http://www.hidayatullah.com/kolom/sekolah-revolusioner/8895-anak-harus-paham-ada-agama-selain-islam.html

Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam
Thursday, 30 July 2009 12:50

Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, 
mereka akan mengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
www.hidayatullah.com

Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di 
dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya 
sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk 
dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh 
menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: "hari libur nasional". Apa 
pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!

Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal 
persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- 
Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. 
Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya 
menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya 
yang seperti itu.Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih 
memilukan. Suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa 
"mencengangkan" . Ia berjumpa seorang non-Muslim, yang akhlaknya sangat baik. 
Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam 
bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.

Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik 
tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi 
keinginan besar menjaga akidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya 
melakukan tarbiyah, justru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan 
pada agama, justru membuat anak terperangah ketika mendapati pengalaman yang 
berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. 
Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya, 
hingga ia dewasa. Na'udzubillahi min dzaalik.

Hanya Islam yang Allah Ridhai

Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya, sehingga ia 
akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan 
agama ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui 
pembuktian yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada 
mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat 
baik. Hanya dengan meyakini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar 
bertoleransi secara tepat terhadap pemeluk agama lain. Tentang ini, silakan 
baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini di majalah Suara 
Hidayatullah kita ini.

Dalam urusan akidah, ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta'ala: 
"... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan 
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. " 
(Al-Maa'idah [5]: 3).

Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia 
ini banyak jumlahnya, tapi hanya satu yang Allah Ta'ala ridhai yaitu Islam. 
Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama 
sehingga anak bisa memahami mengapa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak 
ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya 
penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa 
hanya Islam yang Allah ridhai.

Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak secara perlahan menganggap semua 
agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali 
saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling 
diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling 
sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang 
paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat 
keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.

Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di 
dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka 
menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat, sebagaimana 
tuntunan Rasulullah. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama 
benarnya, Islam tetap diyakini paling benar.

Berislam dengan Bangga

Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang 
diridhai Allah 'Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal.

Pertama, 
kita bangkitkan kebanggaan menjadi Muslim di dada mereka. Sejak awal kita 
tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang Muslim, 
sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani 
menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim dengan penuh percaya diri, 
"Isyhadu bi anna muslimun." Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!

Kedua, 
kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai Muslim, baik 
yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya 
perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu 
yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah ada pada generasi terdahulu 
yang berasal dari didikan Rasulullah Saw dan sekarang nyaris tak kita temukan 
pada sosok kaum Muslimin di zaman ini.

Ketiga, 
kita bangkitkan pada diri mereka al wala' wal bara' sehingga memperkuat percaya 
diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan 
menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang 
sedang berjalan dari arah lain. Bukan berarti arogan. Kita hanya menunjukkan 
percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Sikap ini sangat 
perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap 
orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana 
firman Allah Ta'ala pada Surat Al-Maa'idah ayat 54. "... bersikap lemah lembut 
terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, 
yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang 
suka mencela."

Berislam dengan Ihsan

Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita 
tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang Mukmin dapat dilihat dari 
kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk 
menyejukkan. Bukan untuk menyenangkan hati orang-orang kafir karena hati yang 
lemah dan diri yang tak berdaya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan 
Rasul-Nya.

Bukankah Rasulullah berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke 
tanah pekuburan? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang 
disegani dalam sejarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan 
penuh kasih sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?

Dorongan untuk Berdakwah

Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat sebagai seorang 
Muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta 
mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari 
kebingungan terhadap masalah keimanan dan syariat. Tidak jarang anak 
mempertanyakan, bahkan mengenai sesama Muslim yang tidak melaksanakan sebagai 
syariat Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.

Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya Allah 
kebingungan itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang 
tinggi. Pada diri mereka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk 
mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya 
kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya 
diri dan orientasi hidup. 

*Wallahu a'lam bish-shawab. 
[Sahid/www.hidayatu llah.com]

------------------------------------

Ingin bergabung di zamanku? Kirim email kosong ke: 
zamanku-subscr...@yahoogroups.com

Klik: http://zamanku.blogspot.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/zamanku/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    zamanku-dig...@yahoogroups.com 
    zamanku-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    zamanku-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke