, bahwa sains dibangun oleh
> hal-hal obyektive sehingga bersifat universal...
> tapi di akhir kesimpulan, dia bilang bahwa Tuhan
> maha besar dengan menciptakan hukum fisika
> dengan segala keteraturannya... ini membuat saya
> tercengang, karena dia menarik kesimpulan tidak
> dengan cara saintis lagi, tapi dengan menggunakan
> perspektive religi... hal seperti ini mustahil
> dilakukan oleh ilmuwan Russia yang atheis...karena
> religi sesungguhnya adalah belief system dan
> diluar nalar, atau religi dibangun atas dasar
> keyakinan yang bukan analysis atau objectivitas.
> 

Anda benar, seorang scientist diharamkan untuk mencampur aduk antara nalar atau 
logik dengan keimanan.  Kalopun terjadi, bisa dipastikan dia scientist palsu, 
karena banyak orang2 beragama berusaha menyusup menjadi scientist untuk 
memperkuat dogma agamanya.  Namun sampai detik ini mereka gagal karena landasan 
Ilmu Pengetahuan begitu kokoh definisinya sehingga tidak bisa disesatkan 
arahnya kepada keimanan, atau keyakinan religious yang sama sekali justru 
merusak kemampuan nalar seseorang.

Tetapi dalam kasus berita yang anda baca di Kompas, karena terjadinya di 
Indonesia, maka harus hati2 juga menilainya, karena banyak scientist di 
Indonesia akhirnya dipecat karena melanggar kaidah2 agama dalam memaparkan 
penemuan2 ilmu pengetahuan.

Di Indonesia ada aturan anggauta legislatif harus bisa memimpin shalat, bisa 
menjadi imam, pegawai negeri harus bisa baca Quran, dll.  Bahkan ada kepala 
polisi di Cirebon dipecat karena bukan beragama Islam.

Naaah....  karena kasus2 seperti itulah, membuat seorang scientist menjabarkan 
ilmu pengetahuan dengan cara2nya sendiri yang bisa membawa keselamatan 
kedudukannya, menyelamatkan bakul nasinya dan juga menyelamatkan tulisannya 
sendiri agar jangan disensor.

Bahkan sebagai seorang Dokter Kesehatan Masyarakat, saya dulu juga diminta 
memberi pendidikan kepada masyarakat mengenai cara2 hidup sehat, tetapi diberi 
penekanan, bahwa saya diharuskan mendorong masyarakat untuk memahami bahwa 
"Puasa Meningkatkan Kesehatan".

Karena saya dipaksa berbohong, maka saya menolaknya, dan saya serahkan tugas 
ini kepada dokter yang religious keimanan Islamnya sehingga rajin dan sangat 
fasih dalam membohongi pasien2nya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.






Kirim email ke