joko mulyono makin banyak ngomong, makin men-jelek2kan agamanya sendiri. 
makin nyata kalo agama islam itu cuma layak untuk jamannya saja. sudah tidak 
cocok untuk jaman sekarang.
mending kaya ade armando gitu, ngaku terus terang enggak usah bawa2 ayat 
agamanya yang sudah ketinggalan jaman.
ini hanyalah response dari tulisan anda sendiri.

mj



--- On Mon, 1/25/10, apiko joko mulyono <zidane_...@yahoo.co.id> wrote:

From: apiko joko mulyono <zidane_...@yahoo.co.id>
Subject: re; poligami...skedar sharing...
To: "apiko joko mulyono" <zidane_...@yahoo.co.id>, marthaja...@yahoo.com, 
cynth...@yahoo.com, errolsiah...@yahoo.com, zamanku@yahoogroups.com,
 im_arma...@yahoo.com
Date: Monday, January 25, 2010, 12:05 AM








Bung Manneke, 
 
"Ribuan kali sebut-sebut Qur'an tapi bungkam seribu bahasa ketika ditantang 
menunjukkan di mana letaknya dalam Qur'an Tuhan mengizinkan poligami DENGAN 
PEREMPUAN LEBIH MUDA yang bukan yatim piatu."
 
Bukalah Surat An-Nisa ayat 3. Jangan lupa ambil air wudhu dulu ya. Supaya ente 
bisa berpikir jernih dan dibimbing Allah. 
Surat itu memang awalnya Allah menganjurkan orang2 beriman mengawini perempuan2 
yatim (bukan yatim piatu!). Tapi kalau khawatir tidak bisa berlaku adil, 
maka thabaalakum minan nisa, kawinilah wanita lain yang kamu senangi matsnâ wa 
tsulâtsâ wa rubâ’a in adaltum dua, tiga, atau empat.
 
Menurut ustadz Rachmat S. Labib, Ketua Tajnah Tsaqofah HTI, penyebutan wanita 
lain itu adalah bisa yang di luar anak-anak yatim. Sebab kalau tafsirnya tidak 
begitu, maka ayat itu menjadi aneh, kawinilah perempuan2 yatim, tapi jika 
khawatir tidak bisa berlaku adil, kawinilah perempuan2 yatim, dan tidak 
konsisten dengan praktek Nabi.......... 
 
Kalaupun ditafsirkan harus dengan perempuan yatim, maka disebutkan perempuan 
yatim yang kamu sukai. Nah, kalau perempuan yang kamu sukai, berarti boleh dong 
nikahi perempuan yatim yang lebih muda dari umur si pria, yang masih perawan, 
pendeknya yang kamu senangi. 
 
Tafsir poligami harus dengan yatim juga menjadi tidak konsisten dengan praktek 
poligami Nabi Saw. dan para sahabatnya. Adalah fakta bahwa pernikahan Rasul 
tidak semuanya dengan perempuan2 yatim. Malah dengan Siti Aisyah, yang cantik, 
cerdas, dan perawan. Hafzah binti Umar pun bukanlah perempuan yatim, walau 
statusnya janda, dan beliau usianya lebih muda dibanding Rasul. Ada keterangan 
bahwa Hafzah lahir pada saat peristiwa pemindahan Hajar Aswad ke dalam Kakbah. 
Saat itu Rasulullah berusia 35 tahun, 5 tahun sebelum Muhammad menerima wahyu 
yang pertama. 
 
Rasulullah juga mendapat hadiah wanita dari penguasa Mesir Muqauqis, bernama 
Maria Al-Misyriahn dari suku Qibti. Beliau menerima hadiah itu dalam rangka 
menjalin hubungan baik dengan masyarakat Mesir. Saat diserahkan, status Maria 
adalah budak, yang lalu dinikahi Rasul setelah dimerdekakan.  Kalau status 
hadiah tentu semestinya yang sebaik mungkin. Walaupun Maria adalah seorang 
budak, beliau bukan budak nenek-nenek. Kalau Nabi dikasih hadiah budak 
perempuan untuk dinikahi, dan budak itu sudah tua, jelek, tentu bisa bermakna 
penghinaan.  Mosok ngasih hadiah kok yang jelek kualitasnya. Apa Manneke mau 
saya kasih hadiah perempuan nenek-nenek ompong peot, miskin, janda, dan 
berstatus anak yatim? Kalau kalau mau main akal-akalan, situ kali yang tidak 
berakal....:)
 
Tafsir itu juga konsisten dengan anjuran Nabi agar menikahi perempuan yang 
perawan dan subur. Kalau anjuran berarti bukan perintah. Artinya kalau mau 
nikahi janda dan berstatus yatim, tentu itu simbol kesalehan si pria. Kalau aku 
sih jika poligami maunya kombinasi saja: janda, umurnya tidak terpaut jauh, 
miskin juga tidak apa-apa, kesalehannya setaraf dengan saya, kalau bisa yang 
cantik, kalau pun tidak cantik ya jangan terlalu jelek. (yang jelek--misalnya 
giginya mrongos, kuning dan bau jigong--- janda tua serta yatim piatu biarlah 
itu jatahnya Manneke, mau dinikahi monogami silakan, tapi kalau mau cepat mati 
ya silakan nikahi empat perempuan yang jelek akhlaknya sekaligus jelek pula 
fisiknya......:)) 
 
Setelah turun ayat poligami, sahabat-sahabat Nabi yang sudah berpoligami, juga 
tidak lantas rame-rame mengganti istri2nya dengan menikahi perempuan2 yatim. 
Mereka tetap dengan istri2nya yang ada, yang dulu mungkin ada yang dinikahi 
dalam keadaan perawan, orang merdeka, dan bukan janda. 
 
"Saya kira Cynthia sangat tepat memakai ilustrasi hewan untuk membandingkannya 
dengan manusia sebab Apiko ini isi otaknya dan perilakunya lebih cocok 
disetarakan hewan daripada manusia. Memang jangan-jangan Apiko tidak lebih 
tinggi deratajatnya dari ayam atau kambing dalam urusan seks."
 
Ini serangkaian kalimat yang merendahkan saya. Kawan-kawan baik yang pro maupun 
anti poligami, yang sehat akalnya, tentu bisa menilai kualitas Manneke cukup 
dari kalimat-kalimat yang dia bikin ini. Tetapi insya Allah, ini tidak 
mempengaruhi saya untuk selalu bersikap santun (sesuai dengan anjuran Bung Ade 
Armando). Orang boleh menistakan saya sesukanya. Tetapi nista atau tidaknya 
saya bukan manusia yang memutuskan, tetapi Allah, dan cukuplah Allah yang 
menjadi pelindungku. 
 
Sekali lagi, saya tidak lantas lebih rendah derajatnya dibanding ayam atau 
kambing, sebagaiman dikatakan Menneke. Nyatanya aku masih diperlakukan sebagai 
manusia: diundang ceramah berbagai tema, diminta untuk menulis artikel tentang 
berbagai topik dan dibayar, disayang dan dirindui oleh anak2 dan istri2 saya, 
dibutuhkan orang misal pinjam duit, pinjam kendaraan saya, tetangga2, teman2 
kantor memanggil saya dengan Pak, Mas, atau Abang. Lebih banyak orang yang 
menyayangi saya dibanding yang membenci, walaupun mereka tahu saya beristri 
lebih dari satu. Bahkan ustadz Imaduddin Abdurrahim pendiri pengajian Masjid 
Salman ITB Bandung memuji saya yang menikahi dua perempuan yang secara 
sosial-ekonomi-pendidikan, lebih rendah dari saya, dalam pandangan masyarakat. 
 
Saya bahkan yakin jika karena kebencian, Manneke mengutuk saya jadi ayam atau 
kambing, insyaAllah tidak bakal mempan. Coba saja kalau berani. 
 
Sebelum menista orang lain, lebih baik manusia merenung," Saya ini siapa?"  
Saya cukup berpegang pada kaidah Firman Allah dalam al-Qur'an bahwa," Apa yang 
menurutmu baik belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang menurut pandanganmu 
jelek, belum tentu jelek dalam pandangan Allah."
 
Manneke, coba jawab sekarang, siapa sekarang yang logikanya jongkok, kalau situ 
menjawab debat saya hanya dengan 3-4 paragraf dan isinya cuma sumpah serapah? 
 
peace,
ApikoJM
 
 

--- Pada Sen, 25/1/10, manneke budiman <mann...@interchange.ubc.ca> menulis:


Dari: manneke budiman <mann...@interchange.ubc..ca>
Judul: Re: Trs: Re: Poligami...sekedar sharing Cyntha
Kepada: "apiko joko mulyono" <zidane_...@yahoo.co.id>, marthaja...@yahoo.com, 
cynth...@yahoo.com, errolsiah...@yahoo.com, zidane_...@yahoo.co.id, 
zamanku@yahoogroups.com, im_arma...@yahoo.com
Tanggal: Senin, 25 Januari, 2010, 12:13 AM



Saya kira Cynthia sangat tepat memakai ilustrasi hewan untuk membandingkannya 
dengan manusia sebab Apiko ini isi otaknya dan perilakunya lebih cocok 
disetarakan hewan daripada manusia. Memang jangan-jangan Apiko tidak lebih 
tinggi deratajatnya dari ayam atau kambing dalam urusan seks.

Cilakanya, hewan satu ini mengira dirinya sudah melampauu "logika bumi" dan 
menguasai "logika Tuhan". Inilah hewan yang mengira dirinya adalah malaikat, 
maka jalan pikirannya semrawut dan amburadul gini.

Ribuan kali sebut-sebut Qur'an tapi bungkam seribu bahasa ketika ditantang 
menunjukkan di mana letaknya dalam Qur'an Tuhan mengizinkan poligami DENGAN 
PEREMPUAN LEBIH MUDA yang bukan yatim piatu.

itu saja dulu. Kalo tidak, maka Apiko ini adalah nabi palsu!

manneke


-----Original Message-----

> Date: Sat Jan 23 12:18:15 PST 2010
> From: "apiko joko mulyono" <zidane_...@yahoo.co.id>
> Subject: Trs: Re: Poligami...sekedar sharing Cyntha
> To: marthaja...@yahoo.com, cynth...@yahoo.com, errolsiah...@yahoo.com, 
> zidane_...@yahoo.co.id, zamanku@yahoogroups.com, im_arma...@yahoo.com
>
> --- Pada Ming, 24/1/10, apiko joko mulyono zidane_...@yahoo.co.id menulis:
> Dari: apiko joko mulyono zidane_...@yahoo.co.idjudul: Re: Poligami...sekedar 
> sharing CynthaKepada: "cyntha pd" cynth...@yahoo.com, "apiko joko mulyono" 
> zidane_...@yahoo.co..idtanggal: Minggu, 24 Januari, 2010, 2:53 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>
 Cyntha...(moga gak salah tulis nama lagi) 
>  
> Kamu mau mencontoh
 perilaku hewan? Silakan. Kalau aku tidak. Aku manusia, yang bernalar dan 
mempunyai kebebasan memilih. 
>  
> Hewan bermonogami, poliandri, atau berpoligami, itu bukan karena mereka 
> memilih. Itu karena diciptakan Tuhan demikian. Perilaku biologis binatang 
> bersifat given, sejak diciptakan memang begitu. Oleh sebab itu, kalau kau 
> bilang ada hewan setia dan tidak setia, secara logika jelas salah, karena 
> setia dan tidak setia konsep ajaran moral milik manusia. Padahal hewan itu 
> tidak punya rujukan moral, so, mereka tidak kenal benar-salah atau 
> baik-buruk. 
>  
> Hewan bermonogami, seperti buaya dan baboon, adalah kehendak takdir-Nya. ( 
> “Gua dibilang hewan yang setia. Emangnya gue pikirin!!!” kata buaya dan 
> baboon terbahak-bahak). 
> Hewan berpoliandri, seperti hyena, adalah kehendak-Nya. 
> Hewan berpoligami, kebanyakan hewan mamalia berpoligami, seperti ayam, 
> kambing, adalah kehendak-Nya jua. 
> So,
 Manakah dari ketiga jenis perilaku binatang tersebut yang paling baik? Tidak 
ada. Semua baik karena mereka melakukan itu dalam rangka mentaati 
hukum-hukum-Nya. 
>  
> Tuhan menciptakan hewan dengan perilaku biologis yang berbeda-beda adalah 
> dalam rangka menjaga keseimbangan alam, bukan dalam rangka menata moral 
> mereka (kalau dalam rangka menata moral, kucing, ayam, atau anjing bakalan 
> malu jika dipergoki Cyntha lagi kawin..hahaha). Coba bayangkan kalau buaya 
> berpoligami, maka populasi buaya akan membengkak, dan bisa menghabiskan 
> hewan2 mangsa mereka. Ekosistem pun akan hancur karenanya. 
>  
> Jadi sungguh menggelikan kalau kamu mengkorelasikan perilaku hewan dengan 
> moral manusia dalam soal hubungan biologis. Seolah kamu ingin mengatakan 
> contohlah perilaku buaya atau baboon karena ia lebih bermoral daripada 
> seeokor ayam atau kambing (kambing sama buaya sama-sama terbahak-bahak jika 
> aku ceritakan pendapatku sama
 mereka….hahahah). 
>  
> Manusia punya kebebasan memilih. Poligami atau monogami, silakan, asal dengan 
> alasan yang dibenarkan agama. Saya tidak pernah mengecam manusia pelaku 
> monogami, sepanjang dia tidak mengecam pelaku poligami karena dirinya 
> monogami. Poligami atau monogami bisa salah dan benar, bisa baik atau buruk, 
> tergantung alasan-alasan yang mendasari pilihan manusia tersebut.  
>  
> Soal istilah “bermesraan dengan Tuhan”, 
>  
> Kalau kamu tetap tidak mengerti apa maksud “bermesraan dengan Tuhan” 
> kemungkinan ada dua sebab: pertama, ketidakmampuan saya menjelaskan konsep 
> tersebut (oleh karena aku minta maaf), atau kedua, karena nalarmu memang 
> belum sampai (karena logikamu yang antroposentris, logika horizontal, logika 
> bumi). Konsep “bermesraan dengan Tuhan” memang lebih banyak ada dalam kajian 
> ilmu tasawuf atau mistisisme, bukan kajian ibu-ibu majelis taklim yang suka
 meributkan soal poligami AA Gym, sembari mengocok arisan duit, panci, kompor, 
atau kulkas. 
>  
> Manusia dikaruniai akal bumi dan nurani, salah satu tujuannya adalah agar 
> manusia mengenal Tuhannya. “Mengenal” disini adalah memahami dzat-Nya, 
> tindakan-Nya, kehendak-Nya, dlsb. 
> Meniru Tuhan itu maksudnya berperilaku sesuai sifat2-Nya. Misalnya Tuhan itu 
> baik, maka kita juga harus berperilaku baik. Tuhan itu penuh kasih, maka kita 
> juga belajar berperilaku penuh kasih, dll. Tuhan itu santun, maka belajarlah 
> terus untuk bersikap santun. 
>  
> Kalau kamu ingin tahu Tuhan itu apa, kehendak-Nya seperti apa, 
> sifat-sifat-Nya, dan sebagainya bacalah buku-buku agama, bacalah al-Qur’an, 
> bertanyalah kepada cerdik pandai, dan lain-lain upaya agar kamu semakin 
> memahami untuk apa kamu hidup. 
>  
> Bersandar pada akal budi atau nurani saja tidak cukup. Memang ada 
> persoalan-persoalan hidup yang cukup
 diselesaikan dengan akal atau nurani, tetapi ada juga persoalan yang harus 
dituntun dengan wahyu, yang termaktub dalam kitab-kitab suci seperti al-Qur’an 
serta perilaku Nabi Muhammad saw. 
>  
> Poligami, bukanlah persoalan yang bisa dijelaskan hanya dengan akal atau 
> nurani.. Sebab, kalau cukup dengan akal nurani, tentu Allah tak akan memuat 
> persoalan itu dalam Kitab-Nya. 
>  
> Jadi daripada kamu mengajak orang untuk mencontoh perilaku hewan liar yang 
> monogami (hewan ternakan sama saja perilakunya dengan hewan liar dalam soal 
> kawin!), mendingan kamu membuka al-Qur’an, mengkaji hadits-hadits, dan 
> bertanya kepada para ulama yang berkompeten dalam soal fikih poligami. 
>  
> Salam, 
> ApikoJM
> 
> Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua temanTambahkan mereka dari 
> email atau jaringan sosial Anda sekarang!
>         Akses email lebih
 cepat.  Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 
baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)




Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!

      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat -  Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini!


      

Kirim email ke